Mochtar Naim, Sosiolog Minangkabau Teguh Berprinsip

Penulis: Redaksi

Saya mungkin termasuk salah satu mahasiswa yang beruntung, mahasiswa yang bisa bertemu langsung dengan sosok Mochtar Naim. Waktu itu bertemu di tahun 2018, semester VI, tepatnya di Dekanat lantai 2. Tujuan saya saat itu ingin ke dekanat (FISIP Unand), mengurus administrasi perkuliahan sambil menunggu cap stempel dekan yang diurus melalui sekretaris dekan.

Beberapa menit menunggu, terdengar suara tapak sandal agak keras bunyinya dari tangga. Datang seorang bapak tua, menggunakan tongkat, dan badan yang telah membungkuk dari tangga. Saya dan komting angkatan sosiologi 2015 Al-Muttaqin Suddana segera memapah di kiri dan kanan bapak tua tersebut, dan langsung mengarahkan jalan ke tempat duduk terdekat.

Sambil berjalan membawa ke tempat duduk bapak tersebut bertanya kepada kami, “Anda tau siapa saya?”

“Tidak Pak” spontan kami menjawab.

“Saya yang mendirikan FISIP ini dulu.”

Di dalam hati, saya heran dan kebingungan sambil berbisik di dalam hati, “Sialah Bapak koo, baru tibo alah mangareh se.”

Kemudian bapak tersebut bercerita banyak tentang sejarah panjang berdirinya FISIP Unand yang dulu bernama Fakultas Sastra, penggabungan Fakultas Ilmu Budaya dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang kini kita kenal.

Walaupun kami sangat serius menyimak dan terkadang salah tangkap karena suara bapak tersebut agak pelan dan kurang jelas. Tapi maksud yang disampaikan kami paham dan mengerti. Lalu, di sela-sela waktu bapak itu bercerita, saya menanyakan nama beliau siapa. Namun beliau menyuruh kami untuk melihat foto-foto dokumen dan bingkai-bingkai sepucuk kata yang ada di jurusan kami (Sosiologi).

Tidak lama setelah itu keluar Dekan FISIP Dr. Alfan Miko, M.Si, yang juga dosen Pembimbing Akademik (PA) saya, dari ruangan dekan. Dia melihat kami sedang mengobrol. Dari pintu ruangan, Pak Alfan Miko melihat kami dengan pandangan yang tajam, terutama ke bapak tersebut.

Setelah memastikan, segera Pak Alfan Miko menyambut bapak tersebut sambil mengatakan “Eeehh Pak Mochtar Naim maa, masuak pak, masuak pak ka ruangan ambo, lai sehat pak?”

Dari percakapan Pak Alfan Miko tersebut saya mulai tahu bahwa ternyata bapak tersebut adalah Mochtar Naim, founding father yang mendirikan Fakultas Sastra (FIB dan FISIP Unand sekarang). Segera ketika itu saya searching di laman pencarian “Mochtar Naim”, maka tersingkaplah siapa beliau. Setelah cari tahu dan saya ikuti ternyata beliau seorang ilmuwan besar Minangkabau yang namanya telah disoroti dunia akademisi nasional bahkan internasional.

Bagaimana tidak, beliau mendapatkan gelar magister dan doktor dari luar negeri. S2 di Universitas McGill Kanada dan S3 di University of Singapore. Maka, tidak heran ketika beliau berbicara agak meninggi dari segi bahasa ketika itu. Ketika menanyakan siapa orang yang mendirikan Fakultas Sastra ini, ketika saya bertemu pertama di Dekanat lantai 2 tersebut.

Selain namanya yang sudah membubung tinggi sebagai seorang sosiolog Minangkabau, beliau bukan hanya sebagai seorang akademisi. Terlihat dari buku yang ada di labor Jurusan Sosiologi Fisip Unand, beliau juga seorang politisi, yaitu pernah menjadi anggota DPD-RI periode 2004-2009 perwakilan Sumatra Barat.

Dari buku di labor Jurusan Sosiologi yang saya baca, bercerita tentang perjalanan kunjungan kerja beliau ketika menjabat sebagai senator Sumbar. Buku tersebut berisi kumpulan pidato, sambutan, pandangan, dan arah pemikiran beliau sebagai seorang politisi.

“Kareh Kapalo”

Kenapa saya memberi sub-judul bahwa beliau seorang kareh kapalo? Tidak lain karena beliau memiliki cita-cita yang tidak pernah padam sebagai seorang sosiolog. Beliau yang kita kenal diketahui bersama sangat memperjuangkan yang namanya pendirian Daerah Istimewa Minangkabau (DIM), tanah kelahirannya. Saya tahu cita-cita beliau ini karena saya sudah mengikuti dari tahun 2018 saat itu.

Bahkan, dapat kabar dari salah seorang senior FISIP yang saya kenal, ide pendirian Daerah Istimewa Minangkabau (DIM) sebenarnya sudah pernah di seminar-kan di Unand pada tahun 2016 saat saya duduk di semester tiga. Dari situlah, saya tertarik meneliti wacana pendirian DIM ini dari hari ke hari yang akhirnya saya putuskan untuk menjadikan wacana ini sebagai penelitian skripsi saya.

Singkatnya, saat ingin mewawancarai sebagai seorang informan utama, saya tidak pernah berhasil karena ketika tahun itu (dari 2018) beliau sudah menetap di Depok, Jawa Barat. Saya coba kirim email, chat WA, dan beberapa upaya lainnya. Namun tidak kunjung dibalas dan tidak ada respons sama sekali.

Karena kondisi tersebut saya pending dulu untuk mewawancarai beliau dan saya mencukupkan dengan mewawancarai informan yang berdomisili di Kota Padang saja. Karena Kota Padang tempat berkumpulnya seluruh tokoh-tokoh yang pernah diundang Mochtar Naim untuk merumuskan pendirian wacana DIM.

Alhasil, pada tahun 2019 dan 2020, wacana pendirian DIM kembali ramai diperbincangkan yang dipicu oleh komentar pusat bahwa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) bukan isu nasional.

Akhirnya, ributlah masyarakat Minang untuk kembali memperjuangkan Daerah Istimewa Minangkabau sebagai pengakuan terhadap warga Sumatra Barat yang telah berjasa terhadap proses mempertahankan, merebutkan kembali kemerdekaan Indonesia saat akan diambil alih kolonial Belanda dan Jepang ketika itu.

Singkatnya, tepat pada bulan Ramadan tahun 2020, saat pandemi Covid-19 sudah melanda, webinar mengenai DIM kembali diangkat dan sebagai keynote speaker-nya adalah Mochtar Naim sendiri.

Ini kesempatan bagi saya untuk menggali lebih dalam tentang cita-cita beliau tersebut. Saya mengikuti webinar tersebut dengan seksama, bahwa beliau tetap bersikeras bahwa Sumatra Barat harus menjadi Daerah Istimewa Minangkabau disaat mayoritas tokoh-tokoh minang menolak.

Dari sikap keras beliau tersebut saya belajar bahwa beliau merupakan seorang tokoh yang gigih mempertahankan prinsip yang dipegang tanpa goyah sedikitpun walaupun kebanyakan tokoh-tokoh menolaknya dengan tegas. Meskipun secara umur beliau udah 87 tahun.

Kesimpulan saya sebagai mahasiswa FISIP Unand dari beberapa pertemuan dengan beliau baik offline maupun online, bahwa beliau seorang yang pantang mundur dengan prinsip, teguh dan tidak goyah sedikitpun dengan cita-cita luhur yang ingin diwujudkan.

Sebagai mahasiswa, saya mengakui kepakaran beliau di bidang sosiolog Minangkabau yang sudah tahu banyak hal tentang seluk-beluk suku Minangkabau khususnya di daerah dan di rantau.

Baca juga: Mochtar Naim Berpulang, Sosiolog dan Antropolog yang Penuh Gagasan dan Berani

Semoga kepulangan beliau mendapat tempat terbaik di sisi-Nya, diletakkan dengan catatan baik-Nya. Khususnya warga FIB dan FISIP Unand. Tentu sangat kehilangan sekali sosok sosiolog murni Minangkabau ini. Berpikir keras untuk kemajuan Minangkabau kampung tempat di mana ia lahir dan dibesarkan. (*)


Penulis: Muhammad Irsyad Suardi, Mahasiswa Magister Sosiologi Universitas Andalas

Terpopuler