Mochtar Naim Berpulang, Sosiolog dan Antropolog yang Penuh Gagasan dan Berani

Penulis: Redaksi

Padang, Padangkita.com – Sumatra Barat (Sumbar) kembali berduka, kehilangan salah seorang putra terbaik. Mochtar Naim, sosiolog dan antropolog yang juga cendekiawan banyak bidang ilmu pengetahuan, berpulang sekitar pukul 11.00 WIB hari ini, Minggu (15/8/2021).

Salah seorang kerabatnya, Alfan Miko, dosen Universitas Andalas (Unand), menyebutkan mantan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI itu mengembuskan napas terakhir saat dirawat di RS Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, dalam usia 89 tahun.

Rencananya, Mochtar Naim dimakamkan di Jakarta, karena semua anak-anak dan keluarga terdekatnya memang tinggal di Jakarta.

“Beliau memang sudah lama tinggal di Jakarta bersama anak beliau. Dan, memang karena umur sebelumnya beliau memang sering sakit,” kata Alfan Miko ketika dihubungi Padangkita.com.

Mochtar Naim berasal dari Taluak, Banuhampu, Kabupaten Agam. Namun ia lahir di Sungai Penuh, 22 Desember 1932. Ia adalah pendiri Fakultas Sastra Unand, yang kemudian berkembang lagi dengan adanya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).

“Awalnya, beliau menjadi dosen pada Fakultas Pertanian Unand. Lalu sekitar tahun ’80 mendirikan Fakultas Sastra dan Ilmu-ilmu Sosial,” kata Alfan yang juga mantan Dekan FISIP Unand.

Sumbangan pemikiran Moctar Naim, tak terbatas hanya untuk pendidikan. Namun sebagai pemikir, Mochtar Naim juga aktif menyumbangkan gagasan untuk daerah, bahkan bangsa ini.

Selain menjadi dosen tamu di berbagai perguruan tinggi di luar negeri, Mochtar Naim juga punya banyak buku dan tulisan soal sosial kemasyarakatan. Tak itu saja, Mochtar Naim, kata Alfan Miko, juga menulis buku “tafsir” Al-Quran.

“Ilmu agama beliau sangan luas dan dalam. Saya punya beberapa jilid buku beliau tentang terjemahan ayat-ayat Al-Quran,” kata Alfan Miko.

Namun, karya yang paling terkenal Mochtar Naim hingga ke luar negeri dan banyak menjadi referensi adalah disertasinya yang sudah menjadi buku “Merantau sebagai Pola Migrasi Minangkabau”.

“Beliau banyak diundang ke luar negeri bicara soal itu,” ulas Alfan Miko.

Kecuali itu, Mochtar Naim juga konseptor dan inisiator tentang wacana Daerah Istimewa Minangkabau (DIM) yang sempat kembali mencuat baru-baru ini. Sebagai sosiolog, Mochtar Naim punya kajian dan argumentasi yang kuat dan lengkap soal wacana DIM ini.

Ketika menjadi anggota DPD periode 2004-2009, Mochtar Naim telah menunjukkan bagaimana seorang senator bekerja dan mengakhiri tugasnya. Mochtar Naim membuat laporan pertanggungjawaban tertulis yang lengkap dan menjadi sebuah buku.

“Beliau memberi contoh. Laporan pertanggungjawaban itu tebal sekali,” ujar Alfan Miko.

Menurut Alfan Miko, sosok Moctar Naim adalah tokoh yang penuh gagasan, kritis dan berani.

Baca juga: Daerah Istimewa Minangkabau

“Saya mahasiswa beliau. Waktu orde baru pun beliau tak pernah takut menyampaikan kritik dan gagasan. Kita kehilangan tokoh hebat,” kata Alfan Miko. (*/pkt)

Terpopuler

Add New Playlist