Minang Kayo, Galeri Kecintaan Arek Malang di Bumi Serambi Mekah

Penulis: Redaksi

Padang Panjang, Padangkita.com – Panjang sudah daftar kekaguman yang ditorehkan oleh mereka yang bukan kaum pribumi terhadap Ranah Minang. Meski tidak berdarah keturunan Sumatera Barat, rasa cinta mereka pada kekayaan alam, adat, dan budaya Minangkabau tidak bisa dipandang sebelah mata.

Sebut saja Lagu Nasi Padang yang dipopulerkan musisi asal Norwegia, Audun Kvitland. Kecintaannya pada masakan Minang, digubahnya menjadi sebuah lirik lagu yang kemudian viral. Banyak lagi yang seperti Kvitland, baik dari perantau Eropa begitu pula Nusantara.

Minang Kayo, salah satu bukti lainnya. Jika Nasi Padang berbentuk lagu, Minang Kayo adalah Galeri Cenderamata di Bumi Serambi Mekah, Kota Padang Panjang.

Sukses menjadi pusat fesyen berbahan kulit, Minang Kayo ternyata lahir dari kecintaan pemiliknya yang berdarah Jawa. Priskurniawati, sang owner berasal dari Malang, Jawa Timur.

Pris mengaku sudah tertarik dengan Minangkabau sejak dia menempuh pendidikan SLTA. Kala itu, dia sangat tertarik dengan keindahan Ngarai Sianok. Bukan hanya Ngarai Sianok, keragaman budaya adat Minangkabau juga membuatnya jatuh cinta dengan Ranah Minang.

Setelah menamatkan SLTA, dia hidup mandiri dan bekerja di Batam kurang lebih lima tahun.

Pris lalu menikah dengan laki-laki keturunan Jambi, asal Kota Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci. Di Jambi, dia dan suaminya sempat memulai bisnis travel. Tapi tidak berlanjut lantaran beberapa kendala yang tidak ia jelaskan.

Pada tahun 2008 dia dan suami merantau ke Sumatera Barat tepatnya di Kota Bukittinggi dan membuka galeri cenderamata berbahan dasar kulit. Seperti capal datuak berupa sendal yang sering dipakai para datuak.

Karena banyaknya peminat dan bagusnya pasaran produk kulit, dari sanalah awal mula ia tertarik untuk mengembangkan bisnis kulit miliknya.

Pada tahun 2014, dia diundang ke Galeri Senja Kenangan (Sentra Jajanan, Kerajinan dan Makanan-red) Kota Padang Panjang yang dikelola Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM. Di situ dia difasilitasi untuk memajang hasil produknya seperti capal datuak, sendal kulit dan topi.

Di sinilah Priskurniawati bertemu dengan pengrajin kulit dan saling sharing untuk mengembangkan usaha berbahan kulit ini. Karena Padang Panjang merupakan daerah sentra kulit, namun belum memiliki galeri fashion dari kulit yang booming. Di sini peluang yang harus dikembangkan.

Akhirnya muncullah ide untuk memanfaatkan peluang dan membuat fashion oleh-oleh dari kulit khas Padang Panjang. Hal ini menjadi motivasi untuknya membuka galeri sentral kulit.

Pada tahun 2014 itu, Pris memulai membuka galeri kulit di kawasan Air Terjun Lembah Anai. Usahanya terus berkembang. Di tahun 2016, dia membuka Galeri Sentral Kulit yang diberi nama “Minang Kayo” dan melakukan produksi di sana. Tepatnya di Jalan ST. Syahrir, Gang Sepakat 1 No. 2 B, Silaing Bawah dekat kawasan arah ke Mifan.

“Terbentuknya Minang Kayo, karena terinspirasi dari rasa cinta kami terhadap budaya Minangkabau. Pemilihan nama Minang Kayo, salah satunya karena Minang kaya dengan adat, budaya, dan tradisi. Sedangkan di Kerinci, kata ‘Kayo’ itu merupakan panggilan untuk kakak. Karena suami suami saya berasal dari Sungai Penuh, Kerinci,” ceritanya kepada Kominfo Padang Panjang.

Di Minang Kayo, Pris memproduksi dan menjual berbagai macam produk kulit. Seperti capal datuak, sendal kulit, topi, tas, dompet dan lain-lain. Bahan-bahan kulit yang digunakan berupa kulit sapi, kambing, domba, dan kerbau.

Penjualan produknya sudah sampai ke luar negeri. Seperti Malaysia, Singapura dan Brunei. Harga yang ditawarkan mulai dari Rp 10.000 hingga jutaan.

Saat ini Minang Kayo memiliki dua galeri, di Lembah Anai dan di Silaing Bawah. Tidak hanya fokus penjualan di galeri, dia juga memasarkan secara online di media sosial dan di marketplace seperti Shopee dan Tokopedia.

Diskominfo Padang Panjang bersama Owner Minang Kayo, Priskurniawati. (Foto: Diskominfo Padang Panjang)

Pris mengaku sebelum masa pandemi, omzet penjualan bisa mencapai Rp350 juta. Namun setelah pandemi muncul, omzet turun drastis. Hanya Rp20 jutaan perbulan.

Ia menyiasati kondisi ini dengan melakukan pengurangan karyawan, hingga menyesuaikan harga produk.

“Produksi di pabrik Minang Kayo dihentikan dan fokus di Senja Kenangan saja. Ini bertujuan untuk mengurangi ongkos produksi. Saya berharap pandemi ini cepat berlalu. Sehingga ekonomi kembali membaik seperti dulu,” ucapnya singkat. (*/Nurjanatil Husni/Nur Azizah /Kominfo)

Terpopuler