“Manjalang Mintuo” Cukup Video Call, Ziarah Kubur Ditunda Dulu

Tradisi di Minang yang Berubah karena Penyebaran Covid-19

Penulis: Redaksi

Padang, Padangkita.com – Penyebaran virus Corona atau Covid-19 yang hingga kini belum tertanggulangi di banyak negara, telah memaksa manusia mengubah banyak perilaku dan kebiasaan.

Di Sumatra Barat (Sumbar) atau dalam tradisi masyarakat yang memakai adat minang, beberapa kebiasaan atau budaya juga terpaksa tak dijalankan dulu. Semisal tradisi “manjalang mintuo” (mengunjungi/bersilaturahmi ke rumah mertua) dan ziarah ke makam orangtua.

Tradisi “manjalang mintuo” terpaksa ditinggalkan, karena ingin membatasi kunjungan untuk menekan penyebaran Covid-19. Apalagi di Sumbar sedang diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Sosial (PSBB), dengan banyak sekali hal-hal yang dibatasi.

Lagi pula mertua sendiri juga banyak yang melarang menantunya datang, karena ingin melakukan pembatasan menjaga jarak yang dikenal dengan social distancing dan physical distancing.

“Biasanya bawa kue bolu besar setiap mau puasa (ke rumah mertua). Namun karena Corona, mertua maklum dan meminta di rumah saja,” kata Lili, salah seorang warga Padang, Kamis (23/4/2020).

Baca juga: Kapolda Sumbar: Jangan “Balimau” Sambut Ramadan Kali Ini

Ia mengatakan, mertuanya juga sangat memaklumi keadaan, sehingga memahami menantunya tidak datang berkunjung. Sebagai gantinya ia hanya melakukan video call atau panggilan video dengan mertua dan anggota keluarga lainnya.

“Rasanya memang sangat berbeda dengan puasa-puasa sebelumnya. Suka tidak suka tetap harus diterima,” tambahnya.

Sementara itu, Ayu, salah seorang pedagang kue, mengaku sangat merasakan penurunan penjualan kuenya. Biasanya, kata Ayu, bisa terjual lebih dari 50 kue bolu besar, setiap hari “manjalang mintuo”, beberapa hari menjelang Puasa.

“Masyarakat banyak yang jatuh miskin karena Corona ini. Kami lakukan antisipasi dengan tidak membuat banyak kue,” kata Ayu.

Ia berdoa agar pandemi Covid-19 segera berakhir, sehingga semua kembali normal. Ayu khawatir usaha penjualan kuenya bisa bangkrut, jika keadaan tak juga membaik.

Tunggul Hitam Sepi Peziarah

Pada bagian lain, beberapa hari jelang masuk Ramadan tempat pemakaman ramai dikunjungi warga yang berziarah. Salah satu tempat pemakaman itu adalah TPU Tunggul Hitam. Namun, Covid-19 membuat kebiasaan itu berbeda pada jelang Ramadan 1441 H ini.

Kali ini, tradisi ziarah kubur di TPU Tunggul Hitam tampak sepi. Pemerintah memang menganjurkan agar ziarah untuk tahun ini tidak dilakukan dulu.

Perawat kuburan atau penjual jasa membersihkan kuburuan, Weni, 30 tahun, mengungkapkan suasana tahun ini memang jauh berbeda.

“Tahun ini, hanya satu dua keluarga yang melakukan ziarah. Ini karena Corona,” kata Weni yang ditemui Kamis (23/4/2020) siang di TPU Tunggul Hitam.

Sebagai penjual jasa untuk membersihkan kuburan, kondisi sekarang jelas merugikan Weni. Penghasilannya dibanding tahun lalu jauh menurun.

Weni mengaku hanya lima kuburan yang sudah dibersihkan sejak jam delapan pagi. Berbeda jauh dengan tahun sebelumnya, yang satu hari bisa 30 kuburan dibersihkannya.

“Peziarah sepi. Sejak pagi baru lima kuburan dibersihkan, tidak seperti tahun sebelumnya, jelang Ramadan bisa 30 kuburan,” kata Weni yang menolak menyebut berapa penghasilannya dari menjual jasa membersihkan kuburan. (*)


Baca berita Sumatra Barat terbaru hanya di Padangkita.com

Terpopuler