Laboratorium Terbaik yang Jadi Percontohan Kesulitan Keuangan, Perhatian Pemprov Sumbar Dipertanyakan

Penulis: Redaksi

Padang, Padangkita.com – Laboratorium Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Andalas (Unand) jadi perbincangan luas sepanjang Selasa (3/8/2021). Mulai dari diskusi di grup-grup WhatsApp hingga jadi pemberitaan hampir di semua media di Sumatra Barat (Sumbar).

Tidak sampai di situ, diskusi atau pembicaraan tersebut berbuah gerakan penggalangan donasi untuk membantu membiayai laboratorium yang bernama lengkap Laboratorium Diagnostik dan Riset Terpadu Penyakit Infeksi FK Unand tersebut.

Hingga kemarin sore, donasi yang telah berhasil dikumpulkan melalui gerakan yang diinisiasi “Kawal Covid-19” Sumbar itu telah mencapai Rp60 juta.

Ya, laboratorium terbaik di Indonesia dalam pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Reaction) untuk mendeteksi virus Corona (Covid-19) itu, kini sedang kesulitan keuangan. Meskipun kinerja laboratorium ini tidak pernah mengecewakan dan menjadi andalan untuk menanggulangi Corona di Sumbar.

Persoalan keuangan yang dihadapi laboratorium yang sering memecahkan rekor terbanyak memeriksa PCR, secara harian ini, sebetulnya sudah mulai terjadi sejak awal 2021. Bantuan biaya dari Pemmerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar disetop.

Namun, mengemuka ke publik sejak rusaknya dua alat ekstraksi di laboratorium tersebut, sekitar dua pekan lalu. Alat tersebut rusak bersamaan dengan melonjaknya kasus Corona di Sumbar. Akibatnya, tenaga laboratorium harus bekerja ekstra keras, karena harus melakukan pemeriksaan secara manual.

Sebagai pemimpin laboratorium, dr Andani Eka Putra pun mulai bicara. Bahwa, meskipun para anggotanya—begitu Andani menyebut tenaga yang bekerja di laboratorium—bekerja tanpa kenal istirahat, tetapi tetap tidak ada perhatian dari pemerintah daerah.

Meski begitu, komitmennya untuk mempercepat pemeriksaan PCR tak pernah berubah.

“Ini demi masyarakat Sumbar. Meskipun pemeriksaan manual, kami tetap berusaha mempercepat hasil pemeriksaan,” ujar Andani kepada Padangkita.com waktu itu.

Namun, kondisi keuangan laboratorium untuk membiayai semua pemeriksaan PCR se-Sumbar, mencapai titik terparah. Keuangan laboratorium tak mampu lagi. Sehingga, di salah satu pintu laboratorium pun ditempel sebuah pengumuman. Foto pengumuman itu kemudian menyebar luas.

Isinya: Mengingat belum adanya pendanaan dari Pemprov Sumbar, maka kami mohon donasi untuk setiap pengambilan swab yang dilakukan di FK Unand untuk biaya consumables. Donasi tidak memaksa dan tidak ada ketentuan jumlah. Terimakasih.

Laboratorium yang Jadi Percontohan

Laboratorium FK Unand yang terletak di kampus Unand Limau Manis Padang ini, secara resmi mulai beroperasi pada Selasa (24/3/2020) tahun lalu. Irwan Prayitno yang jadi Gubernur Sumbar ketika itu, meninjau langsung kesiapan laboratorium tersebut.

Waktu itu baru ada 12 laboratorium di Indonesia, salah satunya Laboratorium FK Unand yang ditunjuk pemerintah untuk memeriksa PCR. Penunjukan itu tertuang dalam Surat Keputusan Menkes No.HK.01.07/MENKES/182/2020 tentang Jejaring Laboratorium Pemeriksaan Covid-19.

Kemampuan laboratorium di bawah pimpinan Andani Eka Putra ini kemudian mencuri perhatian nasional. Sebab, ribuan sampel bisa diperiksa dan diketahui hasilnya hanya dalam tempo 24 jam.

Saat kasus Covid-19 gelombang pertama meledak di Jakarta, Jawa Timur dan di sejumlah daerah lainnya di Indonesia, Andani dengan laboratoriumnya dijadikan contoh. Andani pun diundang dan “dipakai” di mana-mana untuk membantu peningkatan kemampuan pemeriksaan di banyak laboratorium.

Sebab, tanpa labaratorium yang mamadai, mustahil menanggulangi Covid-19 secara efektif. Dapat dibayangkan, jika pemeriksaan Corona harus menunggu berhari-hari bagaimana memastikan orang yang suspek tidak ke mana-mana. Pelacakan kasus atau tracing pun tak akan ada artinya memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Kini Indonesia tengah menghadapi gelombang kedua virus Corona yang makin ganas yang disebut varian Delta dan varian Delta plus plus. Di Sumbar, kemungkinan besar varian baru Corona ini telah menyebar. Sebab, kasus harian Covid-19 sejak sebulan lalu terus melonjak di atas 1.000 kasus per hari.

Otomatis jumlah pemeriksaan sampel spesimen pun meningkat tajam. Laboratorium FK Unand pun harus memeriksa hingga 7.000 sampel per hari. Sejalan dengan itu, tingkat temuan kasus atau positivity rate (PR) pun meningkat di atas 20%. Akibatnya, kerja laboratorium makin keras.

Bekerja di Tengah “Sunyi”

Laboratorium FK Unand seperti bekerja dalam sunyi di tengah hiruk-pikuknya penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Pemerintah daerah sibuk mengurus orang-orang yang berkumpul, membatasi kegiatan masyarakat, tetapi alpa pada laboratorium.

Kepada Padangkita.com, Andani membuka apa yang tengah dihadapi. Sebanyak 140 pekerja laboratorium yang sebagian besar adalah mahasiswanya sendiri harus bekerja siang malam. Tanpa insentif, tanpa uang makan dan tanpa motivasi apapun dari pemerintah daerah.

Baca juga: Pemprov Sumbar Dinilai Tak Peduli pada Laboratorium Unand, Padahal Pemeriksaan PCR Gratis  

Ia pun sempat mengungkapkan kekesalannya pada pemerintah daerah, ketika ditanya soal alat ekstraksi tes PCR yan rusak.

“Diperbaiki atau diganti alat tersebut, tetap saya yang memikirkan. Tak ada perhatian Pemprov. Bahkan, reagen dan tenaga hingga kini tak ada yang dibantu,” ujar Andani yang juga Tenaga Ahli Menteri Kesehatan.

Andani pantas kesal. Betapa tidak, pemeriksaan semua sampel di laboratorium yang dipimpinnya tak pernah dibayar alias gratis. Sementara di provinsi lain, semua laboratorium menetapkan tarif sendiri.

Sekadar diketahui, untuk pemeriksaan PCR jelas tidak murah. Harganya bisa mencapai Rp900 ribu per sampel. Harga ini merupakan tarif tertinggi sesuai surat edaran Menkes No. HK02/02/I/3713/2020.

Jika pemeriksaan sampel hingga 7.000 per hari, setidaknya biaya yang harus dibayarkan ke laboratorium Unand Rp6,3 miliar per hari. Sebulannya, bisa mencapai Rp189 miliar.

Kini, pemerintah daerah tak perlu memikirkan biaya reagen yang mahal. Namun kebutuhan laboratorium bukan hanya reagen, tetapi juga banyak alat atau bahan sekali pakai (consumables). Belum lagi butuh banyak tenaga yang harus siap kena risiko tertular Covid-19.

Baca juga: Laboratorium Unand Buka Donasi untuk Periksa Swab, Ini Saran DPRD Sumbar kepada Gubernur Mahyeldi

Jadi, sebetulnya tidak ada alasan menunda-nunda bantuan untuk laboratorium terbaik ini. Sebab, jika bukan Andani yang memimpin, bisa jadi laboratorium tersebut ditutup atau dikenakan tarif tiap pemeriksaan sampel. Sanggup? (*/pkt)  

Terpopuler