Kisah Usaha “Apa Basi” Kajai Tepi Selo, Produksi Meningkat karena Banyak yang Jadi Petani Akibat Pandemi

Penulis: Redaksi

Batusangkar, Padangkita.com – Di Kabupaten Tanah Datar, Suamatra Barat (Sumbar), ada sebuah kawasan penghasil perkakas atau alat dari besi atau baja yang telah dikenal sejak tahun 1950-an.

Kawasan yang memproduksi perkakas lewat proses yang dinamakan apa basi atau apar besi ini adalah Jorong Kajai, Nagari Tepi Selo, Kecamatan Lintau Buo Utara. Hingga kini usaha apar besi ini tetap eksis, bahkan makin produktif sejak pandemi Covid-19 awal 2020 lalu.

Pantauan Padangkita.com, di Jorong Kajai Tepi Selo ini setidaknya ada 40 usaha apar besi yang dikelola secara turun-temurun. Sejalan dengan makin banyaknya warga yang banting setir jadi petani, orderan perkakas pertanian pun melonjak tajam.

Meski sudah ada sejak lama, namun usaha apar besi di Jorong Kajai Tepi Selo hingga kini belum menggunakan teknologi modern atau alat-alat pabrikan. Mereka tetap memproduksi perkakas secara manual mengandalkan keterampilan pengrajin.

Mulai dari membakar, menempa dan membentuk bahan baku besi atau baja menjadi perkakas dilakukan secara manual. Dari tangan mereka kemudian menghasilkan parang, sabit, arit, pisau menyadap karet, dan berbagai jenis perkakas dari besi lainnya.

Produksi perkakas dari Jorong Kajai Tepi Selo ini, tidk hanya mengisi pasar Sumbar, tetapi juga telah masuk ke berbagai daerah, bahkan merambah ke  Pulau Jawa.

Hermizal, 40 tahun, salah seorang pengrajin apar besi yang ditemui di tempat usahanya yang mirip bengkel, mengaku kewalahan memenuhi permintaan yang melonjak sejak pandemi Covid-19.

Terutama soal tenaga kerja yang punya keterampilan mengolah besi secara manual. Sebab, usahanya memang tidak punya peralatan modern untuk menghasilkan perkakas.

Kecuali itu, kata Hermizal, nyaris tidak ada masalah dalam usahanya. Bahan baku berupa besi atau baja serta batu bara untuk membakar baha baku, yang didatangkan dari Riau, sejauh ini masih lancar

“Untuk bahan baku hingga sejauh ini masih aman dan lancar, baik batu bara untuk membakar, maupun bahan besi bajanya, karena kami memang langganan sejak dari dahulu,” ujar Hermizal ketika berbincang dengan Padangkita.com, Senin (16/8/2021).

Sembari terus melakukan pekerjaannya menempa besi, pria yang akrab dipanggil Can itu menyebutkan, dalam sehari dia bisa memproduksi sekitar 20 pisau sadap karet atau beberapa jenis produk lainnya. Namun, jumlah itu bisa saja lebih sedikit jika ada yang datang minta memperbaiki perkakas atau alat pertanian.

Soal jenis produknya, kata Hermizal, bisa ia hasilkan sesuai permintaan. Namun, tentu lama pengerjaan dan harga sesuai dengan tingkat kesulitan dari alat yang dipesan.

“Apapun rupa produk dari besi ini bisa dibuat. Turunanya tentu bisa divariasikan dengan membuat tangkai atau sarung berupa ukiran untuk mempercantik produk. Nah, kendalanya saat ini tidak banyak yang bisa melakukan itu. Jadi saya harus buat sendiri,” tuturnya.

Ditanya soal omzetnya, Can enggan membuka. Namun, rata-rata perkakas atau alat yang diproduksinya berharga ratusan ribu rupiah.

“Untuk satu produk kita menjual dengan harga kisaran Rp30 ribu sampai Rp250 ribu, tergantung jenis alatnya,” terangnya.

Kini, sejalan dengan lonjakan permintaan, Can makin sering membeli bahan baku. Biasanya ia cuma memesan sekali seminggu ke Riau, kini menjadi dua kali seminggu.

Namun, itu tadi, ia tak bisa serta merta bisa meningkatkan jumlah produksi dalam jumlah yang banyak. Sebab, semua proses dilakukan secara manual.

Terpopuler