Kisah Relawan Pemakaman Jenazah Pasien Covid-19 di Pasaman Barat

Penulis: Ahmad Romi

Simpang Empat, Padangkita.com – Ini bukan tentang pejabat yang menerima honor puluhan juta dari pemakaman jenazah pasien Covid-19. Namun, ini adalah kisah relawan yang benar-benar bekerja di lapangan.

Namanya Yoki Yuliandani, relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Pasaman Barat (Pasbar). Sejak 2 bulan terakhir, sejalan dengan meningkatnya kasus Covid-19, ia dan teman-temannya makin sibuk.

Tak peduli siang atau malam, bahkan dini hari. Jika panggilan datang, dia dan rekan-rekannya segera berangkat.

Di Pasbar, atas kesepakatan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, maka semua jenazah pasien Covid-19 mesti dilenggarakan dengan protokol kesehatan (prokes). Pekerjaannya, sepenuhnya diserahkan kepada PMI.

Laki-laki yang akrab disapa Yoki ini bercerita, bahwa ia telah bergabung sebagai relawan PMI sejak tahun 2015. Ketika itu ia masih mahasiswa, sehingga bergabung dalam Korps Sukarela (KSR) PMI unit STIE Yayasan Pendidikan Pasaman.

Sejak pandemi Covid-19, ia terjun langsung menjadi relawan yang menyelenggarakan jenazah. Di Pasbar, tercatat tercatat sebanyak 146 orang pasien positif Covid-19 yang meninggal dunia. Jumlah itu melonjak sejak 2 bulan terakhir. Hampir setiap hari ada pasien Covid-19 yang meninggal dunia.

Berbeda dengan daerah lain yang mungkin punya lokasi khusus pemakaman jenazah pasien Covid-19, di Pasbar jenazah pasien Covid-19 tetap dimakamkan di pemakaman umum.

Namun, dalam penyelenggaraan pemakaman jenazah yang harus berjalan sesuai dengan protokol kesehatan. Salah satunya, semua petugas pemakaman diwajibkan menggunakan alat pelindung diri (APD), mulai pengantaran hingga proses pemakaman selesai.

“Untuk di Pasbar memang tim pemakaman itu adalah dari PMI. Itu sesuai dengan hasil kesepakatan bersama dengan satuan tugas (Satgas) Covid-19,” kata Yoki saat berbincang dengan Padangkita.com di Simpang Empat, Selasa (31/8/2021).

Yoki mengisahkan dirinya bersama dengan tim pemakaman mulai membantu proses pemakaman pasien terkonfirmasi positif Covid-19 sejak pertengahan bulan puasa tahun 2020.

“Hingga saat ini saya bersama dengan rekan-rekan sudah membantu proses pemakaman pasien Covid-19 sebanyak 60 jenazah pasien Covid-19,” sebutnya.

Berbagai suka duka dialami Yoki dan teman-temannya. Mulai dari penugasan yang tidak mengenal waktu, hingga harus menghadapi penolakan warga.

Tak jarang, Yoki mendapat perlakuan kurang baik dari keluarga pasien atau masyarakat yang menolak pemakaman sesuai protokol kesehatan.

Sehingga, kata-kata kasar warga atau keluarga pasien pun bukan lagi hal baru bagi Yoki. Namun, menurut dia, hal itu tidak pernah menjadi pikiran. Bahkan, kata Yoki, dari hal-hal seperti itu ia dan teman-temannya banyak memetikhikmah.

“Dari itu semua akhirnya kita menyadari bahwa setiap permasalahan yang ada itu harus dihadapi dengan kepala dingin. Kekompakan di dalam tim adalah senjata paling ampuh dalam menyelesaikan setiap pekerjaan,” ungkap Yoki.

Hal yang paling berkesan bagi dia adalah ketika dia ditunjuk menjadi koordinator lapangan tim pemakaman Covid-19. Meski baru pertama kali, namun ternyata anggota timnya sangat mendukung.

“Alhamdulillah saya punya tim yang siap bekerja tanpa mengenal waktu. Kapan saja kami menerima informasi adanya pasien positif Covid-19 meninggal dunia, seluruh tim langsung siap untuk bekerja,” tutur Yoki.

Menyelenggarakan jenazah pukul 02.00 WIB dini hari dan baru selesai pukul 05.00 WIB pun sudah biasa bagai Yoki dan kawan-kawan.

Yoki yang saat ini menjabat sebagai staf divisi layanan di PMI Pasbar menegaskan, dalam bekerja mereka tidak pernah memandang yang namanya upah ataupun honor. Mereka pun tidak pernah menuntut.

Namun, Yoki mengaku, setiap menyelenggarakan jenazah mereka memang menerima Rp100 ribu per orang.

“Kita di PMI ini untuk menjalankan misi kemanusiaan. Jadi tidak harus ada imbalannya baru bekerja. Kalau ada, kita terima saja tanpa menuntut apa-apa lagi,” tegasnya.

Ia berharap pandemi Covid-19 segera berakhir. Namun setidaknya semua masyarakat dapat benar-benar mengerti akan bahaya Covid-19, sehingga selalu disiplin menjalankan protokol kesehatan.

Baca juga: 12.180 Dosis Vaksin Moderna Telah Tiba di Pasbar Untuk Nakes dan Masyarakat Umum

“Covid-19 itu benar-benar ada dan bukan hanya bahan guyonan semata atau senjata yang digunakan pemerintah untuk menakut-nakuti masyarakatnya.  Untuk itu bantu kami untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, kita semua sudah lelah, yuk patuhi protokol kesehatan,” harapnya. (rom/pkt)

Terpopuler