Kisah Jatuh Bangun Usaha Kue Pilin Bersaudara hingga Jadi Kuliner Khas Padang Ganting

Penulis: Redaksi

Batusangkar, Padangkita.com – Usaha Kue Pilin Bersaudara memang belum besar. Namun, produknya yang berupa kue pilin kini telah menjadi oleh-oleh khas dari Padang Ganting, Tanah Datar.

Usaha Kue Pilin Bersaudara terletak di kawasan Pinus, Nagari Padang Ganting, Kecamatan Padang Ganting.

Usaha kue ini mulai dirintis sejak 2011 silam oleh Desri Winda, 35 tahun, bersama bibinya Nurmi Rosinta, 47 tahun. Sempat mengalami pasang surut, kini usaha keluarga ini telah menjadi salah satu ikon kuliner dari Padang Ganting.

Padangkita.com mengunjungi langsung tempat usaha kue pilin ini, Selasa (31/5/2022). Usaha kue ini berada di pinggir jalan Batusangkar – Lintau, tepatnya di kawasan Pinus, Jorong Koto Godang Hilia, Nagari Padang Ganting, Kecamatan Padang Ganting.

Nurmi Rosinta menuturkan usaha kue yang dirintisnya memang bermula secara kecil-kecilan. Sebelumnya, Nurmi bekerja pada salah seorang pengusaha kue pilin yang ada di area itu. Kemudian, ia memtuskan untuk berusaha sendiri dengan keluarganya.

“Awalnya kami bekerja pada orang, kemudian kami membuka usaha sendiri secara kecil-kecilan,” ujar Nurmi.

Usaha kue pilin digeluti Nurmi sejak tahun 2011. Selama tiga tahun usaha itu, dikelola dengan cara memutar modal yang masih tergolong kecil. Bahkan, untuk memasarkan kue kala itu, dijajakan hingga ke pasar-pasar tradisional serta dititip di warung-warung.

Lama-kelamaan usaha itu kemudian menjadi usaha yang menopang hidup keluarga. Hingga kini usaha itu masih berjalan dan menjadi oleh-oleh khas dari Padang Ganting. Kue ini banyak diminati oleh orang dari luar daerah maupun dari warga lokal Tanah Datar sendiri.

Nurmi malayani pembeli kue pilin. [Foto: David/Padangkita]

“Selama tiga tahunan usaha ini dimulai dari kecil-kecilan, dijajakan hingga ke pasar dan warung. Pada awal itu kami tidak memikirkan laba, modal yang kembali dari hasil penjualan kami putarkan lagi untuk modal selanjutnya,” tutur Nurmi.

Karena masih tergolong sedikit yang berdagang, usaha kue tersebut bisa menarik hati pembeli. Tidak jarang orang-orang yang lewat berhenti untuk membeli kue itu dan dijadikan buah tangan dari bepergian.

“Kadang ramai juga yang dari luar daerah, seperti dari Sijunjung, dan Dhamasraya. Apalagi kalau Lebaran, para perantau yang ingin balik menjadikan kue ini sebagai buah tangan,” ucapnya.

Pandemi Covid-19 hampir membuat usaha kue pilin Nurmi tutup. Namun, dengan tekad yang kuat ia berusaha tetap mproduksi kue pilin. Kualitas kue pilin tidak pernah dikurangi.

“Karena perantau tidak ada yang pulang karena waktu itu masa pandemi, usaha kami merosot. Bahkan mobil-mobil yang lewat yang biasanya belanja juga jarang,” kenangnya.

Untuk memproduksi kue pilin itu, terang Nurmi, bahan bakunya semua dibeli. Seperti gula, tepung, telur, minyak, kelapa, termasuk kayu bakar dan minyak tanah.

“Saat barang-barang itu naik kami kewalahan. Meski begitu kami tidak mengurangi ukuran ataupun menaikkan harga, karena kami takut pelanggan kecewa dan langganan yang ada hilang,” ucapnya.

Untuk satu pekan, kata dia, biasanya kue pilin diproduksi dua kali. Setiap kali produksi berkisar dua karung atau 100 bungkus – 120 bungkus. Setiap bungkus dijual dengan harga Rp10 ribu.

“Alhamdulillah Lebaran kemarin penjualan kembali bergairah, banyak perantau yang pulang, dan juga banyak orang yang bepergian belanja,” ujarnya.

Meski begitu, hingga saat ini usaha itu dijalankan secara mandiri tanpa bantuan dari pihak manapun. Bahkan, tidak pernah sekalipun Nurmi maupun keluarga mengikuti pelatihan, apalagi mendapatkan bantuan.

Usaha kue itu dijalani Nurmi bersama saudara dari suaminya.

Baca juga: Kisah Usaha Ikan Salai di Lubuk Jantan Tanah Datar yang Justru Makin Berkembang di Tengah Pandemi Covid-19

“Kami berharap usaha ini semakin berkembang dan semakin banyak pembeli,” harap ibu dua anak ini. [djp/agg]

Terpopuler

Add New Playlist