Ini Dia Anak Muda Minang Penguasa Bisnis Sate di Swiss

Penulis:
Rio Vamory (Foto: Ist)

Padangkita.com – Bicara soal sate mungkin sudah tidak asing lagi bagi telinga dan lidah orang Indonesia, apalagi bagi orang Minang. Sate adalah makanan yang khas dan enak.

Begitu juga bagi orang asing di luar sana. Makanan khas Indonesia tersebut kerap dipandang sebagai penganan atau kuliner yang unik. Mungkin itulah yang menjadi sebab pria Minang ini membuka bisnis sate di negara dengan pendapatan perkapita paling tinggi di eropa, Swiss.

Baca Juga

Namanya Rio Vamory, pria kelahiran kota Padang Panjang ini adalah juragan sate Padang di Zurich, Swiss. Sate yang dijualnya bukan sate daging melainkan sate ayam.

Ia mungkin menjadi satu-satunya orang Indonesia yang ada di Zurich yang membuka bisnis sate dan berkat usahanya itu koran terbesar di Swiss yakni Neuer Zurcher Zeitung (NZZ) menerbitkan satu halaman penuh tentang dirinya.

Baca Juga:
Radja Boerhanoedin, “Urang Bagak” Tanah Abang Asal Minang
Wanita Minang Pertama yang Mengecap Pendidikan ala Eropa

Sebelum menjadi tukang sate, Rio adalah seorang bankir. Padahal gajinya sebagai bankir lebih dari cukup untuk membiayai kehidupannya di Zurich. Ibunya bahkan mendukung pilihannya tersebut.

Alasannya menjadi penjual sate karena bosan dengan menjadi pegawai bank. Namun Rio telah merencanakan bertahun-tahun sebelum melakukan eksekusi menjadi penjual sate.

Menurutnya NZZ, bisnis sate yang dijalankan oleh Rio akan sangat menjanjikan. Hal tersebut disebabkan karena belum banyak atau belum ada bisnis serupa di wilayah tersebut.

Rio telah menjual sate dari pintu ke pintu. Perlahan usahanya terus berkembang. Meski belum membuka restoran karena mahalnya modal, Rio hanya meminjam beranda restoran Asia Tish.

Baca Juga : Inilah Asal Mula Penamaan Sayur Legendaris ‘Pucuak Parancih’

Dialah satu-satunya pengusaha sate yang memiliki gerobak sate di Zurich, bahkan Swiss. Mantan bankir inilah yang melakukan terobosan kuliner Indonesia di Zurich yang berjuluk “Little Big City of Switzerland”.

“Apa yang dilakukan Rio luar biasa. Tak banyak, hampir tak ada bankir yang mau berubah profesi jadi tukang sate ayam, keberanian itu ada dalam diri Rio,” kata redaktur NZZ.

Di sekolah Rio dikenal sebagai anak yang pintar dan cerdas. Ia pun beberapa kali loncat kelas. Sang ibu, Rosmidar menikah lagi dengan warga Swiss keturunan Tibet dan membawa Rio ke Swiss setelah dua tahun tinggal di sana di Swiss.

Rio juga pernah dititipkan di Bogor untuk menekuni agama di pesantren. Soal keluarga, Rio mengatakan masih memiliki keluarga di Sumatera Barat. Mereka pernah bertemu beberapa tahun lalu dan hingga kini masih saling berkomunikasi.

Meski telah sukses di rantau, Rio tidak lupa dengan kampung halamannya. Ia mengumpulkan 1 Frank Swiss dari setiap sate yang terjual untuk membantu pelestarian alam Sumatera.

Terpopuler

Add New Playlist