Fakta Penting Seputar Bahaya Gempa Bumi di Zona Patahan Aktif Pulau Sumatra

Penulis: Isran Bastian

Padang, Padangkita.com – Sumatra atau Sumatera, merupakan pulau terbesar ketiga di Indonesia yang menyimpan lebih banyak ancaman potensi gempa bumi. Kondisi ini disebabkan karena Sumatra merupakan daerah sesar atau zona patahan.

Koordinator Mitigasi Gempabumi dan Tsunami Pusat Studi Gempa Nasional BMKG Daryono menjelaskan, patahan atau sesar aktif adalah lapisan kulit bumi atau kerak bumi yang rekah atau patah dan bergeser. Menurut dia, lapisan kulit bumi seperti cangkang telur. Ada kulit luar ada kulit dalam.

Pergerakan patahan aktif menjadi penyebab utama terjadinya gempa. Yang terbaru diantaranya, seperti gempa magnitudo (M) 6,1 di Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar) pada Jumat (25/2/2022) lalu, akibat patahan segmen Angkola. 

Soal bahaya gempa bumi di zona patahan Sumatra, Ir. Ade Edward dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumbar dalam tulisannya mengungkapkan, Pulau Sumatra membentang sepanjang 1.900 km (dari Banda Aceh hingga Teluk Semangko di Selatan Lampung), membentang paralel dengan palung/zona subduksi sebagai pengaruh dari konvergensi Lempeng Eurasia dengan Lempeng Indo-Australia (gambar 1). 
Gambar 1. Tatanan tektonik wilayah Pulau Sumatera-Samudera Hindia. [Foto: Ist]
 
Mengutip dari, D. Hilman dan K. Sieh, dalam Neotectonic of The Sumatran Fault, Indonesia, 2000, membagi Patahan Sumatra ini menjadi 3 wilayah, yaitu wilayah Utara, Tengah dan Selatan. Namun secara keseluruhan, berdasarkan pengamatan pada peta topografi dan foto udara, dibagi menjadi 19 segmen (gambar 2).
Gambar 2. Pembagian segmen Patahan Sumatera (D. Hilman dan K. Sieh, 2000). [Foto: Ist]
Dari 19 Segmen Patahan Sumatera yang juga merupakan pulau terbesar keenam di dunia ini, 7 diantaranya terdapat di wilayah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) dan akan berdampak langsung terhadap masyarakat yang berada pada zona-zona rentan. 
 
Adapun ketujuh segmen tersebut adalah segmen Siulak (2.25°S ~ 1.7°S), segmen Suliti (1.75°S ~ 1.0°S), segmen Sumani (1.0°S ~ 0.5°S), segmen Sianok (0.7°S ~ 0.1°N), segmen Sumpur (0.1°N ~ 0.3°N), Segmen Barumun (0.3°N ~ 1.2°N) dan Angkola sedangkan potensi gempa masing-masing segmen tersebut dapat dilihat pada table 1.
Tabel 1. Data dan Parameter sumber gempa pada segmen-segmen Sesar Sumatera (Tim revisi Peta Gempa Indonesia, 2010). [Foto: Ist]
Patahan Kini Bertambah 
 
Meskipun awalnya diketahui 7 segmen patahan, kini jumlahnya makin bertambah seiring gempa M 6,1 Pasbar yang diungkap BMKG menyebabkan patahan baru di sekitar Gunung Tamalau. 

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyebutkan, ada patahan baru tersebut berada di sekitar Gunung Talamau, yang selama ini belum pernah teridentifikasi karena belum ada rekaman data seismisitas atau kegempaannya.

Jelas Dwikorita Karnawati, memang selama ratusan tahun, patahan itu tidak diperhitungkan karena tidak teridentifikasi.

“Baru kemarin saat gempa 6,1 terekam data-data seismik di sana,” ungkap Dwikorita saat jumpa pers perkembangan pascagempa Pasbar lewat zoom meeting, Selasa (1/3/2022) lalu.

Dia juga memaparkan, informasi patahan baru itu penting mereka sampaikan kepada pemerintah daerah dan masyarakat untuk upaya mitigasi bencana ke depannya.

BMKG melakukan pemetaan mikro dan makro seismik pascagempa di Pasbar. Dengan adanya patahan baru ini, maka zona kerentanan gempa bumi dilakukan penyempurnaan.

“Selama ini di situ dianggap tidak membahayakan, sekarang menjadi zona merah. Artinya, berpotensi mengalami guncangan gempa dengan intensitas MMI yang tercatat hingga VIII. Tingkat skala guncangan yang bisa mengakibatkan bangunan rumah roboh,” imbuhnya.

Baca Juga: Setelah Ratusan Tahun, BMKG Temukan Patahan Baru di Sekitar Gunung Talamau 

Memang kata dia, saat ini aktivitas gempa susulan sudah melemah. Kekuatannya kecil dan dianggap tidak membahayakan lagi. Karena itu, masyarakat yang kondisi rumahnya kokoh dan layak huni sudah bisa kembali ke rumah. [isr]

Terpopuler

Add New Playlist