Catatan Tercecer: Pengalaman Umrah di Bulan Ramadan

Penulis: Redaksi

Baru pertama kali menunaikan ibadah umrah di Tanah Suci pada bulan Ramadan. Selama ini sulit sekali mengatur waktu yang pas. Ada saja hambatannya sehingga hanya bisa menunaikan umrah di luar bulan Ramadan.

Sebuah harapan yang menggebu-gebu umrah dengan anggota lengkap bersama anak cucu. Apalagi umrah pada bulan Ramadan sama dengan nilai berhaji.

Kami pastikan berangkat tanpa perlu menimbang berbagai masalah, Bismillah… dengan nawaitu yang baik memanfaatkan kesempatan pertama setelah pemerintah melonggarnya kebijakan pembatasan akibat Covid-19.

Catatan ini saya tulis secara pointers agar mudah untuk dipahami pembaca:

1. Umat Islam yang datang dari seluruh pelosok dunia. Berbagai bangsa dan ras berhimpun dalam lokasi yang sempit. Jutaan orang banyaknya, haus akan prosesi ibadah umrah yang selama pandemi Covid-19 terhambat. Ini sebuah prosesi ibadah yang tidak ada bandingnya di dunia.

Semua berlangsung damai dan demokratis. Apabila ada suara yang agak meninggi cukup dengan menguncupkan lima jari sebuah kode untuk “bersabar” maka emosi pun surut. Tersandung kaki dan tersenggol kepala adalah biasa, cukup minta maaf dan akan diakhiri dengan sama-sama tersenyum.

Konon warga negara Arab Saudi pada bulan Ramadan lebih berkonsentrasi untuk ibadah di Masjidilharam dan Nabawi. Kebiasaan ini membuat prosesi ibadah di bulan Ramadan makin “membeludak”.

2. Ibadah umrah di bulan Ramadan ternyata jauh lebih khusuk dan nikmat karena dibarengi oleh puasa. Mungkin ini alasannya disetarakan dengan nilai haji. Lapar dan haus tidak terasa meskipun di luar masjid udara panas dan tawaf di lantai dasar juga berjemur matahari. Ketika salat di sekitar Multazam tidak terasa air mata mengalir. Rasa syukur yang dalam telah bisa kembali umrah bersama anak cucu.

Pelaksanaan sa’i sangat sejuk dengan tingkat kedinginan AC yang kondusif dan terukur. Prosesi umrah telah menyegarkan dan memulihkan kembali iman dan ketakwaan yang fluktuatif, turun naik.

3. Makanan berlimpah: Selama umrah di bulan Ramadan makanan berlimpah. Hanya di Tanah Suci ini “makanan mencari orang, bukan orang yang mencari makanan”. Saya belum menemukan di pelosok dunia manapun, jutaan orang kelebihan makanan. Bayangkan jutaan orang menenteng makanan yang bersumber dari keikhlasan berbagi para dermawan. Terutama mendekati waktu berbuka.

Sebuah gerakan humanism Islam dan semangat berbagi yang luar biasa. Bentuk implementasi pemerataan kemakmuran dengan menyentuh kebutuhan dasar manusia melalui supply makanan. Jenis makanan pun berkualitas dan bergizi antara lain ada yogurt laban, nasi briani dengan potongan lauk yang besar-besar, kurma, buah-buahan, jus yang sehat, roti, cake, kebab, dll. Semua gratis!!

Di sini memang tidak tersedia rendang, kalio daging, semur jengkol, pecel madiun, sayur lodeh, dan petai goreng teri favorit saya. Namun tidak mengurangi kebahagiaan dan keceriaan. Anak cucu saya setiap pulang dari masjid menenteng makanan yang relatif banyak sehingga keesokan harinya kami bagikan pula kepada siapapun yang mau.

Insan-insan dermawan ini, entah dari mana saja datangnya. Tiba-tiba muncul di keramaian. Semua orang ingin berbagi, beramal saleh. Tidak putus-putusnya. Adakah di dunia terjadi fenomena seperti ini? Jutaan jemaah kelebihan makanan ditandai dengan semuanya menenteng plastik penuh makanan. Saya mengamati fenomena ini dengan khusus. Semua bahagia dan ceria disela letihnya ibadah yang padat.

4. Manisnya Masjid Nabawi, Masjid Rasulullah: Manajemen pengelolaan Masjid Nabawi layak diacungi jempol. Sangat bersih dan teratur. Air wudu yang melimpah dan toilet jongkok yang bersih. Jutaan jemaah menikmati kenyamanan. Suara sound system yang sama lembutnya di setiap pelosok masjid. Termasuk bagi jemaah yang berada di pelataran.

Terpopuler

Add New Playlist