Catatan Tercecer: Pengalaman Umrah di Bulan Ramadan

Penulis: Redaksi

Semua jemaah saling menghormati. Hampir tidak pernah terdengar suara keras petugas keamanan. Air zamzam tersedia dengan cukup di setiap tempat strategis. Hidangan berbuka ditarok pada lembaran plastik yang panjang. Selesai berbuka dengan sekejap mata, plastik dilipat dan karpet untuk salat tetap bersih tanpa noda makanan sedikitpun.

Saya mengalami dibujuk dengan santun untuk bersedia mampir di lapak yang sudah terhidang. Di antara mereka bersaing mencari orang untuk makan gratis di kavlingnya. Kondisi ini mengingatkan saya pada suasana Pasar Tanah Abang. Pedagang berebut pembeli. Di Tanah Suci berbeda, para dermawan membujuk berebut rekanan untuk diberikan makan gratis!! Tampak mereka kuatir makanan tidak habis terbagikan kepada jemaah, masyaallah…

5. Raudah: Raudah adalah tempat yang mustajab menyampaikan doa-doa. Raudah ibarat “taman surga” yang terletak antara rumah Rasulullah dan mimbar tempat Beliau berdakwah. Ukuran Raudah sangat sempit hanya sekitar 330 m persegi. Namun Raudah menjadi tujuan semua orang.

Masuk Raudah memerlukan perjuangan dan kesabaran. Dalam tumpukan umat seperti itu kadang-kadang muncul sifat asli manusia. Ada yang duduk bersila dengan melebarkan posisi lututnya dan ketika berdiri dengan kangkangan kaki yang super lebar. Fenomena ini juga terjadi pada 3 orang jemaah yang “pakai sarung” tepat di depan saya. Mereka menolak untuk bergeser 1 cm pun ketika ada jemaah yang minta berbagi tempat. Mengamati kejadian ini, saya menahan diri untuk tidak masuk saf mereka guna menjaga kenyamanan hati.

Namun biasanya dalam crowded itu akan muncul insan baik dan peduli. Ternyata banyak juga yang ingin berbagi tempat dengan ikhlas, menekuk lutut dan merapatkan kaki ketika salat. Saya dicolek oleh seorang jemaah berkulit hitam yang meminta saya bersabar; “jangan keluar karena pasti dapat tempat…”

Benar saja, lantas kemudian tiba-tiba seorang jemaah dari Prancis mempersilakan saya “nyempil” di sampingnya sambil ngomel: “In Raudah one’s true character will appear…” Saya mengangguk tanda setuju. Alhamdulillah…

Setelah salat di Raudah ziarah ke makam Rasulullah. “Assalamualaika ya Rasulullah”, saya datang berziarah melalui koridor di samping makamnya yang tertutup rapat. Antrean masuk sangat padat, namun teratur, tidak ada dorong-dorongan, semua wajah takzim dan berlinang air mata. Setelah itu keluar melalui pintu Al-Bakee dengan perasaan takzim.

6. Akses masuk Masjidilharam: Semula saya kesulitan sekali memperoleh akses masuk Masjidilharam. Semua akses masuk masjid ditutup dan dijaga ketat petugas. Ketika itu belum tahu kiatnya. Akhirnya terpaksa mencari lobby hotel yang terlindung dari panas cahaya matahari yang menyengat.

Untung kemudian anak saya mengetahui kiatnya agar masuk sekitar 3 jam sebelum waktu salat. Akhirnya kami bisa masuk ke lantai 2 yang sejuk, serta tawaf dengan khusuk. Khusus lantai dasar hanya untuk tawaf peserta umrah yang memakai ihram. Hampir tiap hari salat dan i’tikaf di lantai 2 dengan posisi favorit sejajar Multazam.

7. Petugas keamanan: Dari kedua Masjid besar ini Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, terdapat perbedaan manajemen pengelolaan yang jauh berbeda ditandai dari sikap petugas keamanannya.

Petugas keamanan di masjid Nabawi lebih kalem dan sejuk. Tampak lebih paham kiat service excellent. Kenyamanan jemaah sangat dijaga. Hampir tidak ada teriakan dan hardikan yang kasar. Semua diatur dengan lembut dan senyum sehingga kekhusukan dan kenikmatan ibadah dapat diciptakan dengan baik.

Lain halnya di Masjidilharam, petugas keamanan sudah bekerja keras dan terukur. Mereka dengan sistematis berupaya memecah konsentrasi masa. Mencegah 2 atau 3 arus masa yang akan bertabrakan. Saya menyaksikan setelah Salat Idulfitri, potensial terjadi tabrakan arus masa yang menuju angkutan umum di dekat rumah nabi (di belakang tempat Safa dan Marwa).

Saya mengamati dengan cermat strategi yang digunakan untuk mencegah menumpuknya masa pada satu lokasi. Dalam hal ini petugas keamanan cukup sigap. Tampak jalur komando mereka cukup efektif, sehingga titik potensi risiko dapat dicegah secara dini. Mungkin memiliki sistem control room yang canggih.

Tidak ada gading yang tidak retak. Sayangnya kerja keras mereka rusak oleh karena abai pada faktor komunikasi. Sebagian petugas keamanan cenderung suka mengeluarkan teriakan kata-kata kasar dan membentak-bentak. Sikap dan gestur tubuh yang kurang enak dilihat, bahkan kadang-kadang tampak arogan.

Bahkan saya sering menyaksikan orang yang sedang salat didorong-dorong. Memang orang dimaksud salah karena salat di tempat yang dilarang oleh petugas keamanan, namun sebaiknya ditunggu dulu salat selesai baru diminta meninggalkan lokasi tersebut. Banyak pihak yang mengomentari perilaku ini; “tegas sih boleh, tapi kasar jangan. Yang datang tamu Allah Swt guna mencari keridaan-Nya. Layak di-wongke’…”

Memang mengatur jutaan orang tidaklah mudah. Di situ pula tantangannya. Pada umumnya jemaah patuh dan penurut karena tujuannya untuk ibadah berebut kebaikan bukan bertarung berebut kebendaan.

Semoga tulisan ini sampai kepada pengambil kebijakan pengelolaan Masjidilharam guna memperbaiki manajemen yang baik yang berorientasi pada service excellent penuh senyum. Masjidilharam adalah etalase sebagai sentral syiar Islam yang memancar terang menerangi dunia.

Seharusnya perfect dalam segala hal sehingga tampil zero kesalahan sehingga menjadi magnet bagi manusia di luar Islam untuk mencari hidayah. Selain itu, etalase Islam akan terlindung dari fitnah pihak-pihak yang memusuhi Islam yang tidak akan puas sebelum Islam roboh.

8. Panas dan pelataran: Salat Zuhur dan Asyar di pelataran sangatlah panas. Bisa dehidrasi dan terbakar. Lantai pelataran juga panas, jika tidak pakai sendal tapak kaki bisa melepuh. Apabila tidak bisa masuk ke dalam masjid terpaksa mencari tempat yang teduh. Pilihannya adalah lobby hotel yang sejuk dan terlindung dari sengatan sinar matahari.

9. Makanan: Penting untuk diinformasikan bahwa mencari pilihan makanan yang cocok selera orang Indonesia untuk berbuka dan sahur sangat sulit. Kondisi sekarang jauh berbeda dengan sebelum Covid-19. Dulu ketika masih normal banyak ditemukan masakan Indonesia, warung Soto, dan RM Minang. Konon dua warung Soto favorit saya, milik perantau Sumbawa arah ke Ma’la sudah lama tutup. Begitu juga warung-warung makan Indonesia arah Misfalah juga sudah menghilang.

Alhamdulillah, pihak travel JF berbaik hati untuk menyediakan makan gratis berbuka dan sahur buat jemaah “room only.”

10. Salat dari hotel: Terjadi fenomena yang menarik. Ribuan umat salat dari lobby dan pelataran hotel-hotel sekitar radius 500 m dari Masjidilharam. Bahkan salat dari kamar-kamar hotel dengan sedikit menyingkap gorden jendela. Saya tidak meneliti seberapa jauh jarak radius secara pasti  fenomena ini berlangsung.

Mungkin ukurannya sejauh mana suara Imam Masjidilharam masih terdengar. Sebagai komparasi, hotel kami menginap sekitar 250 m dari pelataran Masjidilharam. Setiap waktu salat jemaah selalu melimpah sampai ke trotoar jalan.

Cucu saya bertanya dari aspek syariah, apakah salat di hotel termasuk dengan salat yang bernilai 100 ribu kali? Saya belum bisa menjawab karena belum membaca fatwa resmi dan pendapat jumhur ulamanya…

Selamat Hari Raya Idulfitri 1443 H. Semoga menjadi Umroh yang mabrur…

Makkah, 2 Mei  2022 (1 Syawal 1443H) [*]


Penulis: Dr. Iramady Irdja

Terpopuler

Add New Playlist