Antara Ada dan Alpa: Negara untuk Kaum Tani

Penulis: Ediwar

Penyair Tiongkok di masa klasik, Qu Yuan, pernah menulis sajak, “Aku minum dari sumur yang kugali, aku makan dari gandum yang kutanam, apa arti kekuasaan Kaisar itu bagiku?”

Ketika puisi ini ditulis, negara, kekaisaran, ada di ibu kota. Tangannya tidak bisa menjangkau begitu jauh. Puisi-puisi Tiongkok klasik banyak berbicara tentang ibu kota sebagai episentrum bagi kekuasaan, sementara daerah di luar itu (desa-desa) nyaris hanya didatangi para pemungut pajak sebagai bayang-bayang negara dalam sekali panen raya.

Tapi sekarang dapatkah kita bebas dari bayang-bayang negara? Tapi kini bisakah kita berbicara tentang petani dengan nada yang sama: “Kami minum dari sumur yang kami gali. Kami makan dengan nasi dari padi yang kami tanam. Apa arti negara bagi kami?”

Sebab hidup toh tidak lagi sesederhana bersoal makan dan minum.

Negara  tidak lagi hadir hanya dalam representasi petugas pemungut upeti. Tapi negara menggelembung seperti balon raksasa yang melingkupi nyaris seluruh aspek hidup kita.

Ada negara di PNPM dan Dana Desa. Jalan-jalan membelah petak-petak sawah. Mobil pengangkut hasil panen bisa berhenti-parkir di tubir ladang. Tak banyak lagi sawah tadah hujan, semakin banyak yang telah dimasuki irigasi. Para petani mungkin tidak akan lagi bertengkar perkara air sawah, yang dulu sering diperebutkan hingga berbunuh-bunuhan, kini kalau tidak terjadi sesuatu-apa air senantiasa tersedia.

Ada pupuk bersubsidi bagi yang punya kartu (tanda miskin?). Ada bantuan benih. Ada petugas-petugas penyuluh dengan baju ambtenaar mereka yang seperti takut kotor.

Ada negara di banyak tempat di desa.

Itu  hal-hal yang berhubungan langsung dengan dunia pertanian, sedang yang tidak: listrik, bensin, gas, pendidikan bagi anak-anak, dan banyak lagi. Semua di bawah payung besar negara.

Tapi baik, di saat yang sama, negara juga bisa tidak ada di mana-mana.

Yang ada, yang terlihat di mana-mana itu, justru non-negara: perusahaan-perusahaan pupuk dan racun. Lihatlah sablon punggung kaos yang umumnya dipakai petani untuk bekerja, banyak tertera promosi produk mereka. Kaos kampanye politisi bahkan tidak akan mampu mengimbangi keterpakaiannya.

Dengan berbagai nama, berbagai gaya dan cara, perusahaan-perusahaan pupuk berlomba-lomba mempromosikan produk-produk terbaru mereka, yang mereka anggap paling ampuh menumbuh-kembangkan daun dan batang—juga buah dan bunga. Perusahaan-perusahaan racun tidak kalah gigih mengampanyekan insektisida termutakhir yang paling mantap membunuh ulat dan jamur.

Agen-agennya yang pandai mengambil hati petani rutin turun hingga ke pondok-pondok petani dengan kuantitas kunjungan jauh melebihi para penyuluh. Kualitas kedatangan mereka juga sulit ditandingi para pegawai-pegawai dinas yang dikebat surat tugas. Kepada kelompok-kelompok tani mereka beri segala macam doorprize, mulai dari yang terkecil semisal kaos dan payung (bermerek produk mereka tentu saja) hingga yang paling mahal semisal becak motor dan mesin pemotong rumput (dengan ditempeli stiker produk mereka jugalah).  Ada banyak potongan harga, ada berbagai merchandise, ada berupa-rupa doorprize.

Di pintu-pintu kedai, di bale-bale pos ronda/pos pemuda, di gaba-gaba kampung dan gerbang-gerbang desa, mereka tempelkan poster, mereka bagikan leaflet, mereka bentangkan spanduk-gadang. Kadang, di bulan-bulan tertentu, di bulan-bulan promosi, mereka mengadakan permainan KIM atau mengajak petani berdarmawisata, atau ada juga yang mengadakan semacam workshop pertanian bagi para petani dengan uang transpor + uang saku.

Tak ada negara di situ. Ketika itu. Negara hanya hadir sekali-sekali dalam representasi ibu dan bapak dari dinas dengan balutan pakaian kantor yang disetrika.

Ketika hasil panen lantas dibawa ke pasar, di sana negara juga tak tampak hadir. Ada plang dinas pasar nun di belakang area parkir. Sesekali, bila macet, ada polisi lalu lintas satu-dua orang di jalan depan pasar. Selebihnya, adakah negara?

Selebihnya negara tampak tidak mengatur apa-apa. Harga-harga ditentukan oleh … entah oleh apa? Permintaan dan penawaran? Yang jelas, harga hari ini dan harga esok tidak lagi sama. Jangankan itu, harga pagi ini, harga tengah hari, dan harga menjelang petang nanti sudah sama sekali berbeda. Harga di tangan agen dan di tangan gudang-penampung juga lain.

Suatu waktu para agen akan berkerubung di pintu angdes seperti semut berkerubung di sekeliling dahak-hijau menunggu petani turun membawa panennya. Mereka berebut, kalau deal, buru-buru membubuhkan nama pada karung panen si petani dengan spidol agar tidak jatuh ke agen lain. Itu terjadi ketika harga suatu komoditas sedang tinggi di pasaran. Busuk-busuk sedikit tak apa, cacat-cacat sedikit tak masalah.

Tapi, di suatu waktu yang lain, petani bisa berjam-jam berdiri di pinggir pasar menunggu ada agen yang menawar panenannya. Bahkan bisa-bisa hasil panen akan bertumpuk-tumpuk jadi sampah pasar belaka karena tidak laku-laku sampai petang tiba. Bagi yang iba pada hasil jerih-payah sendiri itu, akan membawanya pulang lagi jadi santapan ikan di kolam tetangga. Itu kondisi ketika harga komoditas pertanian tengah terpuruk tajam. Kalau tertarik membeli, si agen akan menelisik sampai ke dasar karung, mencari-cari yang rusak dan rumpang, sebagai alasan buat mempurukkan harga lebih dalam lagi.

Adakah negara di situ?

Negara hadir kalau orang-orang di kota sedang terancam perutnya. Jika harga bawang minta ampun mahalnya, negara akan turut campur dengan mengimpor bawang. Jiwa harga cabai melangit, negara segera ambil bagian dengan mengimpor cabai. Hal yang sama juga berlaku untuk beras, garam, sapi, gula, dan seterusnya.

Tapi turun tangankah juga negara jika yang terjadi adalah sebaliknya?

Mau hadir atau tidak negara di tengah-tengah mereka, para petani tetap ke ladang juga dengan malas atau bersemangat, dengan giat atau enggan.

Mereka akan diayun-ayun musim dan cuaca lagi, juga fluktuasi harga-harga. Jika bosan jadi petani, mereka merantau ke kota. Yang jelas, sejauh ini, belum ada yang terdengar bunuh diri. Lalu apa arti negara kalau begitu?


Deddy Arsya
Dosen sejarah di IAIN Bukittinggi

Terpopuler