Akan Berpuasa Esok Hari, Jamaah Tarekat Syattariyah Berziarah ke Syekh Burhanuddin dan Maniliak Bulan

Penulis: Sonia
|
Editor: Rina Akmal

Berita Padang Pariaman hari ini dan berita Sumbar hari ini: Selain berziarah, jemaah juga datang untuak maniliak bulan

Parit Malintang, Padangkita.com– Jelang berpuasa, jemaah Tarekat Syattariyah dari berbagai penjuru Sumatra Barat (Sumbar) mendatangi makam Syekh Burhanuddin untuk berziarah.

Selain berziarah, jemaah juga datang untuak maniliak bulan atau melihat bulan langsung dengan mata untuk menentukan 1 Ramadan.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan ibadah puasa Jamaah Tarekat Sattariyah selalu berselisih hari dari 1 Ramadan yang ditentukan oleh pemerintah.

Tahun ini 1 Ramadan antara pemerintah dan Jamaah Tarekat Syattariyah berselisih dua hari.

“Kami belum berpuasa. Esok baru maniliak bulan, kemungkinan puasa lusa atau kamis,” ujar Jamaah Tarekat dan pengurus Kompleks Pemakaman Syekh Burhanudin Sabarudin kepada Padangkita.com Selasa (13/04/21).

Menurut Tarekat Syattariyah, penentuan awal Ramadan menggunakan cara klasik. Metode yang dilakukan dengan cara menghitung taqwin yaitu hitungan hari dan hitungan bulan yang kemudian dilengkapi dengan maniliak bulan.

“Cara yang dilakukan yaitu menghitung bulan dan hari. Lalu melihat bulan di pantai yang diakhiri dengan salat magrib berjamaah langsung di pantai,” terangnya.

Sementara itu, di pelataran makam beberapa jamaah dipimpin oleh imam tampak sedang bertahlil. Kompleks pemakaman tersebut terdiri dari makam Syekh Burhanudin dan murid-muridnya.

Khusus makam Syekh Burhanudin bebentuk seperti rumah yang diberi pagar setiap sisinya. Namun, kini pelataran makam berlantai kayu itu tampak ablas dan lapuk. Hanya beberapa bagian pelataran yang bisa diduduki.

Di atas lantai kayu dan beratap bagonjong, terdengar kalimat tahlil dilantunkan. Beberapa orang jamaah duduk melingkar, di lantai kayu di sekitar makam.

Dipimpin oleh seorang buya mereka melantunkan tahlil, diikuti gerak kepala mereka ke kiri dan ke kanan. Selepas tahlil, para jah bergantian memasuki makam Syekh Burhanudin.

Di depan pintu, beberapa orang tampak memegang kotak infak.

“Lantai makam ini telah satu tahun amblas. Karena bahannya kayu dan langsung bersentuhan dengan tanah jadi mudah lapuk,” kata Sabarudin.

Menurutnya, dalam rencana pembangunan kompleks pemakaman ini direncakanan semulanya menggunakan lantai keramik.

“Pembangunan ini merupakan proyek pemda, dulu kami sarankan dibangun lantai keramik saja, namun mereka memilih menggunakan kayu,” ujarnya.

Meskipun lantainya amblas dan rawan terperosok saat melangkah di atasnya, tidak menurunkan semangat jamaah untuk berziarah dan berdoa ke tempat itu.

Beberapa diantara jemaah juga ikut serta membawa anak-anak untuk berwisata religi.

Baca juga: Angka Kemiskinan di Kota Pariaman Menurun Tahun 2020

“Iya lebih baik mengajak anak-anak ke sini, dari pada pergi balimau,” ujar Silvia salah seorang peziarah. [rna]

Baca berita Padang Pariaman hari ini dan berita Sumbar hari ini hanya di Padangkita.com.

Terpopuler