39,9 Persen Masyarakat Sumbar Percaya Pandemi Covid-19 adalah Konspirasi

Berita Sumbar terbaru: Hasil riset, 33,9 persen masyarakat Sumbar percaya bahwa Covid-19 hanyalah konspirasi atau persekongkolan negara-negara besar di dunia, artinya mereka tidak percaya adanya Covid-19.

Padang, Padangkita.com – Spektrum Politika Institut, sebuah lembaga riset dan konsultan, melakukan penelitian terhadap persepsi, pengalaman, pengetahuan, dan perilaku masyarakat Sumatra Barat (Sumbar) dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Salah satu temuan dari lembaga riset tersebut yaitu sebanyak 39,9 persen masyarakat Sumbar percaya bahwa pandemi Covid-19 ini adalah konspirasi atau persekongkolan negara-negara besar di dunia.

Menurut Spektrum Politika Institut, dalam keterangan tertulis yang diterima Padangkita.com, Senin (5/10/2020), hal tersebut mempengaruhi perilaku mereka dalam mematuhi protokol kesehatan yang diterapkan oleh pemerintah daerah.

Riset ini sendiri digelar 10-15 September 2020 dalam bentuk survei kepada seluruh masyarakat Sumbar di 19 Kabupaten/Kota. Riset ini mewawancarai sebanyak 1.220 orang responden yang menjadi sampel yang diambil secara bertingkat (multistage random sampling) di seluruh kabupaten/kota yang ada.

Sampel diacak secara proporsional dengan memperhatikan jumlah penduduk dan karakteristik penduduk yang ada di kabupaten/kota. Adapun margin of error dari sampel yang diambil tersebut adalah sebesar 2,9 persen.

Untuk menjaga kualitas survei ini, maka quality control juga dilakukan dengan cara menelepon ulang responden untuk mengonfirmasi jawaban mereka sebelumnya. Quality control survei ini dilakukan terhadap 60 persen dari total sampel yang diwawancarai oleh enumerator sebelumnya.

Selain ada yang percaya pandemi Covid-19 adalah konspirasi, berikut pandangan lainnya dari masyarakat Sumbar terkait pandemi Covid-19 dari hasil riset tersebut.

Pertama, sebanyak 89,1 persen masyarakat setuju bahwa pandemi Covid-19 menyebabkan ekonomi mereka semakin memburuk. Tentu keadaan ini harus menjadi perhatian pemerintah karena hampir semua masyarakat mengalami dampak ekonomi yang serius akibat Covid-19 ini.

Kedua, sebanyak 49,8 persen masyarakat Sumbar mengakui kehilangan pekerjaan sejak pandemi Covid-19 ini mulai menjangkiti masyarakat.

Ketiga, hal positif yang patut diapresiasi dari kerja pemerintah adalah sebanyak 86,8 persen masyarakat Sumbar sudah mendapatkan informasi tentang pandemi Covid-19.

Keempat, sebanyak 65,5 persen masyarakat Sumbar yang berhak mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah/pemerintah daerah telah menerima paket bantuan sosial. Artinya, masih ada 34,5 persen dari mereka yang belum menerima paket bantuan sosial tersebut. Padahal secara ekonomi sangat banyak mereka yang mengalami dampak ekonomi terkait dengan Covid-19.

Kelima, satu hal yang mengejutkan adalah sebesar 90,1 persen dari masyarakat Sumbar menegaskan bahwa mereka akan datang ke TPS untuk memberikan suara dalam Pilkada yang dilaksanakan pada 9 Desember mendatang.

Antusiasme masyarakat ini tentu perlu didalami lebih jauh. Apakah fenomena ini terkait dengan keinginan masyarakat yang memang menunggu pemberian dari calon kepala daerah yang selalu dilakukan dalam setiap Pilkada yang biasanya diberikan dalam bentuk hadiah, souvenir atau pemberian uang.

Sementara, terkait kepatuhan masyarakat Sumbar terhadap protokol kesehatan, Spektrum Politika Institut juga melakukan penelitian dengan membuat rentang nilai dari 1 sampai 3 untuk melihat tingkat kepatuhan tersebut.

Berikut temuan lembaga riset tersebut terkait kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan:

1. Tidak Keluar Rumah

Melihat dari penerapan protokol kesehatan dalam masyarakat Sumbar terlihat bahwa masih ada yang menganggap bahwa pandemi Covid-19 ini bukanlah suatu keadaan yang mengkhawatirkan mereka. Faktanya sebanyak 28,5 persen masyarakat Sumbar ternyata masih sering keluar rumah dan tidak mematuhi imbauan untuk tidak keluar rumah.

Indeks kepatuhan dalam indikator ini berada pada angka 2,05 yang berarti masyarakat Sumbar masuk kategori cukup patuh dengan imbauan pemerintah untuk tidak keluar rumah jika tidak ada urusan yang penting dan mendesak.

2. Memakai Masker

Indeks kepatuhan untuk memakai masker masyarakat Sumbar ketika berada berada di luar rumah adalah 2,53 poin. Ini berarti masyarakat Sumbar masuk dalam kategori patuh dengan indikator pelaksanaan protokol kesehatan ini. Paling tidak ini terlihat sebanyak 60,3 persen masyarakat sering menggunakan masker ketika berada di luar rumah.

3. Menjaga Jarak

Sementara indeks kepatuhan untuk indikator menjaga jarak ketika beraktivitas di luar rumah adalah sebesar 2,41 poin. Ini berarti masyarakat Sumbar masuk kategori patuh dengan protokol kesehatan ini. Walaupun jumlah yang memperhatikan pentingnya menjaga jarak ini baru sebanyak 52,2 persen.

Baca juga: Isolasi Mandiri Lebih 2.500 Orang Disebut Berbahaya, dr Andani Minta Perbanyak Tempat Karantina

4. Mencuci Tangan

Sedangkan indeks kepatuhan masyarakat Sumbar untuk indikator selalu mencuci tangan atau selalu menggunakan hand sanitizer berada di angka 2,59 poin atau berkategori patuh untuk pelaksanaan protokol kesehatan ini. Memang jumlah mereka yang mengikuti protokol kesehatan selalu mencuci tangan ini baru mencapai angka 66,3 persen. [pkt]


Baca berita Sumbar terbaru hanya di Padangkita.com.

Terpopuler