Zubir Said, Putra Minang Pencipta Lagu Kebangsaan Singapura

Zubir Said. (Foto: Ist)

Padangkita.com – Siapa sangka, pencipta lagu kebangsaan negara Singapura “Majulah Singapura” adalah seorang keturunan Minangkabau, namanya Zubir Said. Selain, lagu “Majulah Singapura” karya terbesarnya adalah lagu resmi hari anak Singapura “Semoga
Bahagia”.

Dilansir dari wikipedia, Zubir Said lahir di Fort de Kock (Bukittinggi) pada 22 Juli 1907. Dia meninggal di Singapura pada, 16 November 1987 saat berusia 80 tahun. Tercatat lebih dari 1.500 lagu pernah dia ciptakan. Selain itu, dia juga melahirkan banyak murid handal, salah satunya penyanyi legendari dari Malaysia, P. Ramlee.

Dalam catatan dosen dan peneliti dari Universitas Leiden, Suryadi Sunuri, Zubir beradik kakak sebanyak sembilan orang. Dan dia merupakan adalah anak tertua.

“Ibunya meninggal sewaktu Zubir masih berusia 7 tahun. Bakat musik sudah tampak pada diri Zubir sejak ia masih kanak-kanak. Zubir pintar memainkan berbagai alat musik yang dipelajarinya secara otodidak,” dikutip dari catatan Suryadi pada blog pribadinya, Selasa
(04/09/2018).

Sementara itu, ayahnya Zubir yakni Muhammad Said adalah salah satu tokoh adat yang cukup terkemuka. Ayahnya bekerja sebagai kondektur di perusahaan kereta api milik pemerintah kolonial Hindia Belanda. Sejak mengenyam pendidikan setingkat sekolah dasar,
Zubir telah memperlihatkan kecintaannya dan bakatnya pada dunia seni, khususnya musik. Saat menginjak sekolah menengah, Zubir bergabung dengan grup keroncong. Dari situ, ia belajar instrumen lainnya, yakni gitar dan drum.

Sebelumnya menekuni secara serius dunia musik, Zubir juga pernah bekerja di sebuah pabrik sebagai pembuat batu bata. Dia juga pernah bekerja sebagai juru ketik.

Pada saat bekerja sebagai juru ketik inilah pada waktu kosong dia bermain musik. Karena tidak lagi nyaman bekerja sebagai juru ketik, akhirnya dia berhenti dan bergabung dengan grup musik keroncong dan memainkan alat musik biola. Bersama dengan grupnya tersebut, Zubir melanglang buana dari satu tempat ke tempat lain di Sumatera untuk mencari uang.

Pada usia 21 tahun, atau pada tahun 1928 Zubir membulatkan tekad untuk pergi merantau jauh. Zubir akhirnya menetapkan pilihan menuju Singapura. Di Singapura inilah karirnya melesat dan menjadikannya salah satu musisi, komposer, pencipta lagu yang sangat mumpuni.

Baca juga:
Pengalaman Penulis Sumbar di Ubud, Digeledah Polisi Hingga Tawaran Radio Asing

Zubir menikah dengan gadis jawa bernama Tarminah Kario Wikromo pada tahun 1938. Dia merupakan salah satu penyanyi keroncong. Setelah menikah, Zubir pernah membawa istrinya ke Bukittinggi pada 1941.

Pada 1958, Zubir mengubah lagu dan musik Majulah Singapura sebagai lagu resmi untuk Dewan Kota Singapura, sebelum ia menjadi warga negara Singapura pada 1967. Dengan semangat patriotisme yang besar terhadap Singapura, ia menolak untuk menerima imbalan dari pemerintah atas gubahannya tersebut.

Istana Kampung Gelam, Taman Warisan Melayu, Singapura. Zubir meninggal dalam usia 80 tahun pada 16 November 1987 di Joo Chiat, Singapura, meninggalkan empat anak perempuan dan anak laki-laki. Zubir dianugerahkan sejumlah penghargaan semasa hidupnya dan secara anumerta. Pemerintah Singapura menganugerahkannya penghargaan “Sijil Kemuliaan” pada 16 Maret 1963 atas jasanya menciptakan lagu kebangsaan.