Sebab Harga Cabai Lokal Sumbar Tersungkur

Cabai merah di Pasar Raya Padang (Foto: Aidil Sikumbang)

Padangkita.com – Memasuki pertengahan bulan puasa Ramadan, nelangsa melanda petani cabai merah di Sumatra Barat. Harga cabai merah lokal tersungkur, hingga mencapai  Rp. 10.000 per kg.

Para pedagang mengakui, harga ini terendah dalam dua tahun terakhir. “Sejak kemarin, harga cabai Rp.10.000 per kg,” ujar penjual cabai merah di Pasar Raya Padang, Yanti.

Harga tersebut berlaku untuk cabai lokal atau yang dihasilkan dari sentra kebun cabai di Sumatra Barat seperti kawasan Bukittinggi, Tanah Datar, dan Payakumbuh, Solok, dan Solok Selatan.

Harga cabai yang terus turun sedari awal puasa Ramadan membuat petani menjerit.

“Harga Rp.10.000, berarti tekor bagi petani,” tukas seorang keluarga petani, Anton.

Turun drastisnya harga cabai sejak awal puasa, bertolak belakang dari fakta tahun-tahun sebelumnya yakni harga cabai melonjak ketika memasuki bulan Ramadan.

Menurut Guru Besar Ekonomi SDM Universitas Andalas (Unand) Elfindri, petani cabai sepertinya terjebak pada hukum cobweb (sarang laba-laba) karena sama-sama memperkirakan bulan puasa cabai bakal naik, sehingga melakukan penanaman pada waktu yang persis sama, dengan harapan panen bulan Ramadan.

Sehingga, sambung Elfindri, terjadi over suplai. Karena saat bersamaan cabai dari Jawa, Medan, dan Kerinci juga masuk.

“Struktur pasar dimasuki perusahaan pasar yang memasok cabai dengan kualitas rendah. Ada jenis cabai dari Medan, (harganya jauh lebih rendah dibanding pasar), tapi untuk sementara bisa menganggu pasaran. Masyarakat cenderung beralih ke harga mutu rendah,” tandasnya.

Kedepan, dia berharap petani melakukan pola pertanian menanam di seluruh musim waktu. Misalnya tanam 2000 batang per 15 hari. Lakukan begitu seterusnya. Sehingga bisa panen kapan saja.

Selanjutnya, Elfindri mendorong petani bikin asosiasi. Jika memiliki kesatuan, petani punya posisi tawar. Nah, lanjut Elfindri, untuk pemasaran sebaiknya sistem lelang.

“Untuk pasar lelang bisa mencontoh Farmer Union seperti di Australia. Strukturnya, petani cukup mempercayai proses lelang,” bilangnya.

Selama ini, menurut Elfindri, margin laba petani banyak hilang karena terlalu panjang mata rantai pegadanga. Untuk itu, dengan proses lelang, hal demikian bisa diputus, dan petani bisa mendapatkan laba lebih.

Baca juga:
Langgar Izin, OJK Hentikan 4Jovem, First Travel dan 9 Entitas Bisnis Lainnya

Elfindri juga berpendapat, petani harus bisa mengakses teknologi pengolahan seperti pengeringan cabai.

“Hasilnya bisa dijual ke ritel dengan sistem kemitraan,” ujarnya.

Sementara Kepala Bidang Perdagangan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan(Disperindag) Sumatera Barat (Sumbar) Zaimar mengatakan, harga cabai tidak bisa dikendalikan pemerintah karena mengikuti mekanisme pasar.

Pihaknya tidak bisa berbuat banyak, kecuali melakukan operasi pasar dalam waktu yang belum ditentukan.

Sedangkan Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit, ikut prihatin jatuhnya harga cabai. Dia berharap Bulog segera membeli cabai petani dengan harga yang lebih baik.