Produksi Jagung Pessel Mencapai 169.101,60 Ton

Sumber: bantenprov.go.id

Padangkita.com – Upaya Pemerintah daerah (Pemda) Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) melalui Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (Ditanhorbun), dalam mendorong dan memotivasi masyarakat petani agar menjadikan tanaman jagung sebagai komoditi unggulan ke dua setelah padi, ternyata mambuahkan hasil.

Hal itu dapat dilihat dari capaian produksi yang selalu meningkat sejak tiga tahun terakhir. Berkat peningkatan itu, sehingga Pessel menjadi sentra jagung terbesar ke dua di Sumbar, setelah Pasaman Barat.

Dicuplik dari pesisirselatan.go.id, Jumat (3/8),Kepala Distanhorbun Pessel, Jumsu Trisno mengatakan kepada mengatakan komoditi jagung telah dijadikan sebagai komoditi ungggulan oleh masyarakat petani di Pessel setelah padi.

“Karena dijadikan komoditi unggulan, sehingga berbagai program yang dikembangkan dapat diterima dan juga berkembang di daerah ini. Hal itu dapat dilihat dari capaian produksi yang selalu meningkat sejak tiga tahun terakhir,” katanya.

Dijelaskanya bahwa peningkatan produksi itu bukan saja berasal dari hasil penan pengembangan tananam jangung melalui program yang dilakukan, tapi juga dari produksi lahan petani yang dilakukan secara mandiri.

” Tahun 2017 produksi jagung Pessel sebesar 169.101,60 ton. Ini berdasarkan luas panen seluas 20.828,60 hektare. Angka itu mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Sebab tahun 2016 produksi jagung Pessel baru mencapai 158.159,50 ton, dari luas panen 19.846 hektare. Jika dibandingkan dengan tahun 2015, peningkatan di tahun 2016 itu cukup tinggi, sebab di tahun 2015 itu, produksi jagung Pessel hanya 108.894 ton, dari luas panen 12.916 hektare,” ungkapnya.

Agar jagung tidak hanya dijadikan sebagai bahan komoditi utama untuk pakan ternak, sehingga pihaknya juga berupaya pula menciptakan tenaga yang terampil mengembangkan jagung menjadi berbagai olahan makanan.

” Ke depan kita juga akan berupaya menciptakan tenaga yang terampil untuk mengambangkan jagung bisa menjadi berbagai olahan makanan. Melalui upaya ini, sehingga petani tidak hanya terpaku menjual jagung dalam bentuk pipilan saja, dan tentu akan lebih memberikan keuntungan yang besar,” ungkapnya.

Salah satu upaya yang dilakukan agar harapan itu tercapai adalah melalui kerja sama kelompok tani, dengan TP PKK yang ada, baik di tingkat daerah, kecamatan hingga ke tingkat nagari.

Baca juga:
Nurani Perempuan: Kekerasan Terhadap Perempuan di Sumbar Masih Tinggi

“Tapi tidak tertutup pula kemungkinan kita membangun kemitraan dengan balai-balai penelitian dan pengolahan hasil pertanian, atau dengan cara mengirim petani jagung untuk magang bagai mana cara pengelolaan jagung ke daerah lain,” tutupnya.