Perempuan-Perempuan Turah

Cuplikan adegan film Turah.

CITRA perempuan dalam media baru kerap ditampilkan sebagai inferior atau sekadar ‘pemanis’ saja. Gerakan-gerakan feminis dalam sinema pun juga sering dijumpai, tetapi lebih cenderung menampilkan perempuan sebagai korban kemudian diadvokasi, atau mangambil dan melampaui posisi laki-laki. Tetapi bagaimana media baru, terutama sinema membingkai perempuan dengan modus memang sebagai manusia secara etis dan estetis? Bukan sebagai inferior ataupun melebihi. Usaha tersebut dapat dilihat dalam film Turah (2016) sutradara Wisnu Wicaksono Legowo.

Film produksi Fourcolour Films ini, telah mendapat berbagai apresiasi. Seperti Asian Feature Film Special Mention di 27th Singapore International Film Festival 2016, Geber Award dan Netpac Award dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival 2016. Kemudian, pada 16 Agustus 2017 lalu mendapatkan ‘tempat’ di bioskop-bioskop di seluruh Indonesia, dan memperoleh sebanyak 1.932 penonton (filmindonesia).

Film ini membawa penonton dalam kehidupan masyarakat di sebuah tanah timbul di Tegal, Jawa Tengah. Kampung Tirang adalah nama kampung di film ini yang dihuni oleh belasan keluarga miskin. Diayomi oleh seorang juragan bernama Darso (Yono Daryono) dan Pakel (Rudi Iteng) seorang sarjana yang menjadi tangan kanan sang juragan. Namun pengayoman ini ditentang oleh Jadag (Slamet Ambari) sebagai sebuah ilusi kemakmuran semata, dimana yang sesungguhnya terjadi adalah pemerasan tenaga kerja, bahkan mencurigai Pakel sebagai biang keladinya. Turah (Ubaidillah) dihasut Jadag untuk sepemikiran dengan dia. Tetapi, setelah berbagai usaha dilakukan untuk menghoyak pesismisme masyarakat kampung Tirang, kekalahan menjadi bayaran untuk usaha mereka.

Usaha pembingkaian perempuan tanpa embel-embel inferioritas maupun persaingan posisi dapat dilihat dari bagaimana presentasi dan pembingkaian perempuan dalam film ini. Tokoh perempuan diantaranya; Kanti (diperankan Narti Diono), Rum (diperankan Cartiwi), Sulis (diperankan Siti Khalimatus), dan Ilah. Beberapa tokoh tersebut ditampilkan sebagai manusia yang rasional dan realistis sewajarnya manusia moderen hari ini.

Rasionalitas tersebut dapat dilihat pada tokoh Kanti. Salah satunya pada adegan Turah dan Kanti di kamar beranjak untuk tidur. Turah menanyakan kepada istrinya apakah dia masih tidak ingin mempunyai anak. Kemudian Turah mengatakan alasannya perihal siapa yang akan merawat ketika tua, yang menemani jika salah satu dari mereka mati duluan, dan tidak ada keturunan yang bisa dibanggakan. Lantas kanti menjawab bahwa ia mengerti, tetapi jika kondisi hidup seperti ini, sama saja dengan mengubur anak hidup-hidup.

Adegan ini memperlihatkan bagaimana pemikiran yang lebih logis dan realistis ditonjolkan oleh Kanti daripada Turah. Berlandaskan realitas kehidupan yang tidak mendukung untuk membesarkan anak bagi Kanti. Jika merujuk pada posisi laki-laki dalam kontruksi gender tradisional (dominasi patriaki), laki-laki adalah seorang yang rasional sedangkan perempuan irasional (Tyson, 2006, 85). Disini Kanti ternyata sudah meninggalkan paradigma tradisional tersebut, dimana ia lebih berpikir rasional.

Tetapi, permasalahan logis dan rasional bukan lagi permasalahan gender pada hari ini. Rasional dan realistis adalah kebutuhan manusia moderen.

Anggraeni dalam tulisanya berargumen, dalam film ini kamera berhasil menggambarkan kelas sosial serta mengembangkan karakter tokoh-tokoh (jurnalfootage). Begitu juga terhadap tokoh perempuan. Kamera seolah berperasaan dan berpihak pada tokoh yang dirasa berhak untuk dipihaki.

Seperti pada adegan kemunculan Jadag yang mengejutkan, kamera manantang dan mengikuti Jadag yang mengomeli istrinya, Rum, dengan kalimat-kalimat yang merendahkan posisi perempuan. Kemunculan Rum yang marah pun direspon kamera dengan bergerak kebelakang Jadag hingga bergerak dan berhenti di belakang Rum (over shoulder) setelah perempuan ini melontarkan alasannya marah. Dan bidikan dari belakang Rum pun terjadi cukup lama.

Pergerakan kamera pada adegan ini, sebagai mesin perekam, alat ini seperti mempunyai perasaan sehingga harus berpihak pada seseorang. Pada kemunculan Rum yang marah, kamera lantas bergerak ke belakang Jadag seperti ketakutan melihat perempuan yang sedang marah. Sejenak setelah mendengarkan alasan dan pembelaan dari Rum yang terdengar sangat logis, maka kamera pun ‘berlindung’ dan ‘berpihak’ pada perempuan tersebut.

Lantas jika kamera dianggap sebagai mata, atau yang menggiring mata penonton, maka  spektator digiring untuk sependapat dan mendukung Rum dalam adegan ini. Dimana mengajak membela perempuan untuk membela posisinya dan berhak berpendapat atas kondisi kehidupan.

Lain halnya dengan tokoh Ilah yang hanya disebut dalam dialog-dialog oleh tokoh yang muncul secara visual dalam film. Perempuan yang menjadi salah satu pangkal masalah ini adalah istri sang juragan, Darso. Tidak satu pun gambar Ilah yang dimunculkan dalam film. Padahal perempuan ini cukup mempunyai peran besar dalam menggerakkan cerita film. Seperti perkelahian Jadag dengan Rum, salah satunya karena pergunjingan yang beredar tentang Jadag berselingkuh dengan Ilah. Walaupun Jadag telah mengatakan persanggamaanya dengan Ilah kepada Turah dalam kondisi mabuk. Ilah juga dibicarakan dalam adegan Turah dengan Kanti dirumahnya. Kanti yang bertemu dengan Ilah di pasar berkomentar tentang kecantikan Ilah dan aroma tubunya yang wangi karena bau parfum yang menyengat sehingga tidak patas berada dipasar.

Dari sini pun dapat dilihat bagaimana Ilah sebagai perempuan yang menarik perhatian, sangat ‘mudah’ dirayu dan tidak setia dengan suami. Serupa dengan Puti Bungsu dalam Cindua Mato-nya Wisran Hadi yang juga tidak muncul dalam panggung-sandiwara. Wisran pun berkomentar mengenai karakter ini “. . . saya tidak setuju menampilkan seorang tokoh wanita sepertu Puti Bungsu seperti dalam Cindua Mato yang lama. Wanita apa itu? Tidak punya sikap, tidak berpendirian, mau saja mengikuti apa-apa yang disodorkan orang lain . . . wanita bodoh tidak punya hak untuk ‘bertarung’ dalam dunia seperti sekarang. . .” (Esten, 1999, 248).

Merujuk pada perkataan Wisran, maka Turah seperti memberikan pernyataan bahwa perempuan seperti Ilah tidak berhak hidup dalam entitas kehidupan Turah. Film ini cenderung menghadirkan perempuan-perempuan yang rasional dan realistis. Dengan perlakuan sinema kepada perempuan yang lebih menganggap sebagai ‘manusia’. Tidak melulu ‘mengeksploitasi’ atau pun merendahkan perempuan. Pula tidak memperebutkan posisi yang paling atas, atau melampaui laki-laki. Tetapi perempuan dan laki-laki dibidik sebagai manusia.


*Adi Osman
Penulis adalah mahasiswa Sastra Inggris FIB UA. Anggota Relair Cinema dan Labor Penulisan Kreatif (LPK). Alumni Akademi Arkipel 2017 dan Kelas Kritik Film Bunga Matahari.

BAGIKAN