Misi Penginjilan di Padang Pariaman

Seminari te Woloan (Celebes). Missionarissen van het H. Hart tahun 1934. (Foto: KITLV)

Padangkita.com – Takluknya Konstantinopel oleh Turki Usmani pada tahun 1453, mengakibatkan masa sulit bagi bangsa Eropa untuk mendapatkan rempah-rempah. Kawasan laut tengah yang sebelumnya menjadi surga bagi negara Spanyol, Portugis, Belanda, dan Inggris untuk membeli rempah-rempah dengan harga murah, menjadi sangat tertutup.

Hal itu kemudian memaksa beberapa negara Eropa seperti Portugis dan Spanyol melakukan ekspedisi penjelajahan samudra untuk menemukan wilayah baru di timur.

Portugis menjadi negara Eropa pertama yang membuka jalan bagi negara Eropa lainnya menuju kepulauan Nusantara sebagai daerah penghasil rempah-rempah. Kemudian disusul datangnya Belanda dan Inggris.

Dalam mengarungi Samudra, bangsa-bangsa Eropa itu selalu dikaitkan dengan tiga misi utama, yakni Gold, Glory, dan Gospel. Ketiganya kemudian dikenal dengan singkatan 3G.

Gold berarti mencari kekayaan dan keuntungan dengan mencari dan mengumpulkan emas, perak dan bahan tambang dan bahan-bahan lain yang berharga. Sedangkan glory berarti kejayaan, superioritas, dan kekuasaan. Mereka saling bersaing dan ingin berkuasa di wilayah baru yang ditemukannya.

Misi ketiga, Gospel adalah menjalankan tugas suci untuk menyebarkan agama, yakni agama kristen. Hal tersebut juga pernah terjadi di Keresidenan Sumatra Barat pada tahun 1930 an.

Dosen dan peneliti dari Universitas Leiden, Belanda, Suryadi Sunuri menyatakan bahwa pendeta Heloemano dari Rhenis Missionary Society dari Jerman pernah ditugaskan di kenagarian Tanjuang Basuang dan Pauah Katapiang dalam daerah Pariaman, bagian dari wilayah Padang, Keresidenan Sumatera Barat.

Penugasan Pendeta Heloemano menurut Suryadi untuk melayani jemaat di daerah Pariaman tersebut diatur dengan keputusan Pemerintah Kolonial Belanda menurut Pasal 177 konstitusi Hindia Belanda, dimana dia mendapat otorisasi khusus untuk melakukan misi penginjilan di daerah tersebut.

Hal tersebut pernah ditulis pada harian berbahasa Belanda De Sumatra Post (Medan) edisi 28 September 1932 yang memberitakan penugasan pendeta Heloemano.

Bij Gouvernements besluit: is aan Heloemano, pandita van het Rijnsche Zendingsgenootschap, de bijzondere toelating verleend, bedoeld bij artikel 177 der Indische Staatsregeling, tot uitoefening van zijn dienstwerk op de plaatsen Tandjoeng Basoeng en Paoeh Ketaping en omgeving, gelegen in de onderafdeeling Pariaman der afdeeling Padang van de residentie Sumatra’s Westkust.” tulis De Sumatra Post sebagaimana dilansir Padangkita.com dari blog pribadi Suryadi.

Baca juga:
Inilah Salah Satu Koran Tertua yang Pernah Terbit di Padang Tahun 1922

Rhenish Missionary Society adalah salah satu misi penginjilan terbesar di Jerman yang berdiri pada 1799. Organisasi zending ini melakukan penginjilan di Afrika (terutama di Afrika Selatan dan Namibia) dan Asia.

Misi penginjilan yang dilakukan oleh Rhenish Missionary Society di kawasan Asia difokuskan di Papua, Kalimantan, Sumatera, Nias, Mentawai, dan Enggano. Penempatan Pendeta Heloemano adalah bagian dari misi penginjilan yang dilakaukan Rhenis Missionary Society di Sumatera (tempat lainnya di daerah Batak).

“Berita ini memberi tambahan informasi historis tentang komunitas Kristen (asal Nias) yang sekarang hidup di daerah Tanjung Basung dan sekitarnya, Kabupaten Padang Pariaman.” Tulis Suryadi Lebih lanjut.