Tradisi Ziarah Kubur Jelang Ramadan di Padang Pariaman, dari Berdoa, Makan-makan hingga Sedekah

Penulis: Sonia

Berita Padang Pariaman hari ini dan berita Sumbar hari ini: Ziarah kubur telah menjadi kebiasaan masyarakat Sumatra Barat (Sumbar).

Parit Malintang, Padangkita.com – Ziarah kubur telah menjadi kebiasaan masyarakat Sumatra Barat (Sumbar), ketika akan masuk bulan Ramadan. Selain bertujuan untuk mendoakan anggota keluarga yang diziarahi, sekaligus membersihkan pusara.

Meski demikian, masing-masing daerah di Sumbar punya cara tersendiri dalam melakukan ziarah kubur. Di Padang Pariaman, khususnya di Kecamatan 2X11 Enam Lingkung punya tradisi ziarah kubur jelang Ramadan yang unik.

Tidak hanya membersihkan makam dan berdoa, di daerah ini ziarah juga dilengkapi dengan makan bersama yang diikuti oleh hampir seluruh anggota kaum atau suku.

Pada saat ziarah, anggota kaum akan mengundang orang “siak” (pemuka agama) untuk memimpin doa di kuburan. Setelah selesai membersihkan pusara dan berdoa, mereka kembali berkumpul di balai-balai dekat pekuburan. Di sini, mereka kembali berdoa dan makan bersama.

Oleh sebab itu, di daerah ini, para ibu datang ke perkuburan tidak hanya membawa bunga atau alat untuk membersihkan kuburan. Namun juga menjunjung jamba (alat pembawa) nasi lengkap dengan lauk pauk dan buah-buahan.

Seperti pantauan Padangkita.com waktu ziarah di Pandam Pekuburan Tampek Laban Korong Kampuang Bonai milik suko Koto. Ziarah kubur ini dilakukan sepekan sebelum bulan Ramadan. Biasanya, ziarah dilakukan pada hari Minggu atau hari libur.

“Ziarah ini sudah dilakukan secara turun-temurun dan sudah menjadi kearifan lokal di sini. Biasanya dilakukan pada hari minggu sebelum bulan Ramadan,” kata Jonedi, salah seorang anggota suku Koto kepada Padangkita.com pada Minggu (10/04/21).

Dalam ziarah ini setidaknya ada 15 orang siak untuk membaca serangkaian ayat Al-Quran dan kalimat thayyibah, seperti tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir.

Pahala dari bacaan tersebut diperuntukkan sebagai hadiah untuk anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Tiap-tiap anggota keluarga memberikan sedekah uang dengan nominal seikhlasnya untuk orang siak.

Uang sedekah tersebut dibagi secara merata kepada tiap-tiap orang siak. Doa dan tahlil ditutup dengan makan bersama dengan hidangan yang telah disiapkan.

“Orang siak akan berdoa dan tahlil. Kita ke sini selain membawa bunga, air mawar, makanan untuk orang siak, dan uang sedekah,” katanya.

Momen ziarah kubur juga menjadi pertemuan dan waktu berkumpul bagi anggota kaum. Anggota keluarga yang merantau ada yang menyempatkan datang pada ziarah ini.

Di tengah-tengah pandemi, kegiatan ziarah yang melibatkan banyak orang ini tetap digelar. Beberapa orang tampak abai dengan protokol kesehatan.

“Ziarah ini sudah diadakan sejak dulu dan tidak pernah putus (selalu diadakan), tidak mungkin sekarang ditiadakan,” kata Jonedi.

Momen ziarah kubur ini juga diikuti oleh anak-anak. Selain mengunjungi pusara nenek atau kakek yang telah meninggal dunia, mereka juga menunggu uang “sakah” (sedakah) yang dibagikan di akhir doa.

Baca juga: Ziarah Kubur Jelang Ramadan, Kasat Pol PP Padang: Sebaiknya Hentikan Dulu

Biasanya mereka mendapat pecahan Rp2.000 yang cukup untuk membeli es krim yang dijajakan di gerbang area pekuburan. Uang yang dibagikan pada anak-anak tersebut merupakan sisa sedekah yang telah dibagi kepada orang siak. [pkt]


Baca berita Padang Pariaman hari ini dan berita Sumbar hari ini hanya di Padangkita.com.

Terpopuler