Tradisi Unik Malam Ke-27 Ramadan di Jorong Maligi Pasbar Tagak Tampughuang 

Penulis: Ahmad Romi
|
Editor: Rina Akmal

Berita Pasaman Barat hari ini dan berita Sumbar hari ini: Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat setempat setiap malam ke-27 ramadan

Simpang Empat, Padangkita.com– Beragam tradisi masyarakat di Minangkabau, Sumatra Barat (Sumbar) dalam menyambut ramadan, hingga penghujung bulan puasa.

Mungkin tidak banyak yang mengetahui tradisi unik yang dimiliki Nagari Persiapan Maligi, Kecamatan Sasak Ranah Pasisia, Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar) yang bernama “Tagak Tampughuang” atau Tegak Tempurung.

Di Jorong Maligi, tradisi unik ini masih tetap terjaga dengan baik. Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat setempat setiap malam ke-27 ramadan.

Mulai pagi hari masyarakat sudah disibukkan dengan berbagai prosesnya, diawali dengan melobangi tengah tempurung hingga menjemur dan menyusunnya pada sebilah kayu yang ditancapkan ke tanah.

Kemudian, warga setempat menyusun temputung yang sudah dilobang dan dijemur ke sebilah kayu yang sudah ditancapkan ke tanah tersebut.

Salah seorang warga setempat, Surya mengatakan bahwa kegiatan ini sudah turun temurun dilakukan karena menurut kepercayaan mereka hal ini mempunyai makna tersendiri dan juga dapat diterima oleh akal sehat manusia.

Ia menjelaskan, para tetua mereka di Maligi menyampaikan bahwa makna filosofis dan logika yang terdapat dalam tradisi Tagak Tampughuang adalah bahwa malam 27 di bulan ramadan itu adalah malam Lailatul Qadar, makanya harus disambut dengan penuh suka cita.

“Selain itu, itu juga sebagai perumpamaan bahwa bulan ramadan adalah bulan penghapus dosa, maka diibaratkanlah tempurung yang dibakar itu nantinya akan habis dimakan api,” katanya kepada Padangkita.com, Minggu (9/5/2021) pagi di Simpang Empat.

Menurutnya, Tagak Tampughuang menjadi pemandangan yang unik bagi setiap orang yang melihat pada malam ke-27 itu, dimana setiap rumah warga disinari oleh cahaya yang berasal dari tempurung yang dibakar.

“Barisan tempurung-tempurung yang telah tegak itu dibakar pada malam hari dan biasanya akan habis hingga menjelang pagi,” sebutnya.

Kegiatan ini dilakukan oleh semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Kemudian, tradisi ini dulunya juga dijadikan sebuah kegiatan oleh masyarakat pada malam 27 ramadan untuk mengantarkan zakat fitrah atau membuat berbagi makanan.

“Sebelum masuk listrik, kegiatan inilah yang dijadikan sebagai penerangan oleh masyarakat. Sekaligus menyambut perantau kita yang pulang kampung,” jelas Surya.

Disamping itu menurut Surya, tradisi seperti ini sangat unik dan harus dipertahankan kearifan lokal dan budayanya itu sendiri.

Sebab, akhir-akhir ini di penghujung ramadan hanya dibisingkan oleh suara mercon dan petasan.

Baca juga: Gubernur Mahyeldi dan Bupati Hamsuardi Santap Sahur Bersama Keluarga Kurang Mampu di Pasbar

“Kita patut bersyukur, masyarakat di Maligi ini masih menjaga tradisi yang turun temurun, dimana rasa kekeluargaannya masih sangat kental. Silahkan kunjungi Maligi pada tahun depan bagi masyarakat yang ingin menyaksikan tradisi Tagak Tampughuang tersebut,” tandasnya mengakhiri. [rna]

Baca berita Pasaman Barat hari ini dan berita Sumbar hari ini hanya di Padangkita.com.

Terpopuler

Add New Playlist