Toleransi Beragama Kita?

Penulis: Heru Setiawan
Ilustrasi (Foto/Ist)

Jangan terlalu mudah kita memberikan cap kafir terhadap seseorang. Seterusnya tidaklah baik rasanya memperturutkan ego semata dalam kehidupan ini termasuk dalam hal agama. Harus di ingat bahwa agama islam mengajarkan kebaikan, bukan mengajarkan permusuhan antara umat bergama.

BEBERAPA waktu belakangan, geliat mengenai Pilgub DKI semakin memanas. Para kandidat calon pemegang DKI 1 mulai melancarkan serangan terhadap lawan ataupun pencitraan terhadap dirinya sendiri. Akan tetapi ada hal menarik yang terjadi belakangan di kalangan umat islam. Tentu saja masalah mendukung atau tidak mendukung Ahok sebagai calon gubernur DKI kedepannya.

Mengapa dalam tulisan ini penulis menyoroti umat islam? Karena terjadi sebuah dikotomi atau pemisah yang bisa saja membuat sesama umat islam saling bertentangan dan bahkan tidak menutup kemungkinan terjadinya konflik. Disini penulis bukanlah salah satu orang yang berpihak ataupun penentang Ahok, karena tidak mengetahui secara jauh tentang Ahok. Penulis hanya mencoba mengutarakan kesan yang penulis rasakan belakangan ini.

Terasa agak sedikit janggal ketika ada umat islam yang dengan begitu berapi-api menebarkan pernyataan kebencian terhadap salah satu calon gubernur DKI yang tidak beragama islam. Begitu banyak dalil-dalil kafir yang dikeluarkan untuk mencoba mengcounter calon gubernur yang tidak bergama islam terkhusus DKI. Penulis akan mencoba untuk mengurai beberapa persoalan yang meresahkan bagi penulis.
Masalah Kafir

Pengertian kafir secara tata bahasa adalah orang yang menyembunyikan atau mengingkari kebenaran. Dalam islam kafir merujuk kepada orang yang mengingkari nikmat Allah dan memerangi agama islam. Dilain sisi menurut syariat islam, manusia kafir yaitu mengingkari Allah sebagai satu-satunya yang berhak disembah dan mengingkari Muhammad SAW sebagai utusannya.

Mulai dari sini, penulis mencoba untuk membahasakan bagaimana sebenarnya yang dimaksud dengan kafir itu sendiri. Dari beberapa pengertian di atas, penulis menganggap kafir itu merupakan orang yang mengingkari ataupun yang memusuhi Allah dan nabi Muhammad SAW. Orang yang mengingkari dan memusuhi Allah dan rasulnya tidak hanya disematkan kepada orang yang beragama islam semata. Akan tetapi bisa saja seorang yang beragama islam juga termasuk dalam definisi kafir tersebut.

Sudah dapat dipastikan ada orang yang mengaku beragama islam tapi mengingkari Allah dan rasulnya dengan berbagai cara, seperti tidak melaksanakan kewajibannya. Beralih kepada seorang yang tidak beragama islam. Apakah bisa langsung disebut sebagai orang kafir? Dalam konteks ini penulis mungkin agak sedikit berbeda pandangan dengan yang lainnya. Hal ini dilandasi bahwa, tidak semua orang di luar islam mengingkari ataupun memusuhi Allah dan rasulnya.

Kenapa penulis berkata demikian, hal itu didasarkan bahwa mengenai keislaman dan keimanan seseorang itu hanya bisa hadir karena hidayah dari Allah SWT. Lihat saja paman nabi Muhammad SAW yang tetap tidak menjadi Islam sepanjang hayatnya walaupun terus membela nabi dalam menyebarkan agama islam dan memerang orang quraisy. Selain itu ada nama Karen Amstrong dengan karya terkenalnya “Sejarah Tuhan” mengakui agama islam itu agama yang benar. Akan tetapi dia juga tidak mendapatkan hidayah untuk beragama islam.

Dalam hal ini penulis tidak sepakat jika ada orang yang tidak beragama islam langsung di cap kafir. Penulis masih menganggap orang itu dalam ketidaktahuan dan belum mendapatkan hidayah dari Allah SWT. Disisi lain ada juga kesalahan dari umat islam yang tidak mau untuk memberitahukan bahwa agama islam itu merupakan agama yang benar dan satu-satunya yang diridhoi oleh Allah SWT. Akan sangat naif rasanya kita dengan mudah mencap orang di luar islam sebagai seseorang yang kafir.

Apakah sudah dapat dipastikan seandainya orang yang di cap kafir tersebut benar-benar sesuai dengan kenyataan. Kalau seandainya sesuai dengan kenyataan tidak akan berakibat apa-apa. Akan sangat fatal jika hal tersebut tidaklah sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Sulit memang mendeteksi bahwa orang itu benar-benar kafir atau belum mendapat hidayah dari Allah untuk masuk islam, kecuali dengan terang-terangan mengatakan bahwa ia akan memerangi agama islam.

Perlunya perubahan pola pikir yang harus ditanamkan bagi sebagian umat islam yang dengan semangatnya menebarkan aura kebencian terhadap saudaranya yang belum beragama islam.

Banyaknya pernyataan menyatakan orang ini kafir, orang ini beriman membuat sedikit keresahan bagi penulis untuk kedepannya. mengingat agama islam merupakan agama rahmatan lill a’alamin atau rahmat bagi seluruh alam. Akan tetapi mengapa para pemuka agamanya seakan-akan menebarkan kebencian terhadap orang-orang yang tidak beragama islam. Perbuatan tersebut tidaklah pernah dianjurkan oleh nabi Muhammad SAW untuk memerangi orang yang bukan islam jika mereka tidak mengganggu kita.

Malahan nabi Muhammad SAW menyuruh untuk umat islam agar menyebarkan agama islam kepada orang-orang yang belum islam. Dakwah merupakan tugas utama dari seorang muslim. Seharusnya akan sangat merasa bersalah jika kita berada di negara yang mayoritas muslim, akan tetapi masih belum bisa kita mengajak saudara-saudara kita yang belum tahu islam untuk masuk islam. Bukannya malah memusuhi mereka dan menebarkan aroma kebencian bagi sesama.

Perlunya perubahan pola pikir yang harus ditanamkan bagi sebagian umat islam yang dengan semangatnya menebarkan aura kebencian terhadap saudaranya yang belum beragama islam. Lebih baik mengajak mereka untuk masuk islam atau setidaknya mengenalkan baiknya agama islam kepada mereka melalui akhlak yang baik. Hal inilah yang belum kelihatan selama ini, masih banyak ucapan kebencian bahwa orang yang tidak islam langsung di cap kafir, siapa tahu mereka masih belum mendapat hidayah.

Pemimpin Non-Islam

Hal inilah yang berdampak kepada panasnya persaingan menuju DKI 1. Beberapa golongan umat islam mengeluarkan fatwa bahwa haram hukumnya umat islam memilih atau dipimpin oleh orang kafir. Masih menjadi pertanyaan bagi penulis, apakah Ahok itu benar-benar kafir atau orang yang masih belum mendapat hidayah? Pertanyaan yang akan menimbulkan beribu jawaban nantinya. Akan tetapi menurut analisa penulis. Terlalu gegabah bagi sebagian umat islam yang menyatakan kebencian terhadap seseorang yang tidak bergama islam.

Hal ini ditakutkan akan berdampak domino bagi umat islam kedepannya. akan timbul stigma negatif bahwa umat islam di Indonesia bukan umat yang ramah terhadap agama lain. Kalau seandainya stigma itu terjalin maka, akan sia-sia saja rasanya kita beragama islam jika tidak bisa memelihara perdamaian di muka ini dan tidak akan berarti apa-apa jargon yang selama ini diumbar-umbar yang menyatakan islam sebagai agama rahmat bagi seluruh alam bukan hanya untuk orang islam semata.

Memang dalam Al-quran banyak ayat yang menyatakan tidak membenarkan dipimpin oleh seorang kafir. Namun, jika orang itu tidak beragama islam yang belum tentu kafir tidak ada disebutkan dalam Al-quran. Beberapa ahli pun berpendapat berbeda mengenai pemimpin yang tidak bergama islam ini. Salah satunya adalah Ibn Taymiyah, beliau berpendapat bahwa “lebih baik pemimpin non-islam tetapi jujur, dari pada islam tetapi khianat”.

Hal ini menunjukkan bahwa ada ketakutan bila kita terlalu memaksakan pemimpin dari kalangan orang islam, akan tetapi tidak amanah akan memburukan islam saja. Lebih baik dibiarkan orang non-islam sebagai cambuk bagi orang islam kenapa tidak bisa menjadi pemimpin yang amanah selama ini. Begitu pun kondisi yang sedang hangatnya di DKI, seharusnya ini bukanlah deklarasi ketakutan dari orang islam jika seandainya Ahok terpilih lagi jadi gubernur DKI.

Jika memang tidak ada yang lebih baik dari Ahok untuk menjadi gubernur DKI tidak perlu di paksakan. Jadikan saja ini untuk introspeksi diri bagi umat islam yang berada di wilayah DKI. Mengapa mereka tidak bisa untuk menjadi pemimpin di sana, apa yang salah dari umat islam DKI sehingga bisa dipimpin oleh orang yang tidak beragama islam tanpa perlu menebarkan isu kebencian terhadap orang lain.

Sekali lagi harus di ingat jangan terlalu mudah kita memberikan cap kafir terhadap seseorang. Seterusnya tidaklah baik rasanya memperturutkan ego semata dalam kehidupan ini termasuk dalam hal agama. Harus di ingat bahwa agama islam mengajarkan kebaikan, bukan mengajarkan permusuhan antara umat bergama. Jangan sampai kejadian perebutan DKI 1 tahun 2017 menjadi ajang perpecahan antara sesama umat islam maupun dengan orang non-islam dikemudian hari.

Terpopuler

Add New Playlist