Tinggi Turyapada Tower Capai 1.636 M dan Tahan Gempa, Ini Strategi Pembangunan Konstruksinya

Penulis: Redaksi

Denpasar, Padangkita.com – Pembangunan Menara Turyapada atau Turyapada Tower di Desa Pangayaman, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali telah dimulai. Proyek senilai Rp 334,27 miliar dikerjakan oleh PT Hutama Karya (Persero) atau Hutama Karya dengan konstruksi tahan gempa.

Direktur Operasi II Hutama Karya, Ferry Febrianto menyampaikan, selain menjadi menara tinggi pertama di Bali, Menara Turyapada yang dibangun Hutama Karya akan disiapkan sebagai ikon wisata baru bertaraf internasional di Bali layaknya Monas, Menara Tokyo di Jepang dan Menara Eiffel di Paris.

Oleh karena itu, kata dia, kualitas bangunan menjadi concern penting dalam konstruksi proyek ini. Dari lokasi, ketinggian, dan fasilitas yang dibangun, Menara Turyapada adalah tower ikonik monumental pertama di Indonesia.

Tingginya nanti bakal mengalahkan 5 tower terkenal dunia: Menara Eiffel, Tokyo Tower, Toronto Tower, Macau Tower, dan Fernsehturm Tower

“Menara yang kami bangun memiliki 2 fungsi yaitu sebagai pemancar sinyal digital dan sebagai tempat wisata. Selain kualitas bangunan, estetika dari Menara ini juga menjadi perhatian perusahaan agar kelak wisatawan memiliki rasa aman dan nyaman saat berkunjung ke Menara Turyapada tersebut,” ujar Ferry.

Ia menambahkan, dalam konstruksi menara dengan luas bangunan 13.767,7 m2 ini, Hutama Karya akan melaksanakan beberapa tahapan pekerjaan secara end to end. 

Di antaranya struktur bangunan, pondasi bore pile, menara pemancar, pekerjaan arsitektur menara, pekerjaan mekanikal, elektrikal dan pemipaan, pekerjaan site dev, konstruksi perkerasan jalan dan parkir, penanaman pohon dan rumput, drainase, hingga hardscape. 

Proyek Taman Teknologi Menara Turyapada ini memiliki tinggi bangunan 115 meter yang terletak pada ketinggian 1.521 m dari permukaan laut.

Sehingga total ketinggian menara adalah 1.636 m dari permukaan laut. Pascarampung, pada puncak menara akan dijadikan tempat pemasangan infrastruktur terpadu dan multifungsi, yang terdiri dari layanan TV Digital terrestrial, telekomunikasi seluler, internet, dan komunikasi radio komunitas.

“Pekerjaan menara ini akan digarap kurang lebih 450 hari kalender atau sekitar 1 tahun 3 bulan. Kami berkomitmen untuk dapat merampungkan proyek ini tepat waktu serta dengan kualitas maksimal,” tegas Ferry Febrianto.

“Kami juga telah menyiapkan sejumlah strategi percepatan, salah satunya optimalisasi SDM dan metode kerja. Tantangan lain yang membedakan proyek ini dengan menara lainnya adalah, Turyapada Tower dibangun di atas perbukitan,” ulas Ferry.

Menara Turyapada digadang-gadang akan menjadi destinasi wisata terpadu baru di Bali dengan memakai konsep bangunan green building yang mencerminkan hubungan alam dan kebudayaan Bali. Terbagi atas 6 zona yang di antaranya zona edukasi, zona komunal, zona komersial (UMKM), zona rekreatif, zona pengelola, dan zona perkebunan.

Selain menjadi ikon wisata, kehadiran Turyapada Tower juga akan mengoptimalkan siaran TV digital dengan jangkauan 80% wilayah Buleleng, Jembrana, hingga Karangasem. Lalu, diproyeksikan juga untuk menjadi daya tarik pariwisata baru berkelas dunia, membuka lapangan pekerjaan baru dan menjadi pusat pertumbuhan perekonomian baru daerah setempat.

Baca juga: Turyapada Tower yang Dibangun di Bali bakal Kalahkan Tinggi 5 Tower Terkenal Dunia

Sebelumnya, Hutama Karya sendiri telah memiliki sederet portofolio infrastruktur yang dibangun di Bali seperti Jalan Tol Bali Mandara, Six Sense, dan Alilla Uluwatu. [*/pkt]

Terpopuler

Add New Playlist