Sumarak Padang, Ritual Gaib Para Peladang

Penulis:
Warga melintasi padang ilalang untuk menggelar ritual di puncak bukit (Foto/Aidil Ichlas)

SAMBIL membawa bahan dan perlengkapan masak, para warga Jorong Padang Langgo, Nagari Tanjuang Barulak, Kecamatan Batipuah, Kabupaten Tanah Datar, mendaki Bukit Gantiang Kubang yang berketinggian sekira 500 meter dari pemukiman mereka, beberapa tahun lalu di bulan maulid.

Warga yang umumnya peladang akan menggelar tradisi Sumarak Padang. Tradisi ini sengaja digelar untuk menghindari “murka” dari makhluk gaib penunggu hutan.

Masyarakat percaya dengan menggelar ritual tradisi nenek moyang ini, Penunggu hutan (gaib) ciptaan yang maha kuasa itu, akan menjaga kelestarian hutan, ladang, dan ternak mereka. Namun jika tidak digelar, dipercaya bala akan menimpa, seperti hilangnya ternak, hilangnya peladang, dan hasil ladang yang tidak menguntungkan.

Kaum ibu bersama menyiapkan makanan untuk disantap bersama usai menggelar ritual (Foto/Aidil Ichlas)

Sebelum dimulainya prosesi, kaum ibu menghidupkan tungku, dan memasak kalio serta menu lainnya. Masakan itu nantinya disantap bersama usai ritual digelar. Sementara kaum lelaki membantu tetua kampung menyiapkan perlengkapan yang akan di bawa ke puncak bukit, dimana para makhluk gaib dipercaya berada.

Peralatan yang disiapkan berupa bambu yang dirangkai untuk meletakkan sajen, serta mangkok–mangkok yang terbuat dari daun pisang.

Setelah tengah hari dan melaksanakan shalat, para tetua kampung dan sejumlah warga mendaki bukit sambil membawa sajen untuk Inyiak Rajina dan Datuk Rajo Gagau, dua makhluk gaib yang selama ini dipercaya ikut menjaga hutan mereka.

Kabut putih turun saat rombongan sampai di puncak bukit Gantiang Kubang, nuansa magis seakan menyambut kehadiran warga kampung. Semilir angin menyejukkan badan yang telah letih usai mendaki dan melintasi padang ilalang.

Perlengkapan ritual akhirnya diturunkan dan diletakkan di rerumputan. Persis di bawah batang pohon paling besar yang ada di puncak bukit itu. Syafrizal Sutan Mangkuto yang didaulat sebagai pawang yang bisa berkomunikasi dengan makhluk gaib, meletakkan sajen berupa darah, batih, daging kambing, rokok, lemang, telur, dan nasi dalam delapan mangkok daun.

Syafrizal (pawang) sedang menyiapkan sajen sebelum diletakkan di batang pohon (Foto/Aidil Ichlas)

Usai sajen ditata, Syafrizal membaca mantra dan doa, serta membakar kemenyan. Bendera putih berukuran 40 X 30 sentimeter dikibarkan di atas sesajian dan diasapi oleh asap kemenyan. Pembacaan mantra dan doa sendiri diikuti oleh seluruh rombongan.

Altar dari bambu untuk meletakkan sesajian lalu diangkat dan diikat ke batang pohon. Butuh beberapa orang untuk mengikat altar sekuat mungkin agar tidak jatuh. Syafrizal yang telah berada di atas pohon menerima sajen itu dan meletakkannya di atas altar bambu, dan bendera putih dengan tiang kayu juga diikat ke batang pohon.

Ia lalu berdoa ke yang kuasa, kemudian mulai memanggil makhluk gaib penghuni hutan untuk menerima sajen. Suaranya bergema hingga ke lembah yang dijadikan warga sebagai ladang.

Delapan jenis sajen yang disajikan untuk makhluk gaib (Foto/Aidil Ichlas)

“Oiii, japuiklah rasaki ko aa (oii, jemputlah rezeki ini). Oiii,  Inyiak Rajina, Datuk Rajo Gagau, japuiklah rasaki ko aa (Oii, Inyiak Rajina, Datuk Rajo Gagau, jemputlah rezeki ini)“, demikian penggalan seruan Syafrizal, agar dua makhluk gaib datang dan menerima sesajian mereka. Setiap sekali menyeru, ia juga berdoa kepada yang maha kuasa. Sedikitnya ada tiga kali lelaki tua itu menyeru dan memanggil dua makhluk halus itu dan kembali ditutup dengan doa.

“Sumarak Padang itu ritual untuk makhluk halus, mahkluk halus di bukit ini. Istilahnya gaib. Jadi kita percaya kepada gaib. Gaib ini sekali–sekali menampakkan rupanya. Berbentuk dia. Menyerupai manusia, tapi ukurannya kecil. Tapi munculnya tidak sering. Ia juga memelihara orang perimba.“ Ujar Syafrizal usai menggelar ritual.

Syafrizal (pawang) melafalkan doa sebelum menggelar ritual (Foto/Aidil Ichlas)

Setelah ritual penyerahan sajen selesai, warga kembali turun ke pinggang bukit dan membiarkan persembahan mereka disantap para penghuni hutan. Kabut yang sempat turun berangsur hilang dan terlihatlah bendera putih terpasang di atas pohon tinggi, berkibar menyapa Inyiak Rajina dan Datuak Rajo Gagau.

Tradisi Sumarak Padang sudah setiap tahun rutin digelar oleh masyarakat Jorong Padang Langgo, tepatnya setiap bulan maulid atau bulan rabiul awal, kalender hijriyah. Tidak diketahui pasti kapan pertama kali digelar, namun menurut warga yang lahir di di tahun 50-an, sudah mengenal tradisi ini.

Tradisi ini merupakan cara masyarakat setempat terutama peladang untuk bersahabat dengan alam, dengan cara memberi sajen kepada penghuni hutan yang dipercaya ada secara gaib. Mereka berharap hutan tempat mereka mencari nafkah bisa terus terjaga.

Abdurrahman, tokoh agama setempat menyebut Doa Sumarak Padang berarti berdoa kepada Allah di tengah padang atau lahan terbuka, agar makhluk gaib itu bersahabat dengan manusia. Terkait ritual dan sajen, ia menyebut itu sebagai bentuk penghargaan kepada para penghuni hutan, ciptaan Tuhan.

Warga berkumpul dan menggelar doa kepada Yang Maha Kuasa setelah melaksanakan ritual. (Foto/Aidil Ichlas)

“Di bulan itulah (rabiul awal) kita memohon kepada Allah, semoga apa saja makhluk Allah yang ada di tengah Padang itu bersahabat dengan manusia. Jangan menganggu manusia, baik terhadap ternak atau pun buah-buahan tanaman manusia.“ Sebut  Abdurrahman.

Setelah selesainya ritual dengan makhluk halus, masyarakat Jorong Padang Langgo menggelar tahlilan dan doa bersama, memohon kepada Allah agar harapan mereka untuk terjaganya hutan dan mata pencarian mereka sebagai peladang dikabulkan.

Terpopuler

Add New Playlist