Strategi Jitu dan Aksi Heroik Dibalik Pawai Telong-Telong

Penulis:
Pawai Telong-telong pada hari jadi Kota Padang 348. (Foto : RJ)

Padangkita.com – Ada tradisi unik bagi kota Padang dalam rangka menyambut hari jadinya setiap tahun, yakni penyelenggaraan pawai Telong-Telong.

Berdasarkan catatan sejarah telong-telong merupakan lampu atau penerangan yang disengaja dibuat dan digunakan para pejuang di Padang untuk mengalahkan Belanda pada peristiwa heroik 7 Agustus 1669.

Telong-telong tersebut dibuat sedemikian rupa untuk menarik perhatian penjajah Belanda sehingga mereka tidak sadar bahwa ada akan aksi besar (perlawanan) dalam kegiatan telong-telong itu dulu.

Baca juga:
Serangan Anak Pauh dan Koto Tangah Dibalik Hari Jadi Kota Padang

“Sejarahnya, Telong-Telong merupakan lampu yang digunakan pejuang untuk mengalahkan Belanda di Muaro Padang. Saat itu masyarakat Pauh dan Kuranji melawan VOC dengan merebut loji-loji Belanda. Telong-telong ini strategi pejuang kita agar dianggap ramai,” kata Medi Iswandi, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Padang.

Telong-telong bisa dikatakan menjadi stragtegi cerdik orang-orang Padang yang tidak suka dengan penjajahan VOC kala itu.

Pawai kendaraan hias pada hari jadi Kota Padang 348. (Foto : RJ)

Setelah serangan tersebut, loji atau gudang-gudang milik VOC berhasil direbut oleh para pejuang.

Menurut sejarawan Rusli Amran, serangan itu merugikan pihak Belanda sebesar 28.000 gulden. Dan hal tersebut merupakan kerugian yang sangat besar bagi mereka.

Berkat aski heroik ini akhirnya tanggal 7 Agustus akhirnya diusulkan dan diputuskan untuk menjadi hari jadi kota Padang.

Untuk usulan 7 Agustus 1669 ini, Rusli merujuk pada sumber seperti De Oost-Indische Compagnie op Sumatra in de 17e eeuw, karangan N. Mac Leod.

Freek Colimbijn dalam buku Paco-Paco (Kota) Padang, juga menuliskan, tanggal 7 Agustus 1669, sebagai hari kelahiran Kota Padang, bertepatan dengan peristiwa serangan orang Pauh dan Koto Tangah ke Bandar dagang VOC di Muaro Batang Arau.

Meski urusan niaga Belanda di Padang mendapat restu penuh dari Raja Minangkabau, namun berkali-kali orang-orang dari Koto Tangah dan Pauh, kadang dengan bantuan Aceh, menyerang pos perdagangan Belanda di kawasan pelabuhan Batang Arau.

“Terlepas dari kekuasaan Raja Minangkabau dan pedagang perantara yang berasal dari pesisir, secara de facto Padang tetap berada ditangan penjajah asing hingga kemerdekaan,” tulis Freek.

Tiap tahun telong-telong terus mewarnai Kota Padang. Semoga suluh yang diarak, menjadi pelita untuk memahami ihwal Padang, dan menerangi jalan Padang menuju kota yang dibanggakan semua orang.

Selamat Ulang Tahun ke 348 Kota Padang!

Terpopuler

Add New Playlist