Soal Kabar Kemunculan 3 Harimau Sumatra di Solok Selatan, Ini Penjelasan dari BKSDA

Penulis: Redaksi

Padang Aro, Padangkita.com – Sebanyak tiga ekor Harimau Sumatra atau dengan nama latin Panthera Tigris Sumatrae dikabarkan muncul di wilayah Kecamatan Koto Parit Gadang Diatas (KPGD) Kabupaten Solok Selatan.

Kemunculan Harimau Sumatra itu pertama kali dilihat oleh Kepala Jorong Sungai Ipuh, Randi Risno.

Kesaksian Randi, pada Kamis (2/9/2021) ia melihat harimau ketika akan pergi ke ladang. Lalu, setelah melihat harimau itu, ia bergegas kembali ke kampung dan mengabarkan hal itu ke warga lainnya.

“Saya melihat harimau di jalan menuju ke kebun,” ujar Randi yang menceritakan apa yang ia lihat saat itu ke warga di Nagari Persiapan Balun Pakan Rabaa Tengah, Kecamatan KPGD.

Kemudian, pada Senin (13/9/2021), Randi juga membuat surat pernyataan di kantor wali nagari terkait penampakan harimau tersebut.

Berselang seminggu, pada Senin (20/9/2021), seorang warga bernama Jul Masri, 46 tahun mengaku juga melihat harimau di pinggir Sungai Batang Suliti.

Saat itu, kata Jul, ia berssama istrinya pulang dari kebun. “Kami melihat dua ekor harimau saat pulang menyadap getah karet di kebun, itu sekitar pukul 15.30 WIB,” ujar Jul kepada Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatra Barat (Sumbar) yang datang ke lokasi untuk memastikan kabar itu.

Tim BKSDA saat berada di Solok Selatan untuk mendapatkan informasi awal soal keberadaan Harimau Sumatra. [Foto: Ist]
Tak hanya Randi dan Jul, kemunculan Harimau Sumatra itu juga disaksikan seorang Kakek bernama Erjon.

Pada Kamis (23/9/2021), Erjon bersama tiga orang cucunya mengaku melihat Harimau Sumatra yang lokasinya tidak jauh dari lokasi Jul Masri melihat harimau itu.

Lalu, tim BKSDA Sumbar juga mendapatkan kabar dari seorang sopir travel bernama Heri, yang mengaku juga melihat harimau tersebut.

Pengakuan Heri, ia melihat tiga ekor harimau melintas di jalan ke arah Batang Suliti.

Menanggapi laporan dari sejumlah masyarakat tersebut, BKSDA Sumbar langsung menerjunkan tim ke lapangan untuk memastikan keberadaan harimau serta untuk melakukan penanganan konflik.

Tim tersebut dipimpin Kepala Resort BKSDA Solok, Afrilius.

Menurut Afrilius, untuk langkah awal, ia bersama tim akan mengumpulkan keterangan dari saksi mata. Lalu, alan mencari jejak harimau di lapangan serta memasang kamera trap.

Kemudian, kata Afrilius, pihaknya akan menganalisa jumlah harimau, umur, ukuran serta jenis kelamin untuk pertimbangan penanganan lebih lanjut.

“Sementara waktu, kita imbau kepada warga untuk tidak masuk ke kebun sendirian dan diharapkan warga beraktivitas siang hari saja, karena satwa itu berburu pada sore, malam hingga pagi hari,” ujarnya.

Lalu, Afrilius juga menyarankan agar warga membawa petasan saat ke kebun dan membunyikannya di kebun.

“Kita akan lakukan penanganan agar masyarakat tenang dan dapat beraktivitas seperti semula, dilihat dari lokasi kejadian yang bersebelahan dengan kawasan TNKS, kita akan lakukan pengusiran dengan menggunakan bunyi-bunyian dengan meriam karbit yang kita bawa,” paparnya.

Satwa jenis Harimau Sumatra, jelas Afrilius, merupakan satwa liar yang sangat menghindari kontak dengan masyarakat, kecuali ada beberapa hal yang dapat memicu hal itu.

Penyebab itu, kata Afrilius, karena habitatnya yang terganggu oleh aktivitas masyarakat serta tersedianya kecukupan satwa mangsa akibat perburuan yang dilakukan oleh masyarakat.

Baca juga: Harimau Sumatra yang Mati karena Sakit Dikuburkan Pakai Upacara Adat, BKSDA Sumbar Ingatkan Penyakit Menular

“Kalau benar informasi bahwa harimau tersebut adalah induk dan dua ekor anaknya. Maka kemungkinan sang induk dalam masa menyapih anak untuk berburu mangsa atau mencari makanan, sebelum kita turun kelapangan, kita dari BKSDA juga sudah berkomukasi dengan rekan-rekan dari Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan KPHL Batang Hari serta berkoordinasi dengan Polsek setempat agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan,” katanya. [*/zfk]

Terpopuler