Soal Ekspor Komoditi Sumbar, Gubernur Mahyeldi Ungkap Rumitnya Syarat yang Ditetapkan Negara Tujuan

Penulis: Redaksi

Bukittinggi, Padangkita.com – Sumatra Barat (Sumbar) melirik pasar negara-negara Afrika sebagai tujuan ekspor ke depan. Selama ini, produk asal Sumbar telah dikirim ke negara-negara Asia, Eropa dan Timur Tengah.

Gubernur Sumatra Barat (Sumbar) Mehyeldi Ansharulah menilai, pasar ekspor ke benua Afrika semakin menarik dan menjanjikan untuk dijadikan destinasi  ekspor bagi para eksportir dari Sumbar.

Namun, kata dia, untuk mengisi pasar ekspor tersebut, perlu pemetaan potensi pasar dunia, terutam guna mengetahui data produk yang dibutuhkan oleh negara tujuan sehingga bisa disesuaikan dengan komoditas unggulan yang tersedia.

“Kita harus punya data detail kebutuhan masing-masing pasar negara tujuan sehingga produk yang dikirimkan bisa terserap,” kata Gubernur Sumbar, Mahyeldi saat mengikuti forum diskusi Penanganan Masalah Perdagangan Luar Negeri secara virtual dari Istana Bung Hatta Bukittinggi, Selasa (7/09/21).

Mahyeldi mengatakan peran Kedutaan Besar, Atase Perdagangan atau Indonesian Trade Promotion Center (ITPC), Kadin, Asosiasi Eksportir, dan pemerintah perlu didorong untuk mendukung ekspor produk ke berbagai negara.

Menurut Mahyeldi, sejauh ini masih banyak kendala yang dihadapi ketika mengekspor produk. Oleh sebab itu, lanjut dia, juga harus dipahami dan dicarikan solusi terbaik bersama agar pasar ekspor Sumbar bisa terus berkembang dan menguntungkan tidak hanya pengusaha tetapi juga bagi petani sebagai produsen.

Ia mengapresiasi dilaksanakannya forum diskusi dengan tema “Upaya Peningkatan Ekspor Komoditi Pertanian dan Perkebunan Sumatra Barat” yang diharapkan bisa mencarikan solusi untuk mengatasi permasalahan yang muncul terhadap perkembangan ekspor Sumbar ke depan.

Menurutnya jika dilihat dari struktur ekonomi Sumbar, sektor pertanian memang masih menjadi sektor dominan dibanding sektor-sektor lainnya. Apalagi Sumbar mempunyai banyak komoditas hasil perkebunan dan pertanian yang beraneka ragam, seperti karet, kelapa sawit, pinang, manggis, pala, produk turunan kelapa, cassiavera, gambir dan lainnya.

Selain komoditi itu, lanjut Mahyeldi, kopi minang juga menunjukan perkembangan menarik di tengah situasi pandemi Covid-19. Kopi minang berpeluang melakukan peningkatan akses pasar dan ekspor seiring dengan diinisiasinya kegiatan business matching sekaligus penandatanganan kesepakatan kerja sama kemitraan pemasaran antara eksportir kopi dengan kelompok tani kopi.

Dari data tahun 2020, negara tujuan ekspor kopi Sumbar adalah Malaysia, Korea Selatan, Hongkong, dan beberapa Negara Timur Tengah.

Namun saat ini masih banyak ditemukan kendala dalam melakukan ekspor oleh para pelaku usaha terutama pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)

Di antaranya sertifikasi produk yang dipersyaratkan beberapa negara pengimpor. Sejauh ini beberapa pelaku UMKM di Indonesia terkendala dengan sertifikasi yang ditetapkan negara tujuan, khususnya produk pangan. Seperti sertifikasi ISO 22000 atau hak merek, cipta halal, dan sertifikat organik, European Union (EU), National Organic Program United States Department of Agriculture’s (NOP USDA), Japanese Agricultural Standards (JAS), Korean Food and Drug Administration (KFDA), dan Organic Agriculture Centre of Canada (OACC).

Kendala lain adalah biaya pengiriman kontainer yang mahal. Harga biaya kontainer naik untuk ke beberapa negara tujuan, seperti Australia, Eropa, Timur Tengah, dan Amerika Serikat. Hal ini, kata Mahyeldi, tentu berdampak kepada para eksportir kecil seperti UMKM karena biaya logistik bisa lebih mahal dibandingkan harga jual produknya. Untuk itu, hal ini menjadi perhatian serius bagi pihak terkait terhadap permasalahan biaya kirim yang tinggi.

Kendala berikutnya, belum banyaknya informasi maupun regulasi ekspor yang didapat oleh para pengusaha maupun pelaku UMKM seperti kurs yang tidak stabil, tingkat suku bunga yang tinggi, inflasi, akses bahan baku yang sulit didapat, buruknya kondisi Infrastruktur, dan kualitas produk yang diekspor.

Permasalahan eksternal pun juga dirasakan para pelaku usaha, di antaranya persaingan produk sejenis, sehingga daya saing produk luar negeri menjadi lebih baik dibanding produk kita.

Peraturan dari Negara Tujuan yang berhubungan dengan isu lingkungan, kesehatan dan keamanan. Mahalnya biaya distribusi karena transhipment melalui pelabuhan seperti Singapura dan Hongkong.

“Beberapa kendala ini perlu kita atasi secara bersama, mana yang tugas pelaku usaha, lemerintah daerah, pemerintah pusat, maupun pihak swasta,” kata Mahyeldi.

Baca juga: Sumbar Ekspor Produk Pertanian Rp383,8 Miliar, Pelindo Diminta Tingkatkan Kapasitas Crane

Ia menyebut untuk memudahkan ekspor, pemprov Sumbar akan terus mendorong pengembangan Pelabuhan Teluk Bayur sebagai pintu gerbang ekspor di kawasan Indonesia bagian barat. (*/pkt)

Terpopuler

Add New Playlist