Sekilas Etnis Sunda di Sumbar: Gelombang Awal Datang Masa PRRI, Kini Capai 68 Ribu Orang

Penulis: Irfan Denas

Padang, Padangkita.com – Etnis Sunda sudah hidup berdampingan dengan masyarakat Minangkabau di Sumatra Barat (Sumbar) selama 60 tahun lebih. Saat ini, ada sekitar 68.000 orang Sunda di Sumbar.

Sebagian dari mereka masih berstatus sebagai perantau dan sebagian lagi sudah menjadi warga atau ber-KTP Sumbar.

Ketua Paguyuban Warga Sunda (PWS) Sumbar Maman Sudarman mengatakan, salah satu gelombang awal kedatangan etnis Sunda terjadi pada masa pergolakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) tahun 1959.

“Sejak PRRI, banyak tentara-tentara dari Siliwangi datang ke sini. Saat itu, Pak Soekarno memerintahkan operasi militer. Namun, asimilasi dan akulturasi antara orang Sunda dan Minang sudah terjadi sebelumnya. Sebut saja Syafruddin Prawiranegara. Ia memiliki darah Sunda dari pihak ayah dan Minangkabau dari pihak ibu,” kata Maman kepada Padangkita.com, Minggu (22/5/2022).

Maman mengungkapkan, sebagian tentara yang didatangkan semasa PRRI itu lalu memilih menetap dan melewati masa pensiun di Sumbar.

Gelombang berikutnya, kata Maman, yakni pasca-terjadinya letusan Gunung Galunggung pada 1982 di Tasikmalaya. Saat itu, pemerintah melakukan relokasi terhadap warga terdampak ke Sumbar.

“Mereka (kebanyakan) direlokasi ke Kabupaten Dharmasraya. Di sana, saat ini ada 20.000 kepala keluarga (KK). Sebagian lagi direlokasi ke Pasaman Barat,” ucap dia.

Gagasan membentuk paguyuban Sunda di Sumbar pertama kali muncul pada 1969. Organisasi awal itu bernama Ikatan Keluarga Jawa Barat (IKJB).

“IKJB Sumbar terbentuk di Kota Bukittinggi. Didirikan oleh Ir. Sutrisna Wartaputra, pegawai Dinas Kehutanan di sana,” terang Maman.

Pada 1975, IKJB berubah nama menjadi Paguyuban Warga Jawa Barat (PWJB). Ketuanya dijabat oleh Wisnu, manajer Hotel Hang Tuah di Padang. Nama PWJB bertahan hingga tahun 1997.

“Ketika terjadi pemekaran Banten dari Jawa Barat, PWJB berubah namanya menjadi PWS pada 1997. PWS dipimpin oleh Mayjen Tubagus Madsari Saiban, yang bertugas di Den Pom I/4 Padang,” lanjut dia.

Meski perjalanannya terentang panjang, PWS Sumbar baru memiliki AD/ART dan resmi menjadi entitas organisasi masyarakat pada 23 Juni 2021.

“Kelemahan organisasi terdahulu, IKJB atau PWJB, belum terbentuk AD/ART atau (mendapatkan) legalitas dari pemerintah. Belum ada akta dari notaris atau pernyataan dari Kesbangpol. Baru tahun 2021, AD/ART kita disahkan,” tutur dia.

Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah disambut dengan tari kesenian Sunda ketika mengukuhkan kepengurusan Paguyuban Warga Sunda (PWS) periode 2021-2025 di Auditorium Gubernuran Sumbar, Kota Padang, Minggu (27/3/2022). [Foto: Ist]

Kehadiran paguyuban bagi etnis Sunda di Sumbar, kata Maman, diharapkan bisa memberi manfaat bagi seluruh anggotanya sekaligus menunjukkan eksistensi dan kiprah orang Sunda di Sumbar.

“Motto kita katara ayana, karasa manfaatna. Artinya, kelihatan adanya, terlihat manfaatnya. Banyak persepsi di Sumbar, ketika melihat orang Sunda, dia tetap disebut sebagai orang Jawa. Saya misalnya, dikira orang Jawa, padahal saya dari Ciamis. Selain itu, dengan adanya paguyuban ini, kita bisa saling membantu,” lanjutnya.

Saat ini, kata Maman, PWS Sumbar sudah terbentuk di 18 kabupaten dan kota. Pada Juli 2022, pihaknya menargetkan PWS Sumbar memiliki cabang ke-19 di Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Jika perantau Minang terkenal dengan pepatah “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, perantau Sunda memiliki pepatah “silih asah silih asih silih asuh silih wanigan”.

Silih asah, saling mencerdaskan. Tidak pintar sendiri. Saling berbagi, apalagi di organisasi. Silih asuh, saling membimbing. Dari tidak bisa menjadi bisa. Silih asih, saling menyayangi. Kalau bahasa agamanya, satu terluka yang lain ikut merasakan. Silih wangian, kita harus memberi manfaat bagi daerah tempat kita berada,” ungkap Maman.

Orang Sunda di Sumbar berkecimpung dalam berbagai profesi. Mereka bergerak di bidang formal maupun non-formal, mulai dari petani hingga pengusaha.

“Masyarakat Sunda banyak juga yang bertani di beberapa daerah, seperti di Alahan Panjang. Ada lebih dari 500 KK di sana. Kemudian, juga ada ratusan KK di Koto Baru, X Koto, Tanah Datar. Mereka petani holtikultura. Banyak lagi, seperti di Sungai Puar,” papar Maman.

Salah satu faktor orang Sunda merantau, kata Maman, adalah terbatasnya lahan pertanian di daerah asal mereka. Di Sumbar, orang Sunda dan orang Minang memiliki hubungan saling mengisi.

“Orang Sunda mempunyai kemampuan bertani lebih baik. Nah, kebetulan di Sumbar, pemuda-pemudanya lebih banyak manggaleh (berdagang) ketimbang bertani. Kekosongan SDM tersebut diisi oleh orang Sunda yang sudah menjadi warga Sumbar,” kata Maman.

Baca juga: Kukuhkan Pengurus Paguyuban Warga Sunda, Mahyeldi Ungkap Peranan Sumbar-Jabar di PDRI

Selain pertanian, orang-orang Sunda banyak bergerak di sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Mereka membuka warung kuliner khas Sunda, seperti siomay dan bakso, serta usaha pembuatan tahu dan tempe. [den/pkt]

Terpopuler

Add New Playlist