Sejumlah Peribahasa dari Berbagai Daerah Bermakna Dalam yang Perlu Diketahui Milenial

Penulis: Sonia
|
Editor: Redaksi

Berita Padang hari ini dan berita Sumbar hari ini: Indonesia memiliki sekitar 718 bahasa daerah. Dalam setiap bahasa memiliki kekayaan tradisi lisan seperti pantun, syair, peribahasa, dan sebagainya

Padang, Padangkita.com– Indonesia memiliki sekitar 718 bahasa daerah. Dalam setiap bahasa memiliki kekayaan tradisi lisan seperti pantun, syair, peribahasa, dan sebagainya.

Peribahasa berisi amanat yang menjadi pedoman dalam hidup masyarakat pada masa lampau dan relevan hingga saat ini.

Peribahasa juga memiliki arti kelompok kata atau kalimat yang tetap susunannya, biasanya mengiaskan maksud tertentu. Berisi perbandingan, perumpamaan, prinsip hidup, nasihat, aturan tingkah laku, baik yang dipujikan atau dilarang dalam adat tradisi setempat.

Peribahasa daerah di Indonesia sebagai warisan kekayaan budaya saat ini dalam ranah memprihatinkan. Umumnya masyarakat mulai melupakan.

Kini, tidak semua masyarakat paham dengan peribahasa. Hanya segelintir orang saja yang tahu dan mempraktikkan peribahasa mengandung pesan muatan relevan sesuai dengan zaman.

Untuk mengenal kembali peribahasa, berikut beberapa peribahasa daerah tentang hubungan orang tua dan anak, dikutip Padangkita.com dari buku “Peribahasa Nusantara, Mata Air Kearifan Bangsa karya Iman Budhi Santosa.”

Minangkabau

“Mamaga karambia condong, pangka di awak, buah jatuh ka parak urang,”

Artinya: memagar kelapa condong, pangkal data kita, buah jatuh ke kebun orang. Peribahasa ini mengambarkan perilaku seseorang, cenderung melupakan orang yang berjasa dalam hidupnya. Serta menganjurkan agar selalu berbakti dan tahu balas budi tanpa diminta.

Bali

“Buka mesabuke, apang bisa ngihelang di bangkiange,”

Artinya: bagaikan memakai ikat pinggang agar supaya kita bisa melilitkan di pinggang. Peribahasa ini memberikan nasihat kepada seseorang agar mempertimbangkan setiap permintaan. Misalnya orang tua jangan mudah menuruti semua keinginan anak pertimbangkan dampak baik buruknya terlebih dahulu.

Bangka-Belitung

“Ati-ati kelak buntil,”

Artinya hati-hati nantinya bawa buntil. Nasihat orang-orang tua kepada anak perempuan yang sedang berpacaran agar berhati-hati dan menjaga martabatnya. Ditakutkan jika terjadi hal memalukan seperti hamil di luar nikah akan membawa aib bagi dirinya dan keluarganya.

Banjar

“Anak jangan setitilahnya kaina kuwitan diulahnya kuda,”

Artinya: anak jangan sekehendak hatinya nanti orang tua dijadikan kuda. Ungkapan ini mengandung nasihat, didiklah anak dengan ajaran moral dan budi luhur supaya kelak menjadi manusia yang berbakti kepada orang tuanya. Karena jika tidak didik dengan baik ditakutkan melenceng dari norma-norma yang ada.

Batak

“Dakdanak do sitatangtisan, natuatua siandungan,”

Artinya: anak-anaklah yang harus ditangisi, tetapi orang tua harus di-andungi. Andung artinya cetusan perasaan duka cita dengan menggunakan kata-kata indah dan teratur .Ditujukan kepada orang tua serta mereka yang sudah berumah tangga ketika meninggal dunia.

Betawi

“Ade anak ade rezeki,”

Artinya: kalau ada anak, tentu ada pula rezekinya. Ungkapan ini biasa dijadikan nasihat, peringatan dan sindiran pada seseorang yang merasa takut atau khawatir tidak sanggup memberi makan bila mempunyai anak banyak, karena sejatinya anak merupakan berkah dari Tuhan.

Bolang Mongondondow

“Singgolong dipi molabu koonda”

Artinya: buah jatuh ke mana. Sindiran bahwa perilaku anak cenderung meniru orang tuanya baik atau buruk.

Dayak Bakumpai

 

“Bua enyuh jida bakal kejau manjatu bi rapuie,”

Artinya: buah nyiur tidak akan jauh gugur dari batang pohonnya. Maksudnya, jatuhnya buah kelapa tak akan jauh dari batangnya. Sebagaimana hukum alam, sifat induk akan terus diturunkan kepada keturunannya.

Jawa

“Anak polah, bapa kepradhah,”

Artinya: setiap kali anak mempunyai permintaan, bapak (orang tua) cenderung akan meluluskannya. Maksudnya peran orang tua tidak harus memenuhi keinginan anak namun juga mempertimbangkan kepentingan atas apa yang diinginkan anak.

Jambi

“Anak berajo ke bapak, kemenakan berajo ke pemamak; gedang anak sekato bapak, gedang kemenakan sekato mamak,”

Artinya: anak beraja kepada ayahnya, keponakan berraja kepada paman; besar anak sekata ayahnya, besar keponakan sekata paman. Di mana tanggung jawab membesarkan dan mendidik anak berada di tangan ayah, sedangkan tanggung jawab membesarkan serta mendidik keponakan terletak di tangan pamannya.

Baca juga: Ada Mintuo dan “Mintuo” di Minang

Itulah beberapa peribahasa daerah di Indonesia sebagai kata mutiara yang dapat dijadikan tuntunan dalam mengarungi hidup penuh problematika ini. Tetap semangat dalam mempelajari salah satu warisan kekayaan budaya di bumi pertiwi Indonesia. [pkt]


Baca berita Sumbar hari ini hanya di Padangkita.com.

Terpopuler

Add New Playlist