Padang, Padangkita.com – Dampak bencana hidrometeorologi yang melanda Kota Padang pada November 2025 lalu masih menyisakan pekerjaan rumah yang serius. Kerusakan infrastruktur dan pendangkalan parah di Bendungan Gunung Nago, Kecamatan Pauh, kini memicu krisis air yang mengancam ribuan hektare lahan pertanian dan sumur warga.
Merespons kondisi darurat ini, Wali Kota Padang, Fadly Amran, turun langsung meninjau proses pengerukan sedimen dan perbaikan intake air di kawasan tersebut, Senin (26/1/2026). Langkah ini diambil sebagai upaya percepatan penanganan kekeringan yang mulai dikeluhkan masyarakat di Kecamatan Pauh dan Kuranji.
Di lokasi tinjauan, Fadly menegaskan bahwa normalisasi aliran air tidak bisa ditunda. Ia meminta seluruh tim teknis bekerja dengan skema percepatan atau "kejar tayang" demi menyelamatkan sawah yang mulai retak dan sumur warga yang mengering.
"Kita ingin persoalan kekeringan ini segera teratasi. Tidak bisa menunggu lama. Karena itu, pengerjaan tanggap darurat kita lakukan bersama pemerintah provinsi dan balai terkait, agar distribusi air kembali normal, mengairi sawah-sawah masyarakat, serta sumur-sumur warga dapat terisi kembali," ujar Fadly Amran dengan nada tegas.
Fadly menyadari bahwa kewenangan pengelolaan irigasi ini bersifat lintas sektoral, namun Pemerintah Kota Padang mengambil inisiatif proaktif karena dampaknya dirasakan langsung oleh warganya.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Padang, Tri Hadiyanto, yang mendampingi Wali Kota menjelaskan bahwa Daerah Irigasi (DI) Gunung Nago memiliki cakupan layanan seluas 2.800 hektare, sehingga secara kewenangan berada di bawah Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.
Namun, demi kecepatan penanganan, perbaikan dilakukan secara kolaboratif "keroyokan" antara Pemko Padang, Pemprov Sumbar, dan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V.
"Untuk saluran irigasi sebelah kanan, BWS Sumatera V membantu dua unit pompa berkapasitas masing-masing 250 liter per detik yang memompa air langsung dari sungai ke saluran irigasi. Sedangkan saluran sebelah kiri sedang dilakukan pembersihan sedimen secara gotong royong," jelas Tri Hadiyanto merinci teknis pengerjaan.
Tri juga memberikan penjelasan ilmiah terkait fenomena mengeringnya sumur-sumur warga. Menurutnya, hal tersebut terjadi karena tidak adanya resapan air dari saluran irigasi yang biasanya menjaga tinggi muka air tanah (groundwater recharge).
"Berdasarkan hasil evaluasi, salah satu penyebab kekeringan adalah menurunnya tinggi muka air tanah sehingga banyak sumur dangkal milik warga mengering. Dengan dialirkannya air ke saluran irigasi, diharapkan cadangan air tanah kembali terisi dan sumur masyarakat dapat berfungsi normal," paparnya.
Baca Juga: Semen Padang Salurkan 16 Ribu Liter Air Bersih, 600 KK di Kuranji Terbantu
Sebagai solusi cepat, saat ini tim teknis tengah membangun konstruksi penyadap air (intake) sementara. "Saat ini BWS Sumatera V tengah membuat intake sementara agar air dapat mengalir ke saluran irigasi Gunung Nago. Kita berharap dalam satu hingga dua hari ke depan, saluran sudah dapat dialiri air sehingga dapat mengatasi kekeringan di Kecamatan Pauh dan Kuranji," pungkas Tri optimis. [*/hdp]











