Presidensi G20 Momentum Menarik Investasi Dalam Negeri

Penulis: Isran Bastian

Jakarta, Padangkita.com – Presidensi G20 Indonesia menjadi momentum bagi Indonesia untuk menarik investasi dengan negara tertentu. Bahkan beberapa negara anggota G20 telah memberi sinyal positif untuk menjalin kerja sama dengan Indonesia.

Forum G20 tidak hanya menciptakan investasi dan kerja sama bilateral tetapi sekaligus memperbaiki kerja sama yang dulu penuh dengan hambatan.

Potensi kerja sama satunya adalah dengan Australia yakni Perdana Menteri Anthony Albanese yang datang ke Indonesia pada Senin (6/6/2022) untuk membawa misi kerja sama di bidang transisi energi. Selain Australia, Presiden Jerman juga akan datang ke Indonesia dalam waktu dekat untuk membahas kerjasama mengenai energi hijau.

Demikian disampaikan Deputi Kerja Sama Ekonomi Internasional Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Edi Prio Pambudi, saat Media Briefing Presidensi G20 Bersama Co-Sherpa G20 Indonesia pada Senin (6/6/2022).

“Tak hanya di bidang energi, kerja sama antara Indonesia dan negara anggota G20 juga melingkupi bidang lain seperti digital, kesehatan, hingga pendidikan yang dibantu oleh berbagai kementerian,” ujar Edi, dilansir Padangkita.com, Selasa (7/6//2022).

Edi menegaskan hal itu membuktikan bahwa Presidensi G20 memberikan keuntungan tersendiri bagi Indonesia, terutama mengenai kerja sama bilateral maupun investasi.

Presidensi G20 Indonesia juga berupaya agar manfaat dari forum itu tidak hanya dapat dirasakan oleh domestik, namun juga negara-negara lain termasuk kepulauan kecil dan Afrika.

“Makanya kami undang kelompok negara kepulauan kecil dan Afrika. Harapannya kita bisa memberikan manfaat bagi mereka,” tegasnya.

Tantangan Presidensi G20

Edi mengatakan, politik terhadap Rusia-Ukraina berdampak pada agenda dan substansi pelaksanaan Presidensi G20 Indonesia. Situasi perang yang masih timbul kemudian menimbulkan pandangan bahwa tema dan substansi G20 Indonesia tidak lagi relevan.

“Apakah tema G20 relevan dengan situasi saat ini? Saya bilang masih, tetapi tentu saja ada konsekuensi dari perang yang perlu diselesaikan. Forum G20 forum yang mendasarinya untuk menyelesaikan krisis-krisis yang terjadi di dunia. Harapannya, dengan forum G20, pendekatan yang menyenangkan adalah melalui dialog dan konvensi,” jelas Edi.

Edi, menyelesaikan penyelesaian yang dimaksud adalah, pertama, menyelesaikan krisis karena pandemi, kemudian pemulihan transformasi di agenda-agenda utama dan tambahan, tapi juga mendukung situasi damai.

Indonesia adalah negara dengan kebijakan luar negeri bebas aktif, yang menghargai kondisi masing-masing negara. Tapi, kalau dari segi perang, konstitusi Indonesia jelas, sebagai negara yang memang menghindari perang atau menolak perang, Indonesia menginginkan perang itu selesai.

“Apakah tema dan substansinya masih relevan? Sekarang. Sekarang tantangannya bertambah. Dengan adanya perang di Ukraina, ada konsekuensi baru dengan krisis yang lebih berat karena krisis energi, pangan, dan keuangan,” tambahnya.

Baca Juga: Dukungan Infrastruktur KTT G20 Ditenggat Rampung Juli 

Dia menyebutkan, sektor keuangan ini berat, karena krisis akibat pandemi belum, beban utang di mana-mana, banyak negara yang restrukturisasi, ada pula negara yang susah membayar kalau dihantam pandemi lagi. Sekarang pun, muncul kelangkaan energi dan pangan.  [*/isr]

Terpopuler

Add New Playlist