Prayitno: Kekerasan Tanda Tidak Mampu Kendalikan Diri

Penulis: Fitri Aziza
Prayitno usai diwawancara (Foto: Fitri Aziza)

Padangkita.com – Meningkatnya kasus kekerasan yang terjadi pada anak, Konselor Prayitno memandang hal itu merupakan sesuatu yang tidak perlu terjadi apabila manusia mampu mengontrol diri. Pada dasarnya kekerasan disebabkan oleh ketidakmampuan seseorang dalam mengendalikan diri.

Ada kondisi emosi tertentu yang menyebabkan orang tersebut tidak bisa mengendalikan dirinya. “Kondisi ini bermacam-macam, tergantung faktor pendorong yang datang dari luar maupun dari kemauan yang datang dari dalam,” ujarnya, Kamis (11/9/2017).

Prayitno mencontohkan kemauan diri yang dapat menyebabkan seseorang melakukan kekerasan adalah kebutuhan keuangan. Bisa saja ia melakukan kekerasan pada anak dan mengambil uang yang dimiliki oleh anak tersebut dengan paksa.

Contoh lainnya adalah orientasi seksual yang dimiliki oleh setiap individu. Apabila tidak bisa dikendalikan, dapat menyebabkan kekerasan seksual pada anak. “Anak-anak rentan kena kekerasan seksual karena pertahanan dirinya lemah dan dapat dibujuk dengan diiming-imingi sesuatu,” jelasnya.

Selain itu, teknologi informasi yang ada saat ini juga bisa menjadi perangsang terjadinya kekerasan. Beragam ujaran kebencian yang tersebar di dunia maya bisa menimbulkan dorongan kekerasan kepada yang lebih muda ataupun sesama usia. “Teknologi informasi bisa menjadi rangsangan kekerasan yang tidak terbatas,” imbuhnya.

Ada beberapa sikap yang harus dimiliki oleh seseorang sehingga ia dapat mengendalikan dirinya dari perilaku kekerasan. Menurut Prayitno, ketika mendapatkan rangsangan dari luar, seseorang harus berpikir cerdas dengan mempertimbangkan berbagai masukan yang diterima, mengemas perasaan dengan baik sehinga tidak cepat marah atau sedih, bersikap mawas, bertindak tangkas dan tidak asal-asalan, serta bertanggung jawab hingga tuntas atas segala sesuatu yang dikerjakan. “Jika ini dijalankan, seharusnya kekerasan itu tidak perlu terjadi,” sesalnya.

Solusi paling mendasar untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak menurut Prayitno adalah dengan pendidikan karakter. Menanamkan karakter kepada anak dan juga kepada masyarakat menjadi hal yang penting untuk dilakukan dalam upaya mengatasi krisis moral yang terjadi. Orang tua juga harus sabar dalam menghadapi perilaku anak yang kadang sulit diatur.

Khusus untuk perlindungan anak dari kekerasan seksual, Prayitno menambahkan bahwa orang tua dan guru perlu memberikan pendidikan kepada anak tentang bagaimana ia menjaga diri. “Pemahaman yang dapat diberikan misalnya kenapa anak perempuan tidak diperbolehkan keluar malam,” tambahnya.

Sebelumnya, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sumatera Barat Eri Gusman menyebut Sumbar sedang dalam status darurat kekerasan terhadap anak. Dari tahun ke tahun laporan kasus kekerasan terhadap anak cenderung meningkat.

LPA Sumbar mencatat ada 58 laporan yang masuk pada 2014, 117 laporan 2015, 108 laporan 2016, dan mendekati 100 laporan hingga Oktober 2017.

Kasus kekerasan tersebut, rata-rata didominasi oleh tindak kekerasan seksual yang jumlahnya mencapai 58 persen. Selain itu, juga ada kasus kekerasan fisik dan psikis terhadap anak. Pelaku kekerasan, cenderung berasal dari orang-orang terdekat korban, seperti kerabat, lingkungan, dan sekolah.

Terpopuler

Add New Playlist