Pelajar Paling Sering Jadi Korban Kekerasan Seksual

Penulis: J Sastra
ilustrasi (Foto: youtube.com)

Padangkita.com – Women Crisis Center Nurani Perempuan merilis catatan kekerasan seksual mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Bahkan tahun 2017 menjadi 72 kasus meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 54 kasus.

Dari data tersebut, pelajar menjadi kelompok usia yang paling banyak menjadi korban tindak kekerasan seksual. Pada 2017, setidaknya ada 30 kasus yang menimpa pelajar tingkat SMA, diikuti pelajar SD 24 kasus dan pelajar SMP 16 kasus.

Sementara itu, bila dilihat dari segi usia, terdapat 47 kasus pada korban usia 0-18 tahun, 53 kasus usia 12-24 tahun, 37 kasus usia 12-24 tahun, dan 16 kasus usia 18-24 tahun. Korban pada rentang usia 18-24 tahun (remaja) tersebut rentan tidak mendapatkan penanganan hukum.

“Menurut UU Perlindungan Anak, anak dianggap usia 0-18 tahun. Untuk korban usia 0-18 tahun, mereka akan aman bila melapor ke aparat keamanan. Namun, ketika korban berusia 12-24 tahun (remaja), banyak tantangannya, apalagi saat berusia 18-24 tahun, sangat susah melapor ke penegak hukum,” ujar Direktur Nurani Perempuan Yefri Heriani, Sabtu (30/12/2017).

Menurut Yefri, pelaku kekerasan seksual umumnya adalah orang yang dikenal dan di beberapa kasus pelakunya lebih dari satu orang.

Pelaku paling banyak adalah tetangga dengan 14 pelaku, disusul pacar 10 pelaku, oknum aparat 8 pelaku, ayah kandung 6 pelaku, penjaga keamanan 5 pelaku, teman 2 pelaku, dan kenalan di Facebook 2 pelaku.

Selain itu, juga ada kakak kandung, paman, guru, pelatih, dukun, dan mantan pacar dengan masing-masing 1 pelaku. Sementara, untuk orang tidak dikenal ada 10 pelaku.

Berdasarkan catatan tahunan Nurani Perempuan tahun 2017, ada 132 kasus dengan 110 korban yang dilaporkan ke lembaga tersebut. Jumlah tersebut meningkat 23 kasus dari tahun sebelumnya yang berjumlah 109 kasus.

Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, kasus kekerasan seksual mendominasi jumlah total laporan dengan 72 kasus, diikuti oleh KDRT 47 kasus, perdagangan manusia 4 kasus, kekerasan dalam pacaran 2 kasus, dan bentuk kekerasan lainnya yang berbasis gender 7 kasus.

Kota Padang pun menjadi kota dengan jumlah masyarakat paling banyak melaporkan tindak kekerasan terhadap perempuan kepada Nurani Perempuan dengan 75 kasus. Hal itu tidak terlepas dari dekatnya akses masyarakat terhadap kantor Nurani Perempuan.

“Maka kita mengharapkan kepada pemerintah untuk menyediakan dan mempromosikan lembaga-lembaga layanan di berbagai daerah sehingga perempuan korban kekerasan mudah mengaksesnya. Nah, ketika diakses, negara juga harus menyediakan orang-orang profesional di dalam lembaga layanan itu untuk mendampingi dan memastikan proses pemulihan korban,” harap Yefri.

Terpopuler

Add New Playlist