Muasal Penamaan Kereta Api Sibinuang, Nama Kerbau Sakti Milik Seorang Raja di Ranah Minang

Penulis: Sonia
|
Editor: Zulfikar

Berita Padang hari ini dan berita Sumbar hari ini: Nama Sibinuang merupakan nama kerbau sakti milik seorang raja di Ranah Minang.

Padang, Padangkita.com – Kereta Api Sibinuang baru saja terlibat kecelakaan dengan sebuah mini bus di kawasan Perumahan Monang Indah, Kelurahan Lubuk Buaya, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Selasa (4/5/2021).

Dari kejadian tersebut, tidak ada korban jiwa dilaporkan, sedangkan mini bus ringsek dihantam kereta api. Akibat kejadian itu, perjalanan kereta dari Padang menuju Naras terhenti beberapa waktu.

Kecelakaan yang melibatkan KA Sibinuang juga terjadi sehari sebelumya, yaitu pada Minggu (3/4/2021). Kecelakaan itu melibatkan Toyota Kijang Inova di Lubuk Buaya, beruntung sopir dan lima orang penumpang selamat. Namun, dua di antaranya mengalami luka ringan.

Sederet kecelakaan yang terjadi ini bukanlah kali pertama melibatkan KA Sibinuang dan kereta api lainnya di Kota Padang. Data yang dihimpun oleh PT KAI Divre II Sumbar total ada 16 kejadian kecelakan kereta tahun 2021 ini.

Terlepas dari peristiwa tersebut, ada yang menarik yang perlu kita cermati, yaitu nama dari kereta api tersebut, Sibinuang.

Kali ini, Padangkita.com akan membahas penamaan kereta api dengan nama Sibunuang itu.

Nama Sibinuang merupakan nama kuda yang menemani perjalanan Cindua Mato dalam Kaba Cindua Mato. Kerbau tersebut diberikan nama Si Binuang oleh Bundo Kanduang kerajaan Pagaruyuang. Si Binuang dikisahkan memiliki tubuh yang besar dan sangat jinak.

“Gadang nan bukan alang kepalang. Merajalela di tengah padang. Dia nan jinak tak tanggung-tanggung. Setahun tak pernah masuk ke kandang. Jika di bawah langit ini, tidak adalah orang yang mempunyai kerbau sebesar itu. Besar sedikit dari gajah, kecil sedikit dari lembu,” kutipan buku Badai Bukan dari Timur Alih Media Hikayat Tuanku Nan Muda Pagaruyung.

Dikisahkan dalam kaba, pada suatu hari Cindua Mato mendapat tugas dari Bundo Kanduang untuk ke Sikalawi mengunjungi Puti Bungsu, tunangan Dang Tuanku. Dang Tuanku merupakan putra dari Bundo Kanduang dan Rajo Alam Paguruyuang.

Pengutusan Cindua Mato lantaran beredarnya kabar Puti Bungsu akan dinikahkan dengan Imbang Jayo, Raja Sungai Ngiang. Kabar tersebut membuat Bundo Kanduang tersinggung, sehingga diperintahkan Cindua Mato ke Sikalawi.

Sementara itu, tanpa sepengetahuan Bundo Kanduang, secara diam-diam Dang Tuanku meminta Cindua Mato untuk membawa Puti Bungsu ke Pagaruyung bagaimana pun caranya.

Cindua Mato kemudian menunggangi kuda sakti gumarang menuju Sikalawi dari Pagaruyuang. Cindua Mato juga diiringi oleh Sibinuang, kerbau itu rencananya akan dijadikan mas kawin Dang Tuanku untuk Puti Bungsu.

Dalam perjalanannya, Cindua Mato diserang oleh orang suruhan Imbang Jayo. Namun, hal tersebut dapat diatasi dengan bantuan Si Binuang.

Cindua Mato akhirnya berhasil ke Sikalawi dan menculik Puti Bungsu. Meski tindakan Cindua Mato itu tidak terpuji dan harus disidang secara adat. Namun, Puti Bungsu akhirnya menikah dengan Dang Tuanku.

Baca juga: Gumarang, Nama Kuda Milik Raja yang Dilekatkan Pada Bus, Didirikan Orang Bukittinggi di Lampung Tahun 1974

Selain itu, nama kuda Pagaruyuang Gumarang juga menjadi nama kereta api. Namun, bedanya jika KA Sibinuang melayani penumpang di Sumbar, KA Gumarang melayani penumpang dari dan ke Jakarta-Surabaya. [zfk]


Baca berita Padang hari ini dan berita Sumbar hari ini hanya di Padangkita.com.

Terpopuler