Merdeka Belajar Lahirkan Generasi L (Generasi Literatus)

Penulis: Ria Febrina

Frasa merdeka belajar seketika menggema ke seluruh nusantara. Dari Aceh hingga Papua. Dari siswa SD hingga mahasiswa. Mengapa merdeka belajar? Apakah kita selama ini terjajah dalam belajar, terkukung dengan pemikiran?

Tidak, tentu saja jawabannya tidak. Dalam KBBI, merdeka adalah (1) bebas (dari dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); berdiri sendiri, (2) tidak terkena atau lepas dari tuntutan; (3) tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa. Sementara itu, belajar adalah (1) berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu; (2) berlatih; (3) dan berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Dengan demikian, merdeka belajar dapat didefenisikan menjadi leluasa menentukan sikap dalam memperoleh ilmu atau kepandaian.

Frasa merdeka belajar ini bisa menjadi kalimat sakti bahwa kita perlu berpikir kreatif dalam menikmati pengetahuan. Dari pengalaman saya sebagai seorang dosen, ada mahasiswa yang sudah menggagas ide membuat permainan digital mengenai kampus online. Mahalnya biaya pendidikan membuat mahasiswa ini memberikan kesempatan kepada siapa pun yang menjadi pemain game mengklaim diri sebagai seorang mahasiswa. Mereka bisa mendaftar dan mendapatkan nomor buku pokok (BP), memilih jurusan, dan mengikuti kuliah online. Di dalamnya ada mata kuliah yang ditawarkan, video pembelajaran, hingga transkrip nilai dan wisuda kelulusan jika mereka berhasil menyelesaikan permainan.

Sebagai pengajar, saya belajar darinya. Sebagai seorang mahasiswa, ia mempunyai karakter peduli dengan kecerdasan bangsa. Pendidikan yang belum merata ke seluruh Indonesia membuatnya menggagas permainan ini. Sebuah gagasan yang bagus. Memindahkan dunia pendidikan ke dunia digital. Ya, dalam kebijakan merdeka belajar, ruang belajar tidak lagi di dalam kelas, tetapi meluas ke luar kelas, didesain menjadi kelas global.

Misalnya, jika ada pertanyaan, apa itu kewirausahaan? Ajaklah peserta didik melihat potensi di sekitar mereka dan melihat bahan baku apa yang bisa diolah menjadi sebuah usaha. Di Minangkabau misalnya, terdapat penganan godok pisang sebagai penganan yang berbahan dasar pisang dan tepung. Bagi peserta didik yang kreatif, godok pisang ini akan berubah nama menjadi gopis, yaitu singkatan dari godok pisang. Inilah yang dinamakan dengan kreativitas berbahasa. Lalu, olahan yang secara tradisional tanpa isi ini kemudian secara kreatif diubah menjadi makanan kekinian dan lahirlah gopis isi keju, gopis isi coklat, atau gopis isi bluebery. Makanan yang selama ini hanya dinikmati oleh orang tua bisa disukai juga oleh anak muda. Gopis pun bisa menjadi produk khas yang dipasarkan secara online melalui instagram atau disajikan di cafe yang selama ini diisi dengan menu barat, seperti sandwich atau kentang goreng. Desain seperti ini yang diharapkan dari merdeka belajar, yakni mendekatkan khazanah budaya ke ruang-ruang diskusi yang menjadi tempat tongkrongan generasi muda.

Dari catatan saya di kampus hijau, sejumlah mahasiswa sudah melahirkan puluhan karya kreatif (puisi, cerpen, novel, buku inspirasi, film dokumenter); puluhan aplikasi berbasis online untuk membantu kehidupan pedagang kaki lima; puluhan desain teknologi rumah gadang, olahan kekinian makanan tradisional, baju Minangkabau dengan motif modern, serta aneka aplikasi, seperti aplikasi belanja online bercorak Minangkabau dan aplikasi transportasi online menggunakan nama Minangkabau.

Dari celotehan mereka di instagram dan YouTube, sejumlah tempat wisata di perbukitan dan di pesisir pantai Sumatera Barat dipromosikan dan telah menumbuhkan ekonomi kreatif masyarakat. Nelayan juga tak berjuang sendiri memasarkan ikan, ada komunitas berantas tengkulak yang didesain sehingga harga ikan naik, masyarakat mendapat ikan segar, dan kesejahteraan nelayan pun meningkat.

Dahulu anak-anak ditutup mulutnya dengan cerita magis dan menakutkan jika bertanya hal-hal yang tabu dan ilmiah, yaitu hal-hal yang hanya bisa dijelaskan oleh seorang doktor dan profesor. Sekarang anak-anak usia 5 tahun sudah mampu menjawab sendiri bagaimana proses terjadinya hujan, mengapa bumi bulat, atau mengapa bayi bisa lahir dari perut ibu.

Inilah metamorfosis belajar. Mereka merupakan generasi literarus atau generasi L yang lahir dari kebebasan bertanya, kebebasan berpikir, dan kebebasan menemukan solusi. Dalam bahasa Latin, literatus merupakan orang yang belajar. Mereka tumbuh dengan kemampuan literasi yang baik. National Institut for Literacy menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan literasi adalah kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga, dan masyarakat.

Generasi L haus jawaban dan mau belajar sendiri menemukan jawaban dengan membaca, menulis, dan memproduksi karya. Bahkan, seorang siswa atau mahasiswa mampu menjadi sosok yang membuka lapangan pekerjaan untuk puluhan tenaga kerja. Dari kampus merdeka, mereka bisa menjadi founder dari berbagai produk yang dihasilkan.

Inilah merdeka belajar itu. Akses ke dunia digital saat ini begitu mudah. Sejumlah aplikasi pembelajaran bebas diunduh dan juga diunggah. Video pembelajaran bebas ditonton. Kurikulum pendidikan boleh diakses, diambil, dan diperbandingkan untuk mencari format kurikulum yang mampu membuat peserta didik memenuhi kompetensi pembelajaran. Bagi orang Minangkabau, alam takambang jadi guru. Belajar dari alam nyata dan kini tentunya juga belajar dari alam maya.

Guru atau dosen harus menciptakan peserta didik menjadi pribadi yang solutif bagi masyarakat sekitar. Itulah sebab mengapa Soekarno menyatakan bahwa “Beri aku seribu orang tua, akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Dalam merdeka belajar, inilah yang diusung, mengubah mindset anak menjadi growth mindset. Setiap orang mempunyai kapasitas potensial yang bisa dikembangkan melalui kemampuan berpikir kritis dan berpikir kreatif terhadap permasalahan yang nyata. Generasi L dibekali dengan basic literary mindset.

Sebagai pengajar yang bergerak di bidang bahasa dan sastra, saya selalu tanamkan satu hal kepada mahasiswa bahwa “Jadi apa pun kalian nanti (profesi), jadilah seseorang yang bisa menulis”. Konsep yang selama ini saya usung selama belajar sastra bersama Yusrizal KW, sastrawan Sumatera Barat. Dalam merdeka belajar, hal tersebut bersua sebab merdeka belajar sulit diwujudkan tanpa adanya transformasi kurikulum dari padat konten ke padat literasi.

Selama ini paradigma masyarakat selalu mengarahkan literasi pada sastra, padahal basic literacy itu memperkuat kompetensi seseorang dalam membaca, menulis, menyimak, menutur, matematika dasar, dan digital mindset.  Itulah sebab mengapa eksplorasi pembelajaran itu amat penting.

Sejumlah video atau aplikasi yang saat ini marak dilahirkan siswa sekolah dan mahasiswa merupakan konsep mengubah basic literacy menjadi digital competencies. Peserta didik tidak hanya disuguhkan referensi secara teoretis, tetapi dituntut mengubah teori (bacaan dan hitungan) menjadi sebuah konten (produk digital) yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Belajar yang tidak hanya menyerap gagasan dari guru, tetapi guru pun belajar dari peserta didik. Konsep merdeka belajar dengan tagline bantu guru belajar. Guru yang baik tidak memaksakan gagasan belajar yang dulu ia peroleh, tetapi membawa dirinya berbaur dengan dunia peserta didik yang erat dengan teknologi.

Generasi L tidak hanya belajar, tetapi juga mencipta. Oleh karena itu, penting bagi guru atau dosen untuk update literasi. Buku bacaan, media sosial, ebook, youtube, dan aplikasi praktis yang disajikan di play store harus diserap sebagai media pembelajaran yang kreatif. Guru dan dosen harus berkolaborasi dengan siswa dan mahasiswa. Generasi L tidak hanya melahirkan peserta didik yang kreatif, tetapi juga pengajar yang solutif.


Ria Febrina, S.S., M.Hum. 
Dosen Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas