Mengintip Aksi Budidaya dan Pemburu Madu Galo-galo di Nagari Tapi Selo Tanah Datar

Penulis: Redaksi

Tanah Datar, Padangkita.com – Memiliki khasiat tinggi bagi kesehatan tubuh, ditambah potensi nilai ekonomi yang menjanjikan, berbagai upaya dilakukan untuk mendapatkan madu. Baik madu lebah maupun dari Kelulut (Galo-galo).

Di Nagari Tepi Selo, Kecamatan Lintau Buo Utara, Kabupaten Tanah Datar  ada warga yang membudidayakan madu Kelulut atau lebih dikenal Madu Galo-galo, lalu seperti apa? Berikut penelusuran Padangkita.com.

Hampir tiga tahun terakhir, lebih dari sepuluh orang warga di Nagari Tepi Selo melakukan budidaya Madu Kelulut. salah satunya Muhammad Nasir warga Tae, Jorong Padang Laweh,  Nagari Tepi Selo.

Usaha yang digelutinya itu sudah dilakukan sejak 2, 5 tahun terakhir. Bahkan pasar yang ditempuhnya bisa menembus luar provinsi. Hanya saja, sejak pandemi melanda,  uga berimbas pada usahanya.

Usaha Madu Galo-galo yang dikelolanya melalui pendampingan dari temannya tersebut hingga saat ini masih berjalan. Namun, berkurangnya daya beli dari masyarakat akibat dilanda pandemi Covid 19, berimbas  juga terhadap usahanya itu.

Jika biasanya hasil madunya bisa dijual hingga ke Pekanbaru,  saat ini M Nasir bahkan terpaksa harus menjajakan madunya di pasar tradisional yang ada di Lintau maupun ke rumah-rumah orang kampung.

Nasir mematok harga jual Madu yang diberinya nama Madu Kelulut itu tergantung ukuran botol. Harga yang dipatoknya untuk botol berukuran 75ml, dihargai sebesar Rp 75 ribu, dan Rp 150 ribu untuk botol berukuran 150ml, atau Rp 850 ribu untuk satu liter.

M Nasir mengatakan, jika Madu Kelulut atau Madu Galo-galo yang diproduksinya dipercaya memiliki khasiat bagi kesehatan seperti obat untuk asam lambung, memperlancar aliran darah dan banyak lainnya.

“Dahulu pernah dijual hingga ke Pekanbaru dan Batam. Sejak Covid 19 daya beli masyarakat turun drastis,  jadi saat ini pemasaran agak susah,” ujarnya saat ditemui di kediamannya di Tae,  Jorong Padang Laweh,  Nagari Tepi Selo, Senin (24/1/2022).

Nasir menjelaskan, jika untuk masa panen Madu yang dikelolanya dilakukan sekali 45 hari. “Biasanya untuk sekali panen, satu koloni atau sarang itu bisa hasilkan sekira 150 ml, saat ini saya punya 35 sarang,” sebutnya.

Usaha itu untuk saat ini di Tepi Selo saja telah digeluti oleh sepuluh orang yang tergabung dalam satu kelompok usaha bersama Nasir. Usaha itu dibuat di kediaman masing-masing oleh setiap orang di dalam kelompok itu.

“Sebenarnya tidak terlalu sulit dan butuh modal banyak,  hanya saja yang mesti disediakan tempatnya,  kemudian untuk mencari Galo-galonya dicari di rimba perbukitan,  bahkan saya pernah mencari di bukit-bukit sampai ke Sawahlunto,  Sijunjung,  dan bukit sekitaran Lintau,” ujarnya.

Bisa juga katanya, dibeli dari orang dengan dihargai hingga Rp 300 per sarang. Namun, biasanya Nasir lebih suka mencari sendiri ke dalam rimba.

Untuk hasil produksi madu Kelulutnya itu, sudah diuji tingkat PH (kadar asam) di laboratorium di Bandung. “Untuk bisa mengumpulkan hingga 35 koloni ini saya habiskan waktu hingga delapan bulan,” ujarnya.

Selain di Lintau sendiri, usaha tersebut juga saat ini banyak digeluti di daerah Sawahlunto. “Enaknya kalo di tempat lain, mereka didampingi oleh pemerintah, kalau kita disini masih sebatas usaha masing-masing,” sebutnya.

Nasir saat ini harus menjajakan hasil usahanya bahkan hingga ke Pasar Tanjung Ampalu,  Sijunjung. “Karena itu tadi,  berkurangnya pasaran terpaksa kita yang langsung berjualan ke pasar-pasar atau ke tengah-tengah kampung,” ujarnya.

Baca Juga : 250 Hektare Sawah di Kajai Tanah Datar Telantar Sejak 5 Bendungan Rusak Tahun 2018

Nasir berharap, agar kondisi kembali normal hingga daya beli masyarakat kembali bergairah. Meski usaha itu sampingan sebutnya,  namun memiliki prospek yang bagus. [djp/Pkt]

Terpopuler

No Content Available

Add New Playlist