Mengenang Rais Abin, Putra Koto Gadang yang Jadi Mediator dalam Konflik Arab-Israel

Penulis: Sonia

Berita Padang hari ini dan berita Sumbar hari ini: Rais Abin adalah putra Minangkabau yang menjadi tokoh militer dan diplomat.

Padang, Padangkita.com – Kabar duka datang dari veteran Indonesia. Letjen TNI (Purn) Rais Abin meninggal dunia dalam usia 95 tahun pada Kamis (25/3/2021) malam di Jakarta. Rais Abin adalah putra Minang yang menjadi tokoh militer dan diplomat.

Ia lahir di Koto Gadang Agam, Sumatra Barat (Sumbar) pada 15 Agustus 1926. Rais Abin sebelumnya tidak memiliki pendidikan militer, ia menempuh pendidikan dasar di Koto Gadang.

Lalu melanjutkan ke Sekolah Pertanian Menengah di Sukabumi, Jawa Barat sambil bekerja di sebuah perkebunan yang berlokasi di antara Purwakarta dan Cikampek. Namun, ketika melihat banyak pemuda yang berjuang mengusir penjajahan Belanda dengan mengangkat senjata, Rais Abin mendaftarkan diri ke Markas Tertinggi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di bagian operasi luar negeri.

Setelah itu ia menempuh pendidikan militer di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SSKAD), sekarang Seskoad pada tahun 1950. Setelah sekolah, Rais Abin memperoleh pangkat mayor. Kemudian pada tahun 1962 ia mengikuti ujian sekolah perwira di Australia. Tahun 1965 ia menyelesaikan sekolahnya di Australia dan naik pangkat menjadi kolonel.

Pendidikannya yang mumpuni dan menjalani tugas militer dengan baik, mengantarkan Rais Abin ke dalam tugas yang berat yaitu menjadi panglima pasukan perdamaian PBB.

Rais Abin merupakan salah seorang tokoh di balik layar dalam sejarah perdamaian di Timur Tengah. Ia terlibat dalam perundingan damai Camp David antara Israel dan Mesir tanggal 17 September 1979 yang dibantu mediasi Amerika Serikat zaman Presiden Jimmy Carter.

Pada tahun 1976 – 1979, ia dipercaya sebagai panglima United Nations Emergency Forces (UNEF) II. Force Commander PBB adalah pejabat militer suatu negara yang memimpin misi perdamaian PBB mencakup operasi Pasukan Penjaga Perdamaian (UN Peacekeeper) dan pengamat militer (military observer) di satu lokasi konflik, dalam hal ini Semenanjung Sinai.

Panglima Misi Perdamaian PBB di Semenanjung Sinai tahun 1976-1979, yang mengawasi gencatan senjata Israel- Mesir. Dalam misi perdamaian ini, Rais Abin memimpin 4.000 prajurit yang berasal dari berbagai negara di dunia, yaitu Australia, Austria, Kanada, Finlandia, Ghana, Indonesia, Irlandia, Nepal, Panama, Peru, Polandia, Senegal, dan Swedia.

Semenanjung Sinai diduduki Israel pascakonflik Arab-Israel menyusul perang enam hari tahun 1967 dan masih dikuasai Israel hingga Perang Yom Kippur tahun 1973.

Dalam buku “Catatan Rais Abin, Panglima Pasukan Perdamaian PBB di Timur Tengah 1976-1979 Mission Accomplished–Mengawal Keberhasilan Perjanjian Camp David” ditulis oleh Dasman Djamaluddin, diungkap, Rais Abin mengambil langkah yang tidak populer.

Ia menghubungi pihak Israel dalam kapasitasnya sebagai pejabat PBB. Ia kemudian menjadi fasilitator dalam pertemuan Presiden Mesir Anwar Sadaat dengan PM Israel Menachem Begin di bulan Oktober tahun 1977. Perdamaian itu kemudian menghasilkan putusan tentara Israel mundur dari Semenanjung Sinai yang sebelumnya telah diduduki sejak tahun 1967.

Rais Abin pensiun dengan pangkat Letnan Jenderal. Di masa pensiunnya sebagai tokoh militer ia mengabdi sebagai Sekjen KTT Nonblok periode 1991-1992. Di bidang diplomasi, ia menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia pada tahun 1982, dan Singapura.

Baca juga: Mengenang Mantan Jaksa Agung Basrief Arief, Urang Awak Alumni Unand Sang Pemburu Koruptor

Terakhir, Rais Abin didapuk menjadi Ketua Umum Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI). Oleh karena kiprahnya, ia dianugerahi Bintang Mahaputra Adipradana dan Bintang Mahaputra Utama dari Presiden Republik Indonesia serta juga mendapat Medali Perdamaian dari PBB. [pkt]


Baca berita Padang hari ini dan berita Sumbar hari ini hanya di Padangkita.com.

Terpopuler