Kuasa Dukun Perempuan

Penulis: Ka'bati

Di perpustakaan Ruang Kerja Budaya (RKB) ada sebuah buku menarik, Doekoen judulnya. Buku ini bercerita tentang kuasa seorang dukun perempuan serta pertentangan rasionalitas Barat dengan primitivisme Timur. Ini roman terakhir yang ditulis oleh Madelon Szekely- Lulofs, seorang pengarang perempuan Belanda kelahiran Surabaya.

Kisah dalam Doekoen beranjak dari pengalaman nyata penulisnya selama tinggal di kawasan perkebunan karet Deli Sumatra Utara, pada tahun 1920-1930-an. Awalnya terbit sebagai cerita bersambung di majalah wanita mingguan Margriet (20 September 1952 – 11 April 1953), namun pada tahun 2001 dicetak sebagai buku oleh penerbit KITLV Leiden.

Diceritakan tentang Marian dan Dolf, pasangan suami istri yang  tinggal di kawasan perkebunan karet Deli Sumatera Utara. Dolf bekerja sebagai asisten di perkebunan itu. Dan Marian seorang penulis. Mereka sudah cukup lama tinggal di perkebunan itu, tetapi tidak tahu kalau di belakang kawasan perkebunan–tempat mereka tinggal–ada sebuah pemukiman orang Melayu. Kampung yang sangat kumuh dalam pandangan orang Eropa. Penduduknya punya kebiasaan hidup jorok karenanya banyak yang berpenyakit kulit. Dokter Langhuis, tenaga medis yang dikirim pemerintah untuk menangani penyakit di kawasan perkebunan, mengatakan di kampung itu tinggal seorang perempuan tua yang berprofesi sebagai dukun (herbalis). Dukun itulah yang mengacaukan misi-misi kesehatan modern yang dikembangkannya. Dari interaksi dengan penghuni kampung itu pula para kuli perkebunan akhirnya terkontaminasi penyakit tropis seperti kolera, tifus dan disentri. Namun yang paling buruk yang merajalela di sana adalah jenis penyakit takhayul dan perdukunan.

Diceritakan oleh Madelon, bagaimana logika para tokoh–Pasangan suami istri Marian dan Dolf serta Dokter Langhuis– harus bertabrakan dengan keahlian seorang dukun perempuan yang jauh lebih dipercaya oleh para kuli perkebunan untuk menyembuhkan aneka macam penyakit yang mendera mereka. Tokoh antagonis itu bernama Tasmiah. Namun sayangnya dalam kisah tersebut Tasmiah si dukun perempuan tidak diberi kesempatan untuk bicara. Sudut pandang yang digunakan pengarang terasa satu arah sehingga persoalan kesehatan yang menjadi pembahasan diselesaikan laksana seseorang yang meneropong dari geladak kapal saja.

Kolera, cacar, demam tifoid (tifus), malaria ataupun disentri menurut ahli medis adalah penyakit yang bersumber dari gaya hidup yang kotor, lingkungan kumuh dan tidak pedulinya orang-orang dengan standar kesehatan. Ironisnya dukun perempuan bernama Tasmiah-lah yang lebih dipilih oleh para kuli untuk mengobati jenis penyakit itu, bukan dokter atau pergi ke rumah sakit. Padahal, fasilitas untuk itu awalnya diberikan gratis. Keadaan semakin rumit dan kepercayaan akan pengobatan modern pun semakin terkikis ketika pemerintah mencabut bantuan kesehatan. Ketika tidak membayar saja, mereka tak percaya dengan obat-obat modern apa lagi ketika harus membayar.

Betapa frustrasi Dokter Langhuise, bisa digambarkan dari kalimatnya:

“Een oude en zogenaamd wijze vrouw, een medicijnvrouw. Zij knoeit daar met allerlei inheemse middeltjes, met toverdranken en vieze smeerseltjes en weet ik wat niet al. De koelies, die hier als contractanten uit dorpen op Java zijn aangevoerd, zijn van hun kindstijd af vertrouwd met de persoon van zo’n medicijnvrouw en gaan veel leiver met hun kwalen naar haar, dan dat ze bij mij in het hospitaal komen, want ze begrijpen niets van de moderne westerse methoden” (hal.148). (Seorang perempuan tua tukang obat yang konon bijak sudah mengacaukan segala macam obat asli dengan ramuan-ramuan yang kotor. Kuli-kuli yang dibawa ke sini dari desa-desa Jawa sudah akrab dengan perempuan seperti itu bahkan mungkin semenjak kecil. Apa pun penyakit mereka akan pergi menemuinya dari pada datang ke rumah sakit. Itu karena mereka tidak mengerti metode barat yang modern).

Dilema yang dialami Dokter Langhuise seolah menjadi persoalan klasik di dunia medis kita, bahkan sampai hari ini. Di media-media massa masih banyak pemberitaan bagaimana tenaga medis harus berjuang meyakinkan masyarakat akan bahaya pandemi virus Corona (Covid-19), di antara masih banyaknya warga yang seolah tidak peduli akan bahaya virus yang mengancam. Dan sama seperti kisah Tasmiah, masyarakat dalam hal ini lebih sering dihakimi sebagai pihak yang tidak patuh.

Novel Doekoen di atas sempat menuai kritik, terutama karena bias pandangan terhadap masyarakat pribumi oleh pihak penjajah (kaum kolonial). Ada yang menganggap bahwa ide tentang superioritas Barat dan dunia modern dalam novel ini–dan dua novel lainnya yang ditulis Madelon dengan latar yang mirip; Koelli (1931) dan Rubber (1931)–kemudian menjadi misi bagi kelompok-kelompok terdidik secara Barat untuk memodernkan dunia medis di Indonesia. Tetapi yang jauh lebih menarik menurut saya adalah bagaimana si pengarang menempatkan tokoh Dokter Langhuise, seorang bangsa kolonial, berpendidikan modern dan terutama seorang laki-laki harus berhadapan dengan seorang dukun pribumi yang buta huruf dari kampung kumuh dan seorang perempuan. Realitas dalam novel ini menunjukkan pada kita bahwa kepercayaan merupakan faktor penting yang harus dibangun selain obat dan fasilitas medis yang serba modern. Pengetahuan modern tidak akan banyak gunanya kalau keyakinan masyarakat tidak terbangun. Dan di sinilah kemenangan Tasmiah walaupun dia tak sempat bersuara.

Perempuan dan Dunia Medis

Terlepas dari ide superioritas dan kepentingan-kepentingan politik kolonial, sejarah mencatat bahwa tahun yang menjadi latar penulisan novel Doekoen ini (1920-an) ini bersamaan dengan mulai dibukanya kesempatan bagi perempuan pribumi masuk dan mengenal pendidikan medis secara modern.

Marie Thomas (1896-1966) tercatat sebagai dokter perempuan pertama di Indonesia. Dia lulus dari STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen), sekolah kedokteran pertama di Hindia Belanda, pada tahun 1922. Padahal pendidikan kedokteran di Indonesia sudah diadakan semenjak tahun 1849 lewat keputusan Gubernemen nomor 22. Sementara STOVIA sendiri resmi berdiri tahun 1889. Jelas butuh waktu lama bagi perempuan bisa menempuh pendidikan medis secara modern, sementara perkembangan penyakit sudah jauh lebih awal.

Bisa dibayangkan bagaimana kondisi dunia medis sebelum Marie Thomas—perempuan kelahiran Likopang Minahasa Sulawesi Utara 17 Februari 1896—mencatatkan diri sebagai perempuan pertama yang mendapat kesempatan kuliah di STOVIA dan kemudian lulus sebagai dokter. Ibu melahirkan, kesehatan ibu dan anak, persoalan gizi balita, perempuan korban perkosaan dan berbagai penyakit pandemi lainnya yang menimpa rakyat di Hindia Belanda jelas tidak tertangani dengan baik sampai ke lapisan masyarakat terbawah. Perempuan pesakitan yang dibuang ke hutan, dibakar atau dihanyutkan di sungai menjelma seperti dongeng tapi nyata. Dalam situasi seperti itu, kebutuhan masyarakat akan pengobatan umumnya ditangani oleh para dukun. Salah satunya oleh Tasmiah seperti dicatat dalam novel realis karya Madelon.

Ruang medis tidak dibuka secara adil. Bagaimana kepercayaan dan kesejahteraan bisa tegak kalau persoalan rasial baik antar bangsa penjajah maupun kaum pribumi masih dipertahankan, bias gender perempuan oleh laki-laki masih dipertahankan berikut juga superior dan inferior ilmu pengetahuan terus berlangsung.

Sebelum Marie Thomas terdaftar di sekolah tersebut, STOVIA tak lebih dari sekolah buat anak laki-laki saja. Pemerintah mempersulit aturan bagi perempuan. Ada anggapan bahwa perempuan tidak ada kemauan dan kemampuan untuk menembus batas wilayah medis tersebut. Sehingga, dari 180 siswa seangkatannya hanya Marie satu-satunya yang perempuan.

Ada beberapa faktor pendorong yang kemudian memaksa Gubernur Hindia Belanda kala itu membuka peluang bagi perempuan untuk masuk ke sekolah dokter (STOVIA); karena terbatasnya jumlah tenaga medis sementara wabah penyakit seperti kolera, tifus, disentri, cacar juga malaria terus merebak di wilayah-wilayah jajahan, dan karena kehadiran Aletta Hendriette Jacobs di Hindia Belanda.

Mengenai siapa Aletta, pada tanggal 9 Februari 2017 mesin pencari Google memunculkan doodle (coretan) dokter perempuan pertama Belanda bernama Aletta Jacobs. Dia menjadi istimewa bukan saja karena tercatat sebagai perempuan pertama yang berhasil lulus dari universitas, tetapi juga karena perjuangan-perjuangannya dalam mewujudkan kesetaraan dan keadilan bagi perempuan. Google ternyata butuh waktu lama buat mencatatkan jejak perjuangan Aletta.

Aletta Jacobs (1854-1929) secara resmi lulus sebagai dokter dari universitas Groningen, 8 Maret 1879 setelah menempuh studi selama delapan tahun. Aletta tidak saja dikenal sebagai dokter tetapi juga aktivis pejuang hak-hak perempuan. Lahir dari keluarga Yahudi yang taat, Aletta—dari berbagai literatur— digambarkan sebagai perempuan yang tegas dan berkarakter kuat. Ayahnya seorang dokter desa yang punya kepedulian tinggi terhadap masyarakat. Pada masa-masa awal, anak ke delapan dari dua belas orang bersaudara ini belajar tentang kedokteran dan pelayanan medis dengan ayahnya. Ayahnya juga mengajarkan Aletta bahasa Latin, Yunani, matematika dan sejarah, sesuatu yang mustahil bisa dipelajari oleh anak perempuan pada masa itu. Akses pendidikan bagi perempuan di Nederland pada abad ke 19 masih sangat sulit. Pada tahun 1867, di desa kelahirannya Sappemeer, tidak ada seorang pun anak gadis yang diizinkan masuk sekolah menengah. Bayangkan, bagaimana tidak akan tertinggalnya mereka. Namun Aletta tidak menyerah, dia terus belajar. Sampai kemudian dia mengirim surat kepada perdana menteri untuk diizinkan kuliah di Universitas Groningen, dengan jaminan dari bapaknya Abraham Jacobs.

Setelah menyandang gelar Dokter, Aletta melaju bagai roket. Dia tidak saja mengobati pasien tetapi juga mengadvokasi pasien perempuannya untuk bangkit melawan diskriminasi, bahaya prostitusi dan perdagangan perempuan kulit putih (umumnya perempuan diperdagangkan ke Negara-negara koloni untuk melayani tentara kolonial yang dikirim ke Negara jauh tersebut). Dia memperkenalkan alat kontrasepsi buat mencegah kelahiran yang tidak diinginkan serta bahaya penyakit kelamin. Selain itu, selama bertahun-tahun dia membuka ruang di rumahnya untuk jasa konsultasi gratis bagi orang miskin, para pelacur dan anak-anak. Mengajarkan soal kebersihan dan perawatan diri secara medis. Tindakan Aletta ini sebelumnya tidak menjadi prioritas bagi para tenaga medis laki-laki. Bahkan salah satu gerakannya mendirikan pusat  keluarga berencana (family planning) pada mulanya dikritik keras karena dianggap memutus regenerasi. Namun kemudian diadopsi di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Tahun-tahun dalam hidupnya kemudian dihabiskan Aletta dengan bekerja sebagai pejuang hak-hak perempuan. Tahun 1883 dia muncul di kancah politik untuk memperjuangkan hak suara bagi perempuan di parlemen. Tahun 1903 bergabung sebagai anggota aliansi gerakan perempuan (International Women Suffrage Alliance/ IWSA) yang membawanya berkenalan dengan Carrie Chapman (pendiri IWSA), lalu mereka berdua bergabung dalam misi keliling dunia untuk melakukan advokasi gerakan perempuan dalam memperjuangkan keadilan dan kesetaraan di semua bidang. Sebuah petualangan yang kemudian mengantarkan Aletta ke Indonesia pada April 1912.

Dalam petualangan keliling dunianya, Aletta singgah di Batavia, Surabaya dan Padang. Hasil perjalanan tersebut kemudian dia sampaikan kepada Gubernur Hindia Belanda kala itu, Alexander Willem Frederik (AWF) Idenburg. Pada sang Gubernur dia juga meminta agar peluang perempuan bumi putra untuk mendalami studi kedokteran diberikan seluas dan seadil-adilnya. Di Indonesia, dia juga berjumpa adik perempuannya Charlotte Jacobs lalu bersama perempuan Indo lainnya mereka menggerakkan berdirinya Studiefonds voor Opleding van Vrouwelijk Inlandsche Artsen (SOVIA), sebuah yayasan dana pendidikan dokter perempuan. Dengan dana dan dukungan dari Aletta inilah kemudian jalan Marie Thomas untuk bisa menjadi dokter pertama Indonesia terwujud.

Melanjutkan semangat Aletta, setamat dari sekolah dokter, Marie Thomas pun tidak hanya terfokus bekerja sebagai ahli medis. Dia mengikuti gerak Aletta sebagai aktivis perempuan dan pejuang kesetaraan bagi perempuan. Setelah menikah dengan Muhammad Yusuf, teman satu sekolahnya yang juga seorang dokter dan berasal dari Solok, Sumatra Barat, pasangan ini kemudian pulang ke Padang

Walaupun wilayah kerjanya tidak meluas ke dunia politik sebagaimana Aletta, namun bukti nyata usaha dan kepedulian Marie terhadap kesehatan perempuan bisa kita lihat, di antaranya dengan mendirikan sekolah kebidanan di Bukittinggi, yang tercatat sebagai sekolah kebidanan pertama di Sumatera. Dia terlibat aktif dalam upaya pengontrolan kehamilan dan keluarga berencana juga organisasi sosial lainnya untuk mendukung keadilan bagi perempuan.

Menjemput yang Tertinggal

Di saat pandemi ini, dan kebutuhan akan hadirnya tenaga medis meningkat, laki-laki maupun perempuan, terlibat tanpa pembatasan gender. Padahal jauh sebelumnya, jangankan untuk menjadi tenaga media, untuk menjadi warga negara saja perempuan mengalami kendala. Mereka lebih sering hanya dianggap setengah manusia. Perang dan wabah pandemi memberikan peluang bagi perempuan untuk tampil di medan perjuangan. Ketelatenan dan kesabarannya kemudian dipuji.

Ya, cukup panjang masanya ketika zaman gelap, masa di mana perempuan tidak diakui sebagai warga negara, tidak berhak mengeluarkan pendapat, tidak dibolehkan ikut memilih wakil atau duduk di parlemen dan tidak diakui sebagai manusia yang setara juga tidak diakui keahliannya sebagai dokter sebagaimana laki-laki. Kalau sejarah tidak berbicara, tentu mustahil bisa diterima akal sehat. Tetapi memang itulah yang terjadi. Para imam dan pendeta, para raja dan penguasa bahkan bapak dan saudara laki-lakinya -dengan dalih agama- berusaha meminggirkan perempuan dari ranah publik. Doktrin yang sangat patriarkis itu membuat perempuan mengamini konstruksi sosial sebagai sesuatu yang alamiah. Kondisi ini justru terjadi di negara yang menyebut dirinya modern. Sementara di masyarakat yang dikategorikan primitif, tidak berpengetahuan, jorok dan bodoh, perempuan malah mendapat tempat terhormat dan dipercaya sebagai tenaga penolong kesehatan (medis). Mereka itulah yang disebut dukun.

Berabad-abad lamanya, perempuan bertahan dalam ‘kekangan’ ideologi patriarkis, sampai kemudian muncul kondisi-kondisi yang tidak lagi memungkinkan mereka untuk tetap diposisinya. Salah satu kondisi itu adalah kebutuhan akan hadirnya perempuan di dunia medis pada masa-masa perang dunia. Saat itulah Aletta dan Marie Thomas memulainya.

Apa yang kemudian bisa kita simpulkan dari roman Doekoen serta kisah dua aktivis perempuan di dunia medis di atas adalah bahwa kesempatan berada di ruang yang sama dengan setara adalah hak setiap orang, terlepas dia bangsa inlander maupun kompeni, perempuan ataupun laki-laki. Kesediaan untuk berbagi ruang kehidupan sebagai sesama manusia merupakan kunci kesetaraan. Melihat persoalan kemanusiaan tidak bisa hanya dengan cara meneropong dari geladak kapal lalu menghakimi, tetapi harus turun ke daratan. Tanpa usaha seperti ini saya khawatir kita akan terus terperangkap dalam paradigma yang dikotomis. (*)


Ka’bati
Pengelola Ruang Kerja Budaya

Terpopuler

Add New Playlist