Kota Tua dan Bencana Banjir

Penulis: Redaksi

Cerita Foto

Pengantar

Ini tentang dulu dan sekarang dari perspektif foto. Perubahan tentu menjadi keniscayaan. Meski objeknya adalah benda mati, waktu secara alami tetap akan mengubahnya. Bersamanya, juga faktor-faktor lain, terutama campur tangan manusia. Mulai edisi ini, Padangkita.com akan menjadikan Cerita Foto sebagai rubrik baru. Kami berharap, ini menjadi referensi sejarah, atau dalam bahasa yang lebih “gagah” rubrik ini bisa jadi cermin peradaban. Lebih dari itu, setidaknya untuk sekadar bernostalgia.

Pada edisi perdana ini, menampilkan foto lama yang diambil sekitar tahun 1930-1931 (Univ. Leiden, Belanda), berupa bangunan Belanda di kawasan Batang Arau, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang. Sementara, foto terbaru diambil, Kamis pagi, 2 Januari 2020.

Dulu bangunan-bangunan itu adalah saksi pesatnya perdagangan di Kota Padang. Kini, bangunan-bangunan yang disebut sebagai bangunan tua itu, sebagian ada yang dimanfaatkan pedagang kuliner, untuk cafe dan semacamnya. Tapi beberapa di antaranya ada yang telantar, salah satunya objek yang difoto. (Redaksi)


Bermula dari ide, konsep, lalu dilaksanakan dalam waktu yang relatif singkat: lahirlah rubrik Cerita Foto. Ini perdana. Maka, penyempurnaan – yang sebetulnya mustahil sampai pada titik itu – akan terus diupayakan.

Bagi juru foto Padangkita.com, Apid Sutan Kayo, ini tentu sebuah tantangan baru. Memotret kembali objek yang sama yang menjadi karya foto pada tahun 1930-1931, dari angle yang sedapatnya juga sama, bukan perkara mudah.

“Kalau secara teori mungkin mudah. Cari objek, lalu ambil posisi yang sama dengan foto itu diambil dulu. Tapi dalam kenyataannya tidak demikian,” kata Apid.

Terkadang, objek sulit dikenali meski mungkin masih berada di Kota Padang yang dekat. Lalu, mengambil angle untuk memotret pun tak semudah membalik telapak tangan. Kadang, posisi tempat mengambil foto sudah berubah. Ada yang jadi rumah, kantor, atau sekolah.

Bagaimana dengan tantangan pertama ini?

“Pertama, saya berkeliling untuk mencocokkan foto-foto yang akan saya abadikan kembali, saya berpedoman pada tulisan pada caption hanya “Padang” dan satu kata lagi dengan tulisan bahasa Belanda yang saya tidak mengerti,” Apid berkisah.

Karena objek berupa gedung tua, pikiran Apid langsung tertuju pada bangunan-bangunan tua di pinggir sungai Batang Arau.

Memasuki kawasan bangunan tua, Apid mesti seringkali menoleh ke kiri dan kanan. Tentu sambil melihat ke layar telepon genggamnya, untuk mencocokkan foto.

Sulit juga mencari bangunan tua yang dimaksud. Soalnya di kawasan itu, berjejer banyak bangunan-bangunan semirip.

“Ada beberapa yang hampir mirip dengan foto yang akan diabadikan kembali itu. Tapi setelah saya amati betul, ternyata bukan,” ujar Apid.

Ia tak menyerah. Jalan terus dengan motor bebeknya. Pada satu titik di jalan Batang Arau terlihat bangunan yang semirip berdiri kokoh, walaupun sedikit tidak terawat di bagian depannya.

“Tapi saya masih ragu apakah bangunan itu yang saya cari? Untung, tak jauh dari bangunan itu ada orang tempat saya bertanya. Ketika saya perlihatkan foto di telepon genggam saya. Dia mengangguk, Alhamdulillah,” Apid tersenyum.

Kini tantangan berikutnya dimulai. Apid harus mencari sudut yang mesti sama dengan foto lama. Butuh waktu, Apid untuk mengamati. Sebab, kondisi di sekitar sudah jauh berubah. Rel kereta tak ada lagi, dan banyak ornamen juga tak lagi sama.

“Ada beberapa sudut pengambilan yang saya lakukan, namun hasil foto itu hanya mendekati kemiripan dari sudut pengambilannya,” Apid sedikit mengeluh.

Momen Banjir

Sekitar tahun 1930-1931 sebagaimana pengambilan foto lama yang ditampilkan, Kota Padang adalah pusat perdagangan. Sementara kawasan Batang Arau, tempat berdirinya bangunan-bangun tinggi besar, menjadi amat penting. Apalagi dengan adanya Pelabuhan Muaro, yang ketika itu adalah pintu keluar masuk Kota Padang, dan daerah-daerah di Sumatera lainnya.

Dari penelusuran Padangkita.com, pada tahun 1931, Kota Padang dilanda bencana berupa banjir besar. Berdasarkan catatan dari De Telegraaf, banjir di Padang bulan Juni 1931, menimbulkan kerusakan yang kerugiannya mencapai 110.000 gulden.

Sementara itu, berdasarkan catatan dari De Sumatra Post, banjir kembali terjadi di kawasan Kampung China dan daerah-daerah rendah lainnya pada September 1931. Ketinggian air mencapai 60 centimeter. Tidak ada laporan kerusakan maupun korban jiwa dalam banjir kali ini.

Melompat ke tahun 2020 sebagaimana foto yang baru, kawasan Batang Arau tetap menjadi kawasan strategis. Di kawasan ini sekarang, tumbuh tempat-tempat kuliner. Sore hingga malam kawasan ini ramai dikunjungi. Tak jauh, ada jembatan ikonik, yakni Jembatan Siti Nurbaya. Bagi wisatawan luar Kota Padang, kawasan ini adalah destinasi “wajib” dikunjungi.

Bagaimana dengan banjir?

Rupanya, pada momen yang berdekatan, Kota Padang juga dilanda banjir. Persisnya, pada akhir tahun lalu, atau Desember 2019. Hanya, kawasan Batang Arau dan kawasan Pecinaan sekitar tak sampai terendam sebagaimana yang terjadi tahum 1931. (Redaksi)