“Kopi Mancakau”, Kopi Khas Pessel yang Istimewa

Produk Nagari Manfaatkan Bumnag Koto Rawang

Penulis: Redaksi

Painan, Padangkita.com – Ada kabar gembira bagi penyeruput kopi. Pesisir Selatan (Pessel), kini punya komoditas kopi baru. Namanya “Kopi Mancakau“, asli ditanam, dipanen, diolah, dan diproduksi di Pessel.

Luar biasanya, Kopi Mancakau ini adalah hasil kerja keras masyarakat Nagari Koto Rawang, Kecamatan IV Jurai Pesisir Selatan (Pessel) melalui Badan Usaha Nagari (Bumnag).

Kopi Mancakau itu, secara resmi di-launching Bupati Pessel Hendrajoni, di Rumah Kopi Koto Rawang, Senin (30/12/2019).

Spontan Hendrajoni memuji aparat Pemerintah Nagari Koto Rawang yang berhasil melakukan inovasi dan menggali potensi nagari dengan mengolah kopi sehingga menjadi bubuk kopi spesifik Koto Rawang.

“Saya bangga dengan inovasi yang dilakukan oleh masyarakat Nagari Koto Rawang, hingga menghasilkan Kopi ” Mancakau,” kata bupati.

Menurut bupati, sejatinya penggunaan dana desa untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, dengan menggali potensi nagari sebagaimana dilakukan Nagari Koto Rawang. “Jadi, dana desa bukan hanya untuk pembangunan fisik saja,” kata Bupati.

Sebagai bentuk apresiasi, Hendrajoni akan memberi satu petak toko di sentra kuliner yang dibangun di Carocok Painan, sebagai sarana untuk promosi, berjualan Kopi Mancakau.

Dalam kesempatan itu, bupati bersama rombongan disuguhi Kopi Mancakau. Sehabis menyeruput, bupati langsung menyampaikan penilaiannya.

“Kopi Mancakau memiliki sensani unik dibanding dengan kopi daerah lain. Terutama pada wanginya yang khas,” puji Bupati.

Usai launching, bupati memborong semua stok kopi yang ada, kemudian membagikan kepada wartawan, kepala dinas, dan undangan lainnya.

150 KK Bergantung pada Kopi

Kopi Mancakau Pesisir Selatan
Peluncuran Kopi Mancakau oleh Bupati Pesisir Selatan Hendrajoni di Rumah Kopi di Nagari Koto Rawang, Kecamatan IV Jurai Pesisir Selatan (Pessel), Senin (30/12/2019). (Foto: Humas Pemkab Pesisir Selatan)

Wali Nagari Koto Rawang Derijol, mengatakan luas lahan perkebunan kopi di nagarinya sekitar 30 hektare. Dengan lahan seluas itu, mampu menghidupi sedikitnya 150 kepala keluarga (KK) petani.

Dengan produksi bubuk Kopi Mancakau, kata Derijol, telah berhasil meningkatkan penghasilan petani lima kali lipat.

“Petani menjual bubuk kopi Rp75 ribu per kilogram, sementara bijinya hanya Rp25 ribu,” kata Derijol.

Diceritakan, usaha merintis produksi bubuk kopi sudah dilakukan semenjak tahun 2018 lalu. Waktu itu dimulai dengan melakukan pelatihan pada petani. Tahun 2019, mulai dibuat kemasan dan merek, hingga di-launching hari ini.

Ia optimistis, Kopi Mancakau mampu bersaing di pasar, karena aroma kopi produksi nagarinya memiliki sensasi yang khas.

“Yang istimewa, rasanya akan berubah menjadi wangi durian jika biji kopi dipanen bersamaan dengan musim durian,” kata Wali Nagari. (*/pk-01)

Terpopuler

Add New Playlist