Kisah Perkariban Leon Salim dan Chatib Sulaiman

Penulis: Randi Reimena

Padangkita.com – Leon Salim tersenyum puas sore itu. Senyum itu ia tujukan pada Chatib Sulaiman yang tengah bermain bola sodok di sebuah tempat bilyar di Pasa Usang, Padang Panjang, sebagai pertanda bahwa misi mereka telah sukses. Mereka baru saja mengelabui Dinas Intelijen Belanda. Seorang tokoh bernama St Nur Alamsyah yang mendapat hukuman larangan bepergian dari pemerintah kolonial, berhasil mereka selundupkan ke Sumatera Barat dan telah sampai di Padang Panjang.

Waktu itu, Januari 1935, pemerintah kolonial tengah berupaya menindas gerakan-gerakan politik anti-kolonial setelah pemberontakan komunis 1926/27 yang gagal dengan cara mencekal seseorang atau melarang orang-orang untuk berkumpul. (Audrey Kahin, 1998)

Ini bukan pertamakalinya mereka bekerjasama. Duo aktivis 1930-an ini telah berkawan semenjak remaja. Sehingga nama mereka berdua pun seperti tak terpisahkan. Saat orang berbicara Chatib Sulaiman, maka nama Leon Salim segera muncul, baik sebagai sahabat atau rekan. Begitu pula sebaliknya.

Sebelum berusia 25 tahun, mereka berdua telah menyelundupkan dan menerjemahkan bacaan-bacaan terlarang. Menerbitkan majalah, membangun jaringan dengan PARI bentukan Tan Malaka, serta menjalin kontak dengan tokoh-tokoh seperti Hatta dan Sjahrir. Sampai ditangkap dan hampir dibunuh oleh militer Belanda di Kutacane.

Jejaring yang mereka bangun selama masa pendudukan Jepang, memainkan peran penting dalam sejarah Sumatera Barat di masa selanjutnya. Semua itu bermula pada suatu hari di Padang tahun 1929.

Bertemunya Seorang Aktivis dan Seorang Seniman

Dua orang remaja dari Padang Panjang sampai di Padang pada hari itu. Mereka adalah Leon Salim dan Yunus Kotjek yang datang atas nama PMDS, sebuah organisasi pelajar Islam, untuk menemui seorang seniman yang menguasai beberapa bahasa asing bernama Chatib Sulaiman.

PMDS memiliki hubungan dengan PARI bentukan Tan Malaka. Partai ini melalui jaringan pedagang yang bersimpati pada Tan Malaka, sering mengirim buku-buku berbahasa asing tentang indoktrinasi dan organisasi untuk para pelajar di PMDS. Akan tetapi mereka kesulitan menerjemahkan teks-teks tesebut, sehingga mereka memerlukan seorang penerjemah seperti Chatib.

Chatib yang ketika itu bekerja sebagai pemain biola untuk mengiringi film-film bisu di bioskop-bioskop di Padang, setuju untuk membantu membangun gerakan di Padang Panjang dengan tugas utama sebagai penerjemah bacaan yang dikirim oleh PARI. Saat itu Chatib berusia 23 tahun. Dari sini perkariban dua pembangkang ini bermula.

Leon, yang bernama asli Luwin ini, tampaknya adalah pembangkang sedari bocah. Sebagaimana ditulis oleh Suwardi Idris dalam Pengalaman tak Terlupakan Pejuang Kemerdekaan Sumbar-Riau (2001), pada 1923, saat berusia 13 tahun dia mendirikan cabang Barisan Muda, sebuah organisasi yang berafiliasi dengan Sarikat Rakjat, di Sekolah Desa di kampungnya, Danguang-danguang, Limapuluh Kota. Hal ini membuatnya diusir dari sekolah.

Setahun kemudian, dia masuk ke Sekolah Rakyat Padang Panjang, suatu sekolah yang mengadopsi model Sekolah Rakyat yang didirikan Tan Malaka di Semarang. Di sana dia mendirikan IPO (Internationale Padvinder Organisatie) dan memulai lagi aktivisme anti-penjajahnya. Karena aktivismenya itu, dia dijemput oleh ninik mamaknya.

Sesampainya di kampung dia dipukuli oleh Kepala Nagari. Leon kembali ke Padang panjang setelah menjalani hukuman di kampungnya dan melanjutkan aktivismenya. Pada siang hari di belajar di Sekolah Rakyat dan sorenya di Diniyah School dimana dia ikut mendirikan PMDS.

Jika Leon pernah diusir dari sekolahnya karena mendirikan organisasi berbahaya, maka Chatib diusir dari sekolahnya, MULO Padang, karena sering “berpakaian tidak sepatutnya”. Setelah putus sekolah, ia terus mengasah bakat seninya dan tetap mempertahankan minatnya terhadap ilmu pengetahuan. Gusnaidar dalam Derap Langkah Perjuangan Khatib Sulaiman (2006), menuliskan betapa dia sangat tertarik terutama pada ilmu-ilmu sosial.

Leon, Chatib, dan beberapa pelajar lainnya, kemudian mengontrak sebuah rumah di sekitar Pasa Usang. Mereka mulai menerjemahkan buku-buku tersebut. menerbitkan majalah dan mendirikan beberapa organisasi.

Saat PMDS tidak lagi sesuai dengan nilai-nilai egaliter yang mereka anut, mereka pun hengkang dari organisasi ini dan mendirikan organisasi baru bernama Kepanduan Indonesia Muslim (KIM).

Tahun-tahun selanjutnya, saat Hatta dan Sjahrir keluar dari PNI dan mendirikan PNI-Baru, mereka segera mengambil kesempatan itu dan mendirikan cabang PNI-Baru di Padang Panjang dan Bukittinggi. Secara bergantian mereka berdua memimpin partai baru ini. Aktivitas mereka berdua membuat gerah otoritas kolonial setempat. Leon kemudian di penjara selama 1 tahun setelah dituduh menghasut para siswa untuk menyanyikan lagu terlarang “mars perjuangan”.

Sesaat menjelang berakhirnya kekuasaan Belanda di Sumatera Barat, mereka mengorganisir sebuah demonstrasi untuk menentang rencana bumi hangus Belanda. Demonstrasi ini, menurut mereka, juga bertujuan untuk mengosolidasi kekuatan di Sumatera Barat, sehingga saat Jepang masuk, mereka memiliki daya tawar dan posisi yang tidak bisa dianggap enteng. Akibatnya mereka bersama beberapa orang lainnya ditangkap dan dikirim ke Kuta Cane, Aceh. Saat akan dieksekusi mati, mereka terselamatkan oleh serbuan Jepang ke wilayah ini.

Dua tahun kemudian, pada 3 Maret 1947, mereka berdua kembali hendak ditangkap. Kali ini oleh suatu gerakan bernama Pemberantas Anti Kemerdekaan Indonesia (PAKI) yang diinisiasi oleh beberapa faksi laskar Islam. Gerakan ini kecewa terhadap pemimpin dari kalangan sipil dan militer yang dinilai telah melenceng dari garis revolusi, ditambah kecurigaan terhadap beberapa tokoh di lingkungan keresidenan yang berorientasi komunis, termasuk Leon dan Chatib.

Gerakan ini kemudian menyerbu Bukittingi untuk mengambil alih kepemimpinan lokal. Leon dapat menghindari penangkapan itu, sedangkan Chatib kebetulan tengah berada di Jawa untuk mengikuti sidang KNI Pusat. Gerakan ini gagal dalam waktu singkat.

Mereka berdua ikut mendirikan Pemuda Nippon Raya saat militer Jepang menduduki Sumatera Barat. Organisasi ini hanya berumur pendek karena Jepang curiga dengan agenda anti-Jepang di belakangnya. Jepang kemudian membentuk Gyu Gun. Chatib Suleiman bergabung dengan lasykar ini. Dia meminta Leon untuk mengurus Gyu Gun daerah Bukittinggi.

Lewat organisasi ini Chatib mulai membangun jejaring dengan tokoh-tokoh lokal lainnya. Jaringan yang dibangun oleh Chatib pada masa-masa ini berhasil mempertemukan berbagai faksi di Sumatera Barat, sehingga saat agresi militer kedua, serta pendirian PDRI, Sumatera Barat telah memiliki suatu kekuatan kolaborasi sipil-militer yang telah teroganisir dengan cukup baik. Bahkan jaringan yang dibangun Chatib ini adalah embrio dari Dewan Banteng.

Bersimpang dan Berpisah

Selama Revolusi berlangsung, Leon dan Chatib bergerak di lapangan yang mereka pilih sendiri. Leon lebih memilih untuk memasuki lebih jauh dunia militer dan intelejen, sedang Chatib lebih tertarik untuk menjadi seorang diplomat dan organisator.

Leon Salim dan Chatib Sulaiman, sesaat setelah kembali dari Kuta Cane. Leon Salim (berdiri di tengah memakai dasi). Chatib Sulaiman (berdiri di tengah memakai jas abu-abu). (Foto: Repro dari Audrey Kahin, 1986, Prisoner at Kota Cane).

Satu peristiwa yang cukup dikenang oleh para pejuang masa revolusi Sumatera Barat, seperti dicatat dalam buku Sejarah Perjuangan Kemerdekaan R.I. di Minangkabau/Riau 1945-1950 Jilid II (1990) yang disusun oleh Ahmad Hussein dkk., adalah beredarnya buletin Kapten Leon Salim. Sesaat sebelum agresi militer Belanda kedua, Leon mengedarkan buletin hasil kerja intelijennya. Buletin tersebut berisi laporan situasi terkini serta langkah-langkah yang harus diambil oleh satuan-satuan militer di Sumatera Barat.

Sementera itu Chatib membentuk Front Rakyat Sumatera Barat. Serupa dengan Persatuan Perjuangan yang digagas Tan Malaka di Jawa, Front Rakyat juga didirikan untuk menyatukan berbagai faksi di Sumatera Barat tanpa membedakan garis perjuangan berdasarkan ideologi, partai atau agama. Dia kemudian, bersama M. Rasjid, ikut menjalankan Pemerintahan Darurat Republik Indonesai (PDRI).

Mereka bertemu untuk terakhir kalinya pada suatu malam di tahun 1948. Ketika itu Belanda telah menduduki Bukittinggi, dan sedang bergerak ke Payakumbuh – salah satu basis PDRI ketika itu. Leon yang telah melarikan diri dari Buktitinggi ke Payakumbuh mencoba mengajak para pemimpin PDRI agar mempersiapkan perang terbuka. Akan tetapi, Chatib yang saat itu berada di Payakumbuh, memilih untuk merangkul berbagai kekuatan dari sipil dan militer, termasuk kelompok pro-Belanda. Tampaknya saat itu Chatib melihat peluang untuk mengadakan perundingan.

Hal ini menyebabkan mereka berselisih paham dan sempat bersitegang cukup sengit. Leon yang kesal menginggalkan Chatib tanpa tahu bahwa beberapa pekan kemudian Chatib menjadi salah satu korban peristiwa Situjuh. Leon kemudian mengenang kepergian karibnya itu lewat syair:

Seratus hari telah berlalu
Suara meriam deru menderu
Bergetar mustang di udara lapang
Runding bersela dengan senapan
Saudara khatib tak ada lagi

Tapi arwahmu bersama kami
… (Derap Langkah Perjuangan Khatib Sulaiman, Gusnaidar 2006).

Terpopuler

Add New Playlist