Kagumi Sapi, Gadis Bukittinggi Ini Termotivasi Jadi Doktor Termuda Unand

Penulis: Redaksi

Padang, Padangkita.com – Bagi kebanyakan orang, melihat sapi dan kebiasaannya memakan rumput adalah hal biasa. Tapi tidak begitu bagi Ezi Masdia Putri. Rumput kasar dan tidak enak yang ditakdirkan sebagai makanan utama sapi, justru memunculkan kekaguman bagi Ezi yang kini berstatus doktor termuda Universitas Andalas (Unand).

Ezi Masdia Putri, gadis kelahiran Bukittinggi pada 2 Mei 1995, merupakan doktor bidang Ilmu Nutrisi Ruminansia, Fakultas Peternakan Unand. Dia resmi menyandang status itu pada wisuda IV tahun 2021, Kamis (14/10/2021). Kendati masih berusia 26 tahun, Ezi sukses menuntaskan studi S-3 Fakultas Peternakan (Faterna) dengan predikat cum laude.

Ezi berkisah, kecintaannya terhadap bidang peternakan tumbuh sejak kecil. Ia bercita-cita menjadi peneliti bidang peternakan.

Saat kecil, orang tuanya di rumah memelihara ternak sapi sebagai tabungan. Keingintahuannya muncul saat ia mengamati perilaku makan sapi.

“Setiap sore setelah pulang sekolah, saya yang waktu itu masih berpikiran sederhana selalu takjub bagaimana bisa seekor sapi bisa mengonsumsi hijauan atau rumput yang bertekstur kasar dan bahkan rasanya tidak enak,” ujar Ezi kepada Padangkita.com, Jumat (15/10/2021).

Rasa penasaran itu mengantarkan Ezi masuk ke Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (Unpad) melalui jalur SNMPTN pada 2013 setelah menamatkan pendidikan di SMA Negeri 1 Ampek Angkek.

Selama menekuni studi S1, Ezi fokus kepada ilmu nutrisi ternak. Hingga akhirnya pada tanggal 21 April 2017, ia lulus Ujian Sidang S-1 dengan nilai A. Tidak ingin berhenti disitu, Ezi ingin mewujudkan cita-cita menjadi seorang dosen dan peneliti.

“Tentu hal tersebut bisa ditempuh jika saya melanjutkan studi pascasarjana,” jelas Ezi.

Untuk studi pascasarjana, Ezi mendapat kesempatan mengikuti program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU).

“Program ini merupakan salah satu program unggulan dari Ditjen Dikti untuk mencetak doktor muda bermutu tinggi dari sarjana unggul di seluruh Indonesia dengan cara fast-track studi S-2 dan S-3 dalam jangka waktu 4 tahun,” terang Ezi.

Ezi dapat menyelesaikan studi pascasarjana sesuai target, yakni S-2 ditempuh selama 1 tahun, dan S-3 selama 3 tahun 1 bulan.

Ezi menyebut, perjalanannya selama empat tahun perkuliahan dan penelitian tidak selalu berjalanan mulus.

“Banyak kesulitan berganti kemudahan, lalu kemudahan berganti kesulitan yang mewarnai tahun-tahun studi pascasarjana saya,” ujar Ezi.

Baca juga: Kisah Ezi Masdia Putri, Doktor Termuda Usia 26 Tahun Universitas Andalas

Awal tahun 2020 lalu, ketika pandemi Covid-19 mulai melanda Indonesia, penelitian Ezi sempat terhenti beberapa bulan. Hal itu lantaran kebijakan kampus untuk membatasi kegiatan di lingkungan kampus.

Tidak hanya di lapangan, kendala pun ia ditemui dalam pelaksanaan bimbingan dengan promotor.

“Karena bimbingan hanya dapat dilaksanakan secara daring baik melalui aplikasi berbasis video maupun media sosial. Kendati demikian, hal tesebut tidak mematahkan semangat saya,” tutur Ezi.

Setelah merampungkan penelitian, Ezi akhirnya melaksanakan Ujian Sidang Tertutup Doktor pada tanggal 16 Juli 2021 dan Ujian Sidang Terbuka Doktor pada tanggal 18 Agustus 2021.

“Pencapaian ini tentu tidak terlepas atas izin Allah SWT, peran promotor dalam membimbing saya, orang tua yang selalu mendoakan yang terbaik untuk saya, teman-teman yang selalu ada dalam suka maupun duka, teknisi laboratorium yang mengarahkan prosedur kerja, dan pihak-pihak yang berperan dalam studi pascasarajan saya,” kata Ezi.

Bagi Ezi, gelar doktor yang ia sandang di usia muda merupakan sebuah tanggung jawab besar.

“Tentu tanggung jawabnya tidak mudah. Ilmu yang telah saya dapatkan dari promotor, skill yang telah saya dapatkan di laboratorium, ingin saya bawa untuk menggapai cita-cita sebagai seorang dosen dan peneliti,” ujarnya. [den/pkt]

Terpopuler

Add New Playlist