Jubir Menhan Prabowo Bicara Soal Pertahanan Indonesia di Universitas Muhammadiyah Bukittinggi

Penulis: Redaksi

Bukittinggi, Padangkita.com –Juru Bicara Menteri Pertahanan, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengatakan ketahanan negara jauh lebih penting dibanding hanya sektor perekonomian semata.

“Keamanan dan perekonomian seringkali menjadi dua hal yang harus dipilih. Mungkin banyak yang lebih memilih meningkatkan kesejahteraan ekonomi dibanding menciptakan keamanan. Tapi, apa guna kaya raya jika maling berkeliaran, banyak kejahatan mengancam,” ujar Dahnil saat menjadi narasumber kuliah umum di Universitas Muhamadiyah Sumatra Barat kampus Bukittinggi, Kamis (18/11/2021)

Dahnil mencontohkan, Australia berafiliasi dan punya pakta pertahanan dengan Amerika. Sementara ikatan perekonomian mereka kuat sekali dengan China, terutama di bidang ekspor impor.

“Nah, Australia akhirnya lebih memilih untuk konsisten berkoalisi dan berpihak ke Amerika dengan memperkuat pertahanan, di antaranya merancang kapal perang berkekuatan nuklir,” jelasnya.

Kata Dahnil, Indonesia punya doktrin pertahanan yang diwarisi dari para pendiri bangsa. Yaitu politik bebas aktif.

“Bung Hatta pernah menulis artikel berjudul ‘Mendayung di Antara Dua Karang’, menjelaskan tentang politik luar negeri Indonesia. Karena sudah diatur konstitusi, maka Indonesia harus bersifat nonblok atau berpolitik secara bebas aktif,” katanya.

Indonesia dalam konteks pertahanan, sambung dia, menjaga kedekatan yang sama dengan semua negara. Harus dekat dengan Amerika, harus dekat dengan China, NATO, atau Turki.

“Karena itu pula, pertahanan semesta harus dihidupkan. Alutsista harus kuat. Kita gak punya bekingan, gak ada negara tertentu yang belain kita,” ujar mantan Ketua Pemuda Muhammadiyah periode 2014-2019 itu.

Dahnil berkisah saat ia terpilih menjadi wakil Indonesia sebagai President Asia Pacifik Youth For Peace Initiative.

Baca juga: Andre Rosiade Sebut Prabowo Sejak Dulu Ingin Selamatkan Garuda Indonesia

“Saat itu dicalonkan pemuda dari China, banyak yang menolak. Utusan India dicalonkan, Pakistan dan Bangladesh menolak. Ketika yang diajukan Indonesia, tidak ada satupun yang menolak. Positifnya kita tidak punya musuh, atau bisa jadi mereka menganggap kita bukanlah ancaman,” tutupnya. [*/pkt]

Terpopuler

Add New Playlist