Jorong Sikilang, Wajah Tertinggal di Daerah Kaya Pasaman Barat

Penulis: Ahmad Romi

Simpang Empat, Padangkita.com – Pertengahan Juli lalu, Jorong Sikilang, Nagari Sungai Aur, Kecamatan Sungai Aur, Pasaman Barat (Pasbar) ramai diberitakan.

Gara-garanya, seorang ibu muda yang baru melahirkan harus meregang nyawa dalam perjalanan ke rumah sakit, akibat buruknya infrastruktur kawasan itu. Dan ini bukan peristiwa tragis yang pertama kali menimpa warga Sikilang.

Seburuk apakah infrastruktur yang menjadi akses ke Jorong Sikilang? Apa yang menjadi harapan mereka pada momentum HUT ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia?

Pagi yang cukup cerah Minggu (23/8/2020), Padangkita.com memacu sepeda motor menuju Jorong Sikilang. Dari Simpang Empat, Ibu Kota Kabupaten Pasbar, Padangkita.com berangkat saat jarum jam menunjuk pukul 08.00. Untuk ke Sikilang, Padangkita.com memilih jalur Nagari Sasak, Kecamatan Sasak Ranah Pasisia dan Jorong Maligi.

Jalur Simpang Empat-Nagari Sasak, lumayan baik, meskipun jalannya tak terlalu besar. Namun, pada jalur Sasak-Maligi, “tantangan” langsung muncul. Sasak-Maligi dipisahkan oleh muara sungai. Tanpa jembatan sama sekali. Jadi, tak ada pilihan lain. Bila air sungai sedang surut, sepeda motor bisa melaju di atas pasir yang tampak putih. Namun, ketika sedang pasang muara penuh dengan air. Jalan otomatis putus.

Seperti saat Padangkita.com mau melintas dari Sasak ke Malligi, Muara Sasak sedang penuh air pasang. Pilihan satu-satunya yang tersedia, menyeberangi muara ke Jorong Maligi menggunakan perahu. Motor dan pengendara naik perahu.

Perahu yang digunakan untuk menyeberang dari Sasak ke Maligi ketika air Pasang Naik. [Foto: Ahmad Romi/Padangkita.com]
Warga yang ditemui di lokasi menyatakan, sebelumnya mereka menyeberang menggunakan ponton bermesin. Ponton adalah alat penyeberangan yang dibuat warga menyerupai perahu besar, tetapi dibuat datar dan diberi atap. Ponton ini dilengkapi dengan mesin diesel. Namun, ponton sudah tidak ada lagi.

Oleh sebab itu, Padangkita.com menyeberangi Muara Sasak ke Jorong Maligi mesti naik perahu. Ongkosnya Rp5 ribu.

Sampai di Jorong Maligi, kita bisa kembali memacu kendaraan dengan kecepatan maksimal 40 kilometer per jam. Kondisi jalannya becek banyak genangan air, karena dua hari sebelumnya kawasan Maligi diguyur hujan lebat.

Sepanjang perjalanan membelah Jorong Maligi, kita disuguhkan pemandangan alam pantai yang indah. Bisa dibayangkan, jika dikelola dengan baik dan serius plus akses yang baik, maka Pantai Maligi mungkin saja menjadi salah satu destinasi wisata Pasbar.

Meninggalkan Jorong Maligi, langsung ditandai dengan perubahan pemandangan. Kali ini, sepanjang perjalanan yang terlihat adalah perkebunan masyarakat yang sebagian besar adalah perkebunan sawit. Sesekali kita akan melihat ternak kerbau dan sapi di dalam kebun itu.

Jarak antara Jorong Maligi dengan Jorong Sikilang tidak begitu jauh, hanya sekitar 7 kilometer. Namun, karena jalan yang buruk berbatu dan bergelombang, pakai sepeda motor pun bisa memakan waktu setengah jam.

Akhirnya, Padangkita.com tiba di tempat yang dituju, Jorong Sikilang. Jarum jam menunjukkan pukul 11.00 WIB. Artinya, Simpang Empat-Maligi-Sikilang, bisa ditempuh selama 3 jam dengan sepeda motor.

Di Jorong Sikilang, Padangkita.com bertemu dengan Solli Putra Hadi, salah seorang tokoh pemuda setempat. Padangkita.com sebelumnya memang telah membuat janji dengan pria berusia 23 tahun, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Sungai Aur ini.

“Inilah kampung kami yang bernama Sikilang itu bang,” kata Solli yang sebelumnya dikenal aktif sebagai anggota pramuka di sekolahnya.

Dia langsung bicara soal kebutuhan masyarakat Sikilang. Menghuni kawasan tertinggal, tentu banyak sekali inftrastruktur yang belum memadai.

“Selain jembatan kami juga membutuhkan jalan yang layak dan jaringan komunikasi. Tidak ada tower jaringan seluler di kampung kami, sehingga sulit dapat sinyal di sini untuk berkomunikasi,” ucap dia.

Dengan segala ketertinggalan di Jorong Sikilang, Solli mengaku tidak bisa terlalu bergembira dengan kemerdekaan Indonesia yang sudah 75 tahun.

“Jujur, saya kecewa dengan Pemerintah. Kami di sini belum merasakan apa itu kemerdekaan, karena kami masih terjajah oleh waktu dan pembangunan yang tidak berpihak kepada kami,” kritik Solli yang sehari-hari bekerja sebagai petani.

Di Sikilang hanya ada Sekolah Dasar (SD), dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) yakni SMPN 3 Sungai Aur.

“Untuk SMA, kami terpaksa harus meninggalkan keluarga dan tinggal di kos-kosan karena untuk pulang pergi rumah ke sekolah, sangat tidak mungkin. Jaraknya sangat jauh,” ujarnya.

Di tengah kampung Sikilang, terlihat bangunan permanen dengan tulisan di depannya Pustu Sikilang. Di sinilah satu-satunya masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan pertama. Bila kondisi tidak memungkinkan, maka akan dirujuk ke Puskesmas yang ada di Sasak, dengan jarak sekitar kurang lebih 20 kilometer.

Dari pantauan Padangkita.com, siang itu Jorong Sikilang tampak begitu sepi. Hanya ada beberapa perempuan yang duduk di depan rumah mereka. Menurut Solli, pada siang hari kaum pria di Sikilang rata-rata pergi mencari nafkah. Ada yang ke luat sebagai nelayan, ada yang ke kebun sebagai petani, dan sebagian kecilnya sebagai pedagang.

Hasil Pertanian Tidak Hanya Sawit

Suasana di Sikilang ketika siang hari[. Foto: Ahmad Romi/Padangkita.com]
Selesai dengan Solli, Padangkita.com berkesempatan bertemu dengan tokoh masyarakat setempat yang bernama Kasmanedi. Selain membantu mengurus kampungnya, Kasmanedi juga dikenal sebagai pengacara di Kabupaten Pasbar.

Bicara soal nama Sikilang, Kasmanedi mengaku tak tahu pasti. Namun, dari cerita yang dia terima selama ini, Sikilang berasal dari kata “kilang” (penggilingan). Dulu, kata dia, Jorong Sikilang dikenal sebagai daerah penggilingan tebu tradisional yang memproduksi gula merah.

Lambat laun, penamaan daerah tersebut dari “Kilang” berubah menjadi “Sikilang”, untuk menunjuk daerah tersebut sebagai lokasi “kilang”.

Kasmanedi menyebut, secara administrasi Jorong Sikilang telah mengalami perubahan. “Sebelum lahirnya UU No. 38/2003 tentang Pembentukan Pasaman Barat, Dharmasraya dan Solok Selatan, Jorong Sikilang ini dulu masuk Kecamatan Lembah Melintang dengan luas sekitar 5 kilometer persegi,” kata Kasmanedi.

Kini Sikilang menjadi salah satu jorong di Nagari Sungai Aur, Kecamatan Sungai Aur. Berada di pinggir pantai, suhu di Sikilang memang tergolong panas. Namun demikian, tanaman warga di ladang bukan hanya sawit.

“Daerah ini juga cocok untuk lahan pertanian, seperti padi, kelapa, jagung, cabe, kacang, sayur-sayuran, semangka, mentimun, kelapa sawit, dan lain sebagainya,” lanjut Kasmanedi menyebut sejumlah hasil pertanian dari Sikilang.

Dia menambahkan, kawasan Jorong Sikilang dikelilingi oleh sungai. Oleh sebab itu, bagi warga yang mau ke kebun atau ke ladang harus menggunakan alat transportasi air, seperti sampan dan kapal kecil.

Sama seperti Solli, Kasmanedi juga sangat mendambakan jaringan komunikasi yang baik. Setidaknya, kata dia, kalau jaringan komunikasi bagus maka apapun yang terjadi di Sikilang bisa cepat disampaikan. “Misalnya, ketika butuh bantuan,” ujar dia.

Bicara akses dari Sikilang ke pusat Kecamatan Sungai Aur, lanjut Kasmanedi, akan memakan waktu sekitar 1,5 jam. Jalurnya melewati perkebunan kelapa sawit PT PHP dan PT Agrowiratama, serta harus naik ponton atau perahu menyeberang sungai.

“Kalau seandainya sudah dibangun jembatan dari Sikilang ke Sungai Aur ini, kami hanya butuh waktu setengah jam untuk keluar,” lanjut dia.

Jalan Tanah yang Buruk

Akses jalan dari Sikilang menuju Sasak dengan melewati jalur Pantai Sasak, namun hanya bisa dilewati ketika pasang surut. [Foto: Ahmad Romi/Padangkita.com]
Kunjungan Padangkita.com di Sikilang berakhir usai berbincang dengan Kasmanedi. Kali ini, untuk kembali ke Simpang Empat, Padangkita.com memilih jalur melalui kebun PT PHP dan PT Agrowiratama, lalu menyeberangi sungai menggunakan ponton. Ongkosnya Rp 5 ribu sekali menyeberang.

Apa yang dikeluhkan warga Sikilang selama ini tentang akses jalan yang buruk, dirasakan langsung oleh Padangkita.com. Jalan yang dilewati berupa tanah. Sehingga saat hujan, jalan yang basah dan becek sulit dilalui.

Dari Sungai Aur ke Simpang Empat, akses jalan relatif lebih baik. Perjalanan menggunakan sepeda motor dapat ditempuh selama 45 menit, dengan kecepatan 60 kilometer per jam. Padangkita.com tiba di Simpang Empat pada pukul 18.15 WIB.

Pembangunan Baru Jadi Usulan

Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Pasbar pada 2020 mencatat jumlah penduduk Jorong Sikilang sebanyak 553 Kepala Keluarga atau 2.041 jiwa, yang terdiri dari laki-laki sebanyak 1.022 orang, dan perempuan sebanyak 1.019

Sesuai SK Bupati Pasbar No.188.45/bup-pasbar/2020 tanggal 29 juli 2020, Jorong Sikilang masuk kategori daerah khusus, yakni daerah tertinggal karena masalah aksesibilitas.

Atas kondisi itu, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pasbar telah memasukkan pembangunan akses berupa jalan dan jembatan sebagai prioritas. Hanya, hal itu baru dalam bentuk pengusulan.

Dalam menuntut pembangunan jalan, jembatan dan prasarana komunikasi, warga Sikilang telah berjuang dengan berunjuk rasa ke DPRD dan kantor Bupati Pasbar, belum lama ini.

Pemerintah di kabupaten kaya ini berjanji segera merealisasikan aspirasi warga Sikilang tersebut. Pembangunannya rampung pada HUT Kemerdekaan RI ke? [rom/pkt]


Baca berita Pasaman Barat terbaru hanya di Padangkita.com.