Islam Agama Arogan?

Penulis: Redaksi

Ramai cuitan Permadi Arya alias Abu Janda tentang arogansi Islam. “Yang arogan di Indonesia itu adalah Islam sebagai agama pendatang dari Arab kepada budaya asli kearifan lokal. Haram-haramkan ritual sedekah laut, sampai kebaya diharamkan dengan alasan aurat”, dikutip dari akun twitter @permadiaktivis1 yang membalas cuitan Tengku Zulkarnaen.

Menautkan Islam sebagai subjek agama yang arogan merupakan kesimpulan yang sembrono. Kompleksitas agama melihat ragam budaya dan sudut pandang yang didasarkan pedoman kitab dan tafsir hadis. Perilaku arogansi individu atau kelompok tidak bisa mewakilkan citra agama tersebut.

Kehadiran Islam sebagai sebuah agama formal dimulai dari era kenabian Muhammad di Mekah, Arab Saudi. Namun dalam perkembangannya, tidak semua ajaran Islam memusuhi adat atau kearifan budaya lokal seperti yang dituduhkan. Mungkin ada sebagian yang kekeuh melawan budaya lokal, tapi bukan berarti digeneralisasi sebagai konsep Islam secara komprehensif.

Era digital memudahkan semua orang menghakimi atas dasar teks opini setiap individu. Memaksakan pemahaman kontekstual sebuah opini di media sosial tidak akan mengubah dasar hukum atas tulisan yang terlanjur menimbulkan kekacauan di tengah masyarakat. Apalagi menyangkut bahasan sensitif seputar agama.

Abu Janda yang kerap mengikrarkan diri bagian dari Nahdlatul Ulama (anggota banser), telah mengubah warna NU yang dikenal kalem dan moderat. Respons PBNU juga menyayangkan cuitan Abu Janda yang dianggap tidak memahami esensi dari agama Islam. NU adalah bagian dari Islam. Menganggap Islam agama arogan, berarti menganggap diri sendiri juga arogan.

Perdebatan mengenai perbedaan mazhab bisa membuahkan ilmu pengetahuan jika didasari dengan argumentasi ilmiah. Karena perbedaan sendiri merupakan sebuah keniscayaan, rahmat. Demikian yang sering digaungkan oleh Nahdlatul Ulama sebagai organisasi terbesar di Indonesia dengan sikap moderatnya. Menghargai, bukan menghakimi.

Jika perdebatan didasarkan sikap kebencian tanpa pemahaman dan kecakapan ilmu, maka hanya akan menjadi bumerang bagi kelompok itu sendiri. Seperti pernyataan Abraham Lincoln bahwa kebijaksanaan adalah kemampuan untuk menggambarkan orang lain sebagaimana mereka melihat diri mereka sendiri.

Arogansi Pemeluk Agama

Secara harfiah, Islam berasal dari kata aslama yang berarti damai, tenteram, selamat dan menyerahkan diri. Jika ada perkataan atau perilaku yang kontradiktif dengan pengertian tersebut, berarti ada yang salah tentang konsep pemahaman agama seseorang.

Diksi Islam dan arogan merupakan frasa yang tidak korelatif. Menurut Daniel Goleman (2002: 411), emosi seseorang merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis serta serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Dalam realitanya sering dijumpai bahwa emosi bisa berdampak besar terhadap perilaku seseorang berupa tindakan positif maupun tindakan negatif.

Alasan Abu Janda dalam kasus “Islam Arogan” adalah sebagai bentuk autokritik atas pernyataan Tengku Zulkarnaen sebelumnya. Sedangkan kalau dirunut dari histori kedua tokoh tersebut, konflik politik dan perbedaan metode dakwah dalam beragama telah berlangsung sejak kontestasi politik yang kemudian menciptakan politik identitas di tengah masyarakat.

Publik disuguhi atraksi saling menyindir, caci maki, dan sumpah serapah yang ditujukan untuk menjatuhkan satu sama lain. Di satu sisi, membawa label agama untuk memperkuat argumen, di sisi lain menggandeng ormas untuk perisai dari kebebasan mengekspresikan dirinya. Agama yang seharusnya menjadi pesan kedamaian malah dijadikan alat untuk melegalkan sikap arogansi dan anarki tokoh bersangkutan.

Agama Islam harus dikembalikan citranya sebagai ajaran yang luhur dan penuh cinta damai. Mengesankan Islam sebagai agama yang arogan adalah tindakannya yang tidak dibenarkan. Jika ada kesan perilaku arogansi dari orang yang beragama Islam, bukan lantas menghukum Islam sebagai entitas agama yang mengajarkan nilai-nilai keluhuran dan kebijaksanaan.

Setiap agama dan kelompok dalam agama memiliki oknum yang kadang malah melanggar batas-batas tujuan kelompok. Semua orang punya hak untuk mengaku sebagai bagian dari kelompok tertentu. Tapi sebuah kelompok tidak bisa membatasi perilaku anggotanya yang bisa menjadi nila setitik dan merusak susu sebelanga.

Agama adalah institusi yang memiliki banyak divisi dan cabang. Jangan merusak cita-cita agama dengan cara menjatuhkan divisi satu dengan yang lain. Pada dasarnya, semua orang menginginkan adanya kedamaian dan keadilan di muka bumi. Hanya kadang kala berbeda cara mewujudkannya. Ada yang dengan metode kebijaksanaan, diskusi ilmiah, hingga perilaku anarkisme.

Manusia zaman modern sering terjebak pada pernyataan dari siapa yang mengatakan, bukan apa yang dikatakan. Kebencian akan membutakan kebenaran pernyataan orang yang dibenci, sebaliknya, fanatisme akan mematikan logika dalam menerima kebenaran dari yang lain. Jika nafsu kebencian telah berkuasa, maka pernyataan apapun akan digunakan untuk menjatuhkan lawannya, termasuk menghinakan agamanya sendiri.

Kasus Abu Janda adalah secuil dari kompleksitas permasalahan agama yang tidak dilandaskan pada pemahaman yang utuh dan mendasar. Agama hanya dijadikan fragmen untuk eksistensi diri sendiri. Perlu langkah strategis untuk menempatkan kesakralan agama sebagai pondasi dalam berkehidupan. Jangan sampai perilaku individu, yang kebetulan melenceng, dicerminkan sebagai ajaran dari sebuah agama. [*]


Penulis: Joko Yuliyanto (Penggagas Komunitas Seniman NU, Penulis Buku dan Naskah Drama serta Aktif Menulis Opini di Media Daring)

Terpopuler

Add New Playlist