Habil Kasus Gizi Buruk Pertama di Padang Tahun Ini

Penulis: J Sastra
Kepala Dinas Kesehatan Padang Ferry Mulyani mengunjungi Habil, penderita gizi buruk, di RSUD Dr. Rasidin Padang, Rabu (24/01/2018). (Foto: J. Sastra)

Padangkita.com – Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang Ferry Mulyani mengatakan kasus yang dialami Habil, bocah tujuh tahun penderita gizi buruk, merupakan yang pertama di Padang tahun ini. Selain Habil, hingga kini pihak DKK Padang belum menerima laporan adanya kasus gizi buruk lainnya.

“Ini kasus yang pertama. Untuk kasus tahun lalu, masih ada sebelas kasus yang masih kita tangani,” ujar Mulyani seusai mengunjungi Habil di RSUD Dr. Rasidin Padang kepada Padangkita.com, Rabu (24/01/2018).

Ia mengunggkapkan, pada 2017 setidaknya ada 61 kasus penderita gizi buruk di Kota Padang. Dari jumlah tersebut, sebagian besarnya sudah beralih ke status gizi kurang, sedangkan sebelas penderita lainnya masih dalam kondisi gizi buruk.

Meski tidak dalam perawatan, kata dia, sebelas pasien itu masih dalam pantauan pihak DKK Padang. Pihak puskesmas setiap hari menimbang berat badan penderita setiap hari dan memastikan asupan makan yang diterimanya.

Menurut Mulyani, proses pemulihan penderita gizi buruk memang butuh waktu. Tidak sama dengan penyakit lainnya yang segera pulih seusai dirawat, penderita gizi buruk butuh waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun agar bisa beralih ke kondisi gizi kurang, kemudian beralih ke gizi baik.

“Kalau penderita DBD, keluar dari rumah sakit, sembuh. Tetapi kalau gizi buruk, keluar dari rumah sakit, belum tentu gizinya langsung baik. Karena penderita gizi buruk, bertambah berat badannya setengah ons saja sangat bermakna. Jadi perawatannya mungkin tahunan. Pindah status dari gizi buruk ke gizi kurang butuh waktu sekitar enam bulan hingga satu tahun karena berat badannya yang kita hitung per bulan,” ujarnya.

Mulyani pun mengaku angka penderita gizi buruk di Padang mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, walaupun tidak merinci angka penurunannya. Ia juga mengungkapkan bahwa persentase gizi buruk di Padang masih bisa ditoleransi, yaitu 0,02 persen dari total jumlah penduduk. Angka tersebut masih jauh di bawah persentase gizi buruk Nasional dan Sumbar.

“Kasus gizi buruk itu standarnya hanya boleh 0,5 persen dari total jumlah penduduk. Dari segi jumlah, penderita gizi buruk di Padang memang lebih banyak dari kabupaten/kota lainnya di Sumbar, tetapi dari segi persentasenya lebih rendah. Dibandingkan daerah lain, jumlah penduduk Padang tentu lebih banyak,” ujarnya.

Untuk mencegah gizi buruk, Kepala Dinas pun mengajak masyarakat untuk rutin membawa balitanya ke posyandu setiap bulan untuk dilakukan penimbangan. Dari program Deteksi Dini Tumbuh Kembang yang ada di posyandu, gejala gizi buruk bisa ditangkal.

Terpopuler

Add New Playlist