GMC 2020 Disebut Fenomena Cincin Api Solstis, Terakhir Kali Terjadi Tahun 1648

Penulis: Redaksi

Padang, Padangkita.com – Peneliti Pusat Sains Antariksa (Pussainsa) Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Andi Pangeran mengatakan Gerhana Matahari Cincin (GMC) yang terjadi Minggu (21/6/2020) siang disebut juga fenomena Cincin Api Solsistis.

Menurutnya fenomen Cincin Api Solstis tersebut cukup langka dan terakhir terjadi pada 21 Juni 1648 silam.

“Fenomena Cincin Api Solsistis terakhir kali terjadi pada tahun 1645. Saat itu, Gerhana Matahari Sebagian (GSM) hanya dialami di Sumatera dan Kalimatan untuk wilayah Nusantara,” kata Andi, Sabtu (20/6/2020).

Ia menjelaskan gerhana matahari merupakan peristiwa dimana matahari, bulan, dan bumi berada pada satu garis lurus dan bayangan bulan jatuh pada permukaan Bumi.

“Untuk besok, gerhana matahari yang terjadi adalah gerhana matahari cincin. Dimana, ketika piringan bulan nampak sedikit lebih kecil dibandingkan piringan matahari ketika melintasi piringan Matahari,”jelasnya.

Baca juga: Besok, Stasiun BMKG Padang Panjang Amati Proses Gerhana Matahari Cincin

Andi menambahkan hal tersebut disebabkan ujung bayangan gelap (umbra) bulan tidak jatuh di permukaan bumi sehingga terbentuk perpanjangan bayangan Bulan yang disebut antumbra.

Antumbra inilah yang jatuh ke permukaan Bumi. Sehingga, wilayah yang terkena antumbra akan mengalami gerhana Matahari cincin. Sedangkan wilayah di permukaan Bumi yang terkena bayangan semu (penumbra) bulan akan mengalami Gerhana Matahari Sebagian.

Sedangkan, Solstis Utara (Northern Solstice) atau Solstis Juni (June Solstice) adalah waktu ketika Matahari berada pada titik balik Matahari (Solstis) Utara.

Pada saat inilah Matahari berada pada posisi paling Utara terhadap khatulistiwa langit ketika tengah hari sebelum akhirnya berbalik ke arah selatan. Jika diamati oleh pengamat di permukaan bumi, maka matahari akan terbit, berkulminasi dan terbenam di titik paling Utara sesuai dengan lintang geografis pengamat masing-masing.

Selain itu, durasi siang di belahan utara bumi akan lebih lama dibandingkan dengan durasi malamnya. Bahkan untuk wilayah yang berada di Lingkar Kutub Utara (Arctic Circle, lebih besar dari 66,6 derajat Lintang Utara) akan mengalami Matahari Tengah Malam (Midnight Sun).

Sebaliknya terjadi di belahan Selatan Bumi yang mana durasi siangnya akan lebih pendek dibandingkan durasi malamnya. Bahkan untuk wilayah Antartika akan mengalami Malam Kutub (Polar Night), yang berarti tidak ada cahaya Matahari sama sekali pada hari itu.

“Solstis Utara, menjadi penanda awal musim panas di belahan Bumi Utara dan awal musim dingin di belahan Bumi Selatan secara astronomis. Berbeda dengan meteorologi yang menggunakan Solstis Utara sebagai pertengahan musim panas di belahan Utara Bumi dan pertengahan musim dingin di belahan Selatan Bumi. Solstis Utara tahun ini bertepatan pada tanggal 21 Juni 2020 pukul 04.43 WIB,” ujar Andi.

Menurut Andi, wilayah yang dilalui jalur GMC antara lain Kongo bagian Utara, Republik Demokratik Kongo bagian Barat Laut, Sudan Selatan, Ethiopia bagian Utara, Eritrea, Yaman, sebagian Arab Saudi bagian Timur, Oman, Pakistan bagian Selatan, India bagian Utara, Daerah Otonomi Tibet, Tiongkok bagian Selatan, Tiongkok Taipei (dan berakhir di Kepulauan Guam.

“Sedangkan untuk Indonesia, tidak semua wilayah di Indonesia terkena penumbra Bulan sehingga tidak semua wilayah mengalami GMS,” pungkasnya. [and/abe]


Baca berita Sumatra Barat terbaru hanya di Padangkita.com

Terpopuler