Ekonomi

Ekonomi Sumbar Triwulan I 2023 Tumbuh 4,80 Persen, PDRB Capai Rp76,27 Triliun

×

Ekonomi Sumbar Triwulan I 2023 Tumbuh 4,80 Persen, PDRB Capai Rp76,27 Triliun

Sebarkan artikel ini
Aktivitas bongkar muat dan ekspor empor di Pelabuhan Teluk Bayur, Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar). [Foto: Dok. PT IPC]

Padang, Padangkita.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatra Barat (Sumbar) mencatat, ekonomi Sumbar triwulan I 2023 terhadap triwulan I-2022 tumbuh sebesar 4,80 persen (y-on-y).

Menurut BPS, dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada lapangan usaha jasa lainnya sebesar 9,98 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi terjadi pada komponen pengeluaran konsumsi pemerintah, sebesar 7,97 persen.

Namun, jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (Oktober-Desember 2022), ekonomi Sumbar mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 0,69 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, lapangan usaha konstruksi mengalami kontraksi pertumbuhan terdalam sebesar 3,70 persen.

Sementara, dari sisi pengeluaran, kontraksi terdalam dicacat oleh komponen pengeluaran konsumsi pemerintah sebesar 39,83 persen.

Ketua Tim Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Sumbar, Hefinanur dalam laporannya yang dikutip Padangkita.com, Minggu (7/5/2023), mengungkapkan, perekonomian Sumbar triwulan I-2023 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp76,27 triliun, dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp46,66 triliun.

Ia menjelaskan, jika dibanding triwulan I-2022 (y-on-y), pertumbuhan terjadi hampir pada semua lapangan usaha, kecuali dua lapangan usaha yang mengalami kontraksi, yaitu lapangan usaha pertambangan dan penggalian terkontraksi sebesar 0,90 persen, kemudian pengadaan air terkontraksi 1,47 persen.

Lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan signifikan adalah jasa lainnya sebesar 9,98 persen, penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 9,70 persen, serta informasi dan komunikasi sebesar 7,96 persen. Sementara itu, lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan yang memiliki peran dominan juga mengalami pertumbuhan sebesar 4,85 persen.

Kemudian, struktur PDRB Sumbar menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku triwulan I 2023 tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok.

Perekonomian Sumbar masih didominasi oleh lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 20,97 persen. Diikuti oleh perdagangan besar-eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 16,63 persen.

Selanjutnya, transportasi dan pergudangan sebesar 11,22 persen, konstruksi sebesar 10,05 persen, dan industri pengolahan 8,41 persen.

“Peranan kelima lapangan usaha tersebut dalam perekonomian Sumbar mencapai 67,29 persen,” kata Hefinanur.

Jika dibanding triwulan IV-2022 (q-to-q), ekonomi Sumbar yang mengalami kontraksi terjadi pada enam lapangan usaha, yakni konstruksi sebesar 3,70 persen, pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 2,96 persen, dan industri pengolahan sebesar 2,69 persen.

Kemudian, administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib sebesar 1,67 persen, jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 0,99 persen, dan jasa pendidikan 0,80 persen.

Sedangkan lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan signifikan adalah jasa keuangan sebesar 5,09 persen, pengadaan air sebesar 4,79 persen, dan informasi dan komunikasi sebesar 3,79 persen.

Selanjutnya, lapangan usaha perdagangan besar-eceran, reparasi mobil dan sepeda motor yang memiliki peran dominan kedua juga mengalami pertumbuhan sebesar 0,04 persen.

Lebih jauh Hefinanur menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Sumbar didukung oleh seluruh komponen pengeluaran. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen pengeluaran konsumsi pemerintah (PK-P) sebesar 7,97 persen, dan komponen ekspor barang dan jasa sebesar 7,83 persen.

Kemudian, komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 7,08 persen, komponen pengeluaran konsumsi LNPRT (PK-LNPRT) sebesar 4,10 persen, dan komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga (PK-RT) sebesar 3,40 persen.

“Perlu digarisbawahi, meskipun komponen impor barang dan jasa tumbuh sebesar 9,55 persen, namun komponen ini merupakan faktor pengurang dalam PDRB menurut pengeluaran. Sehingga tidak dapat disebut sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi,” terang Hefinanur.

Sedangkan dibanding triwulan IV-2022 (q-to-q), kontraksi terjadi pada komponen PK-P yaitu sebesar 39,83 persen. Komponen lainnya mengalami pertumbuhan yang beragam.

Pertumbuhan terjadi pada komponen ekspor barang dan jasa sebesar 14,67 persen, diikuti komponen PK-LNPRT sebesar 3,44 persen, dan komponen PK-RT yang sebesar 1,01 persen, dan komponen PMTB sebesar 0,41 persen.

“Sementara itu, komponen impor barang dan jasa sebagai faktor pengurang dalam PDRB tumbuh sebesar 10,35 persen,” kata Hefinanur.

Struktur PDRB Sumbar menurut pengeluaran atas dasar harga berlaku triwulan I-2023 tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Perekonomian Sumbar masih didominasi oleh komponen PK-RT yang mencakup lebih dari separuh PDRB Sumbar yaitu sebesar 51,83 persen.

Diikuti oleh komponen PMTB sebesar 29,27 persen, komponen PK-P sebesar 6,89 persen, dan komponen PK-LNPRT sebesar 1,00 persen.

Baca juga: Gubernur Mahyeldi Jelaskan Transformasi Pembangunan Ekonomi Sumbar yang Dimulai Tahun Ini

Komponen ekspor barang dan jasa memiliki porsi sebesar 57,58 persen lebih dari PK-RT, dan Komponen Impor Barang dan Jasa sebagai faktor pengurang dalam PDRB memiliki peran sebesar 47,02 persen. [*/pkt]