Dosen UBH Bantu Masyarakat Pasie Nan Tigo Olah Ikan Jadi Berbagai Produk dan Limbah jadi Pupuk Organik

Penulis: Redaksi

Padang, Padangkita.com –  Banyak cara untuk membantu masyarakat. Seperti yang dilakukan oleh tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Universitas Bung Hatta (UBH) di Sentra Pengolahan Perikanan Pasia Nan Tigo (SP3N).

Limbah ikan yang sebelumnya dibuang, bisa diolah menjadi pupuk organik. Bagian-bagian ikan juga tidak bernilai, bisa dibuat menjadi tepung ikan dan berbagai macam produk lainnya.

Kegiatan pengabdian kemitraan masyarakat ini diinisiasi oleh Dr. Ir. Yusra., M.Si (dosen FPIK Universitas Bung Hatta); Dr. Maria Ulfah, ST., M.T (dosen Teknik Kimia Universitas Bung Hatta); dan Dessi Mufti, S.T., M.T (dosen Teknik Indutri Universitas Bung Hatta) melakukan inisiasi.

Mereka dibantu oleh Sindy Gemaeka Putri, Andika Saputra dan Richi Erlini, ketiganya merupakan alumni dari FPIK UBH.

SP3N telah didirikan semenjak tahun 2012 di Kelurahan Pasia Nan Tigo. Di sini terdapat unit pengolahan ikan yang dijadikan sentra pengolahan ikan di Kota Padang.

Pengolahan ikan yang dominan dilakukan di Unit Pengolah Ikan SP3N adalah pengolahan ikan teri dan masih bersifat tradisional.

Minimnya pengetahuan masyarakat tentang pengolahan produk perikanan membuat masyarakat hanya terfokus pada ikan. Pada saat ikan hasil tangkapan nelayan melimpah, terkadang ikan-ikan tersebut dibiarkan begitu saja.

Begitu juga abu atau sisa-sisa ikan kering yang patah, ditumpuk saja dalam karung di ruangan gudang sehingga ikan tersebut banyak yang dimakan oleh binatang pengerat, seandainya dijual pun harganya sangat murah.

“Kegiatan PKM ini dimulai dengan sosialiasi tentang limbah, limbah B3, peraturan tentang baku mutu air limbah pengolahan ikan, dampak dari limbah yang dibuang di sekitar tempat pengolahan perlunya proses pengolahan limbah, pentingnya penerapan konsep produk bersih (clean production), dan prinsip zero waste pada proses pengolahan ikan,” ungkap Yusra di laman bunghatta.ac.id, Senin (16/8/2021).

Selanjutnya, kata dia, dilakukan pelatihan tentang pembuatan pupuk organik cair (POC), pembuatan tepung ikan, petis dan mpek-mpek ikan.

“Kami juga melakukan pelatihan tentang bagaimana aplikasi POC pada tanaman sayur bayam dan cesim (sawi hijau), hingga pemanenan dan pengemasan dari sayur,” imbuhnya.

Menurut Yusra, banyak pengolah yang hanya ibu rumah tangga. Oleh karena itu, mereka mengajak ibu-ibu pengolah tersebut untuk lebih produktif dengan belajar mengolah ikan dengan konsep zero waste atau dengan memanfaatkan limbah ikan menjadi produk yang bernilai ekonomis.

Tim PKM menggunakan air limbah pencucian ikan yang biasanya dibuang menjadi pupuk organik cair dan diaplikasikan untuk tanaman sayur bayam dan cesim. Ikan yang kurang bernilai ekonomis penting diolah menjadi tepung ikan, petis ikan dan mpek-mpek ikan dengan melalui serangkaian proses tertentu.

Kegiatan PKM ini, lanjut Yusra, bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat pengolah bagaimana cara meminimalisasi limbah yang berasal dari SP3N. Selain itu, pupuk organik cair yang dihasilkan juga dapat digunakan untuk bercocok tanam ibu-ibu nelayan pengolah ikan dalam skala rumah tangga seperti menaman sayuran di pekarangan seperti bayam, cesim dan pakcoy sehingga dapat mengantisipasi penggunaan pestisida dan pupuk kimia.

Selain untuk dikonsumsi sendiri, tanaman sayur yang nantinya dihasilkan juga dapat dijual, yang diharapkan dapat meningkatkan ekonomi rumah tangga, terutama pada saat produksi ikan menurun. Selanjutnya, pembuatan tepung ikan juga bertujuan selain untuk meminimalisasi limbah organik padat juga tepung ikan bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi.

Menurut Yusra, biasanya, nelayan hanya menjual ikan kering yang patah dan abu ikan dengan harga Rp1.000/kg. Dengan diolah menjadi tepung ikan, tepung bisa dijual dengan harga Rp15.000/kg.

Air perebusan ikan yang biasanya dibuang begitu saja, bisa diolah menjadi petis ikan, sehingga nantinya dapat menjadi alternatif mata pencarian ibu-ibu yang diharapkan juga dapat meningkatkan ekonomi rumah tangga.

Kegiatan ini mendapat respons positif dari pengolah ikan, penyuluh perikanan dan Kepala UPT Sentra Pengolahan Perikanan Pasia Nan Tigo (SP3N). Respons dari pengolah dapat dilihat dari partisipasi dan keaktifan mereka dalam bertanya saat sosialisasi dan ketika proses pengolahan ikan berlangsung.

Selama kegiatan pengabdian kemitraan masyarakat itu, Yusra yang didampingi Maria Ulfah dan Dessi Mufri mengaku bahwa pengetahuan masyarakat tentang pengolahan limbah pengolahan ikan masih rendah.

Biasanya, air pencucian ikan dibuang saja ke parit-parit yang ada di sekitar SP3N, sehingga terkadang menimbulkan bau yang kurang sedap. Dari segi pengolahan air limbah, di kawasan SP3N belum tersedia sarana pengolahan air limbah sehingga sebagian air limbah dibuang melalui sarana saluran air hujan (drainase) yang mengalir langsung ke sungai atau laut.

Pemerintah sudah membuat sarana penampungan air limbah namun tidak memadai untuk menampung air limbah yang dihasilkan. Sebenarnya, jelas dia, dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 5 tahun 2014, sudah ada parameter dan batasan nilai dalam air limbah, juga secara umum mengatur tentang kewajiban setiap usaha/kegiatan dalam hal pemeliharaan lingkungan, termasuk kegiatan pengolahan ikan.

“Alhamdulillah dengan pelatihan serta penyuluhan diharapkan dapat memberi hasil yang berkualitas sehingga inovasi pengolahan limbah dapat dilakukan bersama-sama dengan pelaku usaha perikanan,” kata Yusra.

Penerapan prinsip zero waste pada perikanan adalah suatu usaha memanfaatkan dan menggunakan teknologi terintegrasi untuk mengurangi dampak negatif dari limbah. Beberapa manfaat dan keuntungan penerapan prinsip zero waste adalah: (1) meningkatkan produktivitas, (2) mengatasi pencemaran lingkungan, serta (3) meningkatkan pendapatan dan efisiensi.

Para dosen ini berharap pelatihan ini terus berkesinambungan, sebab, ini bagian dari realisasi salah satu dalam amanat Tri Dharma Perguruan Tinggi diinisiasi atas kerja sama antara Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Bung Hatta dengan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) 2020/2021.

Baca juga: Kerjasama dengan Pemko Pariaman, Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unand Bisa Praktek di RS Sadikin

“Kami para pengabdi sangat mengharapkan permasalahan terkait limbah pengolahan ikan teri di SP3N dapat dipecahkan. Kami berharap kawasan Pasia Nan Tigo dapat dijadikan sebagai pusat teri di Kota Padang dan Sumbar,” tuturnya. (*/pkt)

Terpopuler

Add New Playlist